PIKIRAN MUDA PENGARANG MUDA MENGENAI BUDAYA DALAM NOVEL PERJALANAN PENGANTEN

(Suatu Letupan Kecerdasan Quantum Seorang Ajip Rosidi)

Oleh: Vedia, M.Pd.

 

          Dalam dunia sastra Ajip Rosidi merupakan salah seorang yang kiprahnya tidak dapat diabaikan begitu saja. Bukan hanya karena ia memulai ”debutnya” dalam bersastra dari usianya yang masih sangat muda melainkan juga karena karya-karyanya yang begitu banyak, berkualitas dan dapat memperkaya khasanah sastra Indonesia.

Lahir di Jatiwangi, tanggal 31 Januari 1938. Ia merupakan sosok yang begitu mencintai tanah kelahirannya. Seperti halnya orang yang mencintai tanah kelahirannya ia akan berusaha membanggakan dan memperkenalkan apa dan bagaimana keadaan daerahnya, Ajip Rosidi pun demikian. Namun, berbeda dengan orang yang bukan pengarang yang hanya bisa bercerita secara lisan tentang kecintaannya pada tanah kelahiran, seorang pengarang dapat melukiskan kecintaannya pada tanah kelahirannya dengan menggunakan goresan tinta di atas kertas. Tidak heran pula bila ternyata bagi sebagian besar pengarang, tanah kelahiran merupakan objek yang menarik untuk dijadikan bahan cerita yang meliputi keindahan alam, seluk-beluk, hiruk-pikuk kehidupan daerah. Kecintaan Ajip Rosidi pada tanah kelahirannya  ditumpahkan salah satunya lewat novel ”Perjalanan Penganten”.

Seperti halnya NH. Dini dengan karyanya ”Pada Sebuah Kapal”  ada kemiripan antara apa yang dialami tokoh utama (Sri) dengan kehidupan pribadi pengarangnya. Dalam novel ini Ajip pun demikian ada kemiripan antara kehidupan tokoh utama dengan kehidupan nyata Ajip sebagai seorang pengarang. Dalam novel ”Perjalanan Penganten” Ajip mengisahkan tokoh aku adalah seorang pengarang yang menikah pada usia muda hal ini pun mirip dengan kisah kehidupannya sendiri yang menikah dalam usia muda.

Pada saat perkawinan itu tokoh aku merasa ”geli” sendiri melihat diri dan calon istrinya menggunakan pakaian penganten. Kegelian itu timbul karena tokoh aku merasa aneh dan tidak terbiasa dengan dandanan penganten.

Ketika lewat di depan lemari kaca tiba-tiba aku tertawa melihat rupaku yang sangat menggelikan. Seperti yang lagi main sandiwara. (hlm.15)

 

Kisah selanjutnya adalah kisah hidup pasangan penganten yang penuh liku-liku dan dikelilingi oleh adat istiadat daerah. Mulai dari acara injak telur pada saat pesta perkawinan, acara tujuh bulanan (babarit), cukur rambut bayi saat berusia 40 hari, acara injak bumi (mudun lemah) sampai adat yang bercampur dengan ajaran agama yaitu acara shalawatan dan tahlilan saat nenek aku (tokoh utama) meninggal dunia.

*****

            Selain hal yang berbau adat kebudayaan Sunda seperti tersebut di atas, novel ini juga menceritakan tentang kepatuhan seorang anak kepada orang tua serta merosotnya nilai moral seseorang lantaran cara memohon pada Tuhan dan aplikasi ajaran agama yang tidak tepat. Kepatuhan seorang anak dapat terlihat pada:

Sebagai anak yang sulung, aku berkewajiban menanyakan segala kesulitan yang menimoanya, segala kesusahan yang meringkusnya, meski sudah bisa aku bayankan aku sendiri tidak bisa menolongnya. (hlm.29)

Sedangkan merosotnya nilai moral seseorang lantaran tidak sepenuhnya menjalankan ajaran agama secara benar dapat terlihat pada:

Selama sekian tahun memegang pembukuan koperasi, ternyata aku tidak mengerjakannya dengan baik lagi, terutama tahun-tahun terakhir ini. Rupanya banyak kesalahanku kulakukan dan baru sekarang terkontrol. Tetapi uang itu bukan aku sendiri yang pakai, ada pula orang-orang lain yang meminjamnya dari koperasi dan bonnya pun ada, tetapi kumasukkan dalam buku pengeluaran. (hlm. 30)

           

Tokoh aku adalah sosok pengarang muda dengan pikiran yang masih muda pula. Pikiran yang masih muda di sini maksudnya adalah bahwa pemikiran yang dihasilkan tokoh aku belum berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang memadai yang disebabkan memang usianya masih muda.  Keadaan seperti inilah yang menyebabkan tokoh aku yang bekerja sebagai pengarang hidupnya santai dan berpikir secara pragmatis. Pola pikir yang sangat sederhana ini terlihat dari awal cerita ketika ia tanpa berpikir panjang memutuskan menikah pada usianya yang belum genap 18 tahun. Sampai teman-temannya pun terheran-heran atas keputusan tersebut seperti yang terdapat pada cuplikan berikut :

Mereka rata-rata tidak percaya bahwa aku bisa menjadi suami apalagi  ayah yang baik. (hlm.14)

Selain itu tokoh aku selalu mengikuti kegiatan adat di daerahnya hanya berlandaskan kepatuhan kepada orang tua saja. Ia belum cukup matang untuk menyatakan pendiriannya mengenai upacara-upacara adat tersebut. Sehingga yang ia lakukan hanyalah mengadakan sedikit penyimpangan yang akhirnya justru menimbulkan kejenakaan yang membuat cerita ini semakin menarik. Perhatikan cuplikannya :

Buyung itu harus kubawa lari ke suatu perempatan jalan dan di sana  harus  kulemparkan hingga pecah. Dan perempatan itu haruslah ramai, yang cukup jauh dari rumah…lantaran aku enggan anakku jadi perantau dan lagi upacara ini aku lakukan hanya untuk menyenangkan hati ibu semata, buyung itu kubanting di alun-alun balai desa rumah kami, tempat bersilang jalan kecil menuju keempat juru. (hlm.40).

*****

Ketidakmatangan cara berpikir tokoh aku kadang membuat ia menjadi tokoh yang tidak rasional. Ketidakrasionalan ini terlihat pada saat ia memutuskan untuk berhenti bekerja di Jakarta dan pulang kampung dengan hanya mengandalkan pekerjaan sebagai pengarang yang penghasilannya tidak menentu. Tokoh aku tidak memikirkan (atau pikirannya yang masih muda itu belum sampai) bagaimana ia dapat menghidupi anak dan istrinya kelak. Hal ini tergambar melalui cuplikan berikut:

Agak tersandung karena harus mengambil keputusan secara tiba-tiba  dengan tiba-tiba dengan cepat aku menjawab

”bulan depanlah.”

’Nah, jadi tanggal satu bulan depan Saudara sudah tidak bekerja lagi…..(hlm.49)

Bahkan ketidakmatangan tokoh aku juga terlihat ketika memutuskan untuk kembali lagi ke Jakarta dengan tidak didasari oleh pemikiran yang mendalam melainkan karena desakan istrinya yang malu kalau harus terus menerus hidup dari mertua.

*****

            Di balik ketidakrasionalan tokoh aku sebenarnya justru terlihat bagaimana Ajip Rosidi dapat berpikir secara rasional dan cemerlang dalam menuangkan ide-ide/pandangan-pandangannya mengenai kehidupan yang berkebudayaan. Kecerdasan Ajip begitu terasa lewat percakapan batin tokoh aku ketika berhadapan dengan masalah agama dan masalah sosial.

Menjelang hari lebaran, orang-orang datang ke rumahnya dari tempat-tempat yang jauh untuk memberikan zakat fitrah. Dan seminggu-dua setelah lebaran, disuruhnya tengkulak beras langganannya, orang tua sahabatku mengangkut sebagian beras fitrah itu. Kiai itu menjualnya karena tidak memerlukan beras sebanyak itu. (hlm.36)

Yang tidak kalah penting untuk menjadi catatan kita adalah kehidupan sebagian besar masyarakat marginal yang terletak antara tanah Sunda dan Jawa., Ajip Rosidi secara halus namun tidak ragu-ragu menggambarkan situasi kehidupan masyarakat di daerahnya. Masyarakat yang berbahasa setengah Sunda setengah Jawa (Jawareh) dengan kebiasaan hidup yang berpedoman kepada agama secara tidak sepenuhnya dipahami. Mereka tidak terbiasa menjalani hidup beragama yang sesungguhnya, sehingga tidak puasa dan tidak solat asalkan disunnat serta kebiasaan kawin-cerai bukanlah suatu  hal yang harus dipermasalahkan. Sebenarnya dari sini dapat kita lihat kecerdasan spiritual Ajip Rosidi.

Kecerdasan spiritual itu tentunya bisa ia dapatkan berdasarkan pengetahuan yang mau tidak mau terkait dengan kemampuan atau kecerdasan intelektual yang ia miliki. Dan memang Budi Darma (seperti yang dikutip oleh Maman S. Mahayana) pernah menyatakan ”Sastrawan Balai Puataka, Pujangga Baru dan Angkatan ’45 … tidak lain adalah cendikiawan muda yang benar-benar haus ilmu” (Horison, XXXII/5/1999, hlm.12). Maman sendiri berpendapat bahwa ”Tradisi bersastra dalam kehidupan masyarakat di Nusantara ini awalnya lahir dan berkembang di lingkungan kaum elite” (hlm.31). Elite di sini bukan hanya sekedar elite dalam artian berkemampuan secara finansial saja melainkan juga elite dalam cara berpikirnya.

Pada kenyataannya memang seorang Ajip Rosidi yang sederhana dengan kecerdasannya dapat membuktikan kemampuan dirinya yang luar biasa. Hal ini terlihat jelas betapa ia mampu mengembangkan imajinasinya yang bercabang-cabang liar menjadi tulisan yang berbahasa sederhana namun apik dan menarik untuk dibaca.

*****

Namun, kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual yang dimiliki Ajip Rosidi belum tentu akan dapat menghadirkan cerita yang menarik seperti yang terdapat dalam novel ”Perjalanan Penganten” bila bukan karena kecerdasan lainnya yang dimiliki Ajip Rosidi. Kemampuan Ajip Rosidi dalam meredam emosi menghadirkan suguhan kritikan terhadap hal-hal yang tidak rasional menjadi suguhan yang tidak menyinggung perasaan malah sebaliknya menimbulkan kejenakaan.

Di ambang pintu aku berhenti untuk menginjak sebutuir telur ayam dan kakiku yang berlumuran telur itu dicuci oleh isteriku yang berjongkok di depanku dengan air dari kendi. Melihat telur itu aku merasa sayang. Alangkah aku suka telur. Kuperhatikan kuning telur menempel di sela-sela jari kakiku.(hlm.17)

Dari cuplikan di atas tergambar kecerdasan emosi Ajip. Dalam cuplikan tersebut seolah Ajip ingin mengatakan bahwa sebenarnya acara injak telur itu kurang baik karena mubajir, sebutir telur seharusnya untuk dimakan bukan untuk diinjak. Namun, Ajip tidak berkata demikian ia tampilkan pendapatnya dalam novel itu dalam bentuk kejenakaan. Secara jelas Steven J. Stein dan Howard E. Book dalam sebuah buku yang terjemahannya berjudul ”Ledakan Emosi” menyatakan:

Secerdas apapun kita, jika kita membuat kesal orang lain dengan perilaku kasar, tidak tahu cara membawa diri, atau ambruk hanya karena stres sedikit saja, tak seorang pun akan betah berada di sekitar kita sehingga mereka tak akan pernah tahu setinggi apa IQ kita.(hlm.21)

Sementara itu Agus Nggermanto dalam bukunya ”Quantum Quotient” memberikan sekelumit kisah dua tim yang berbeda yaitu tim yang mengandalkan kompetensi Roni yang memang memiliki IQ tinggi dengan tim yang membiasakan untuk bekerja sama dalam tim.  Pada akhirnya hanya tim yang dapat bekerja samalah yang sukses (hlm. 97). Ini merupakan kisah yang dapat menjadi contoh bagaimana kecerdasan emosional telah membuat salah satu tim sukses secara brilian sementara yang satunya lagi gagal karena hanya mengandalkan IQ.

Akhirnya harus kita akui ”Kecerdasan Emosi” yang memadai dalam diri Ajip Rosidi mampu menghadirkan ketenangan yang tercermin pada penggunaan bahasa yang sederhana dan gaya bercerita yang bagaikan air mengalir penuh kesejukan. Tidak berlebihan pula bila dikatakan kesederhanaan ini ternyata mampu melahirkan suatu hal yang luar biasa yang mengisahkan hidup dan kehidupan manusia mulai dari kelahiran sampai kematian seperti yang tertuang dalam novel ”Perjalanan Penganten”.

Kecerdasan yang yang dimiliki Ajip bukan mustahil telah ia dapatkan bahkan jauh sebelum orang mengenal apa itu ”Learning Revolution” dan ”Quantum Learning”. Novel ”Perjalanan Penganten” merupakan salah satu contoh bagaimana seorang Ajip mampu menghadirkan karya sastra yang memungkinkan pendekatan multidisipliner. Pendekatan multidisipliner dapat kita temukan dalam novel ini karena novel ”Perjalanan Penganten” sarat dengan nilai-nilai budaya ini berarti novel ini dapat dilihat dari sisi kebudayaannya (antropologi), kehidupan masyarakatnya (sosiologi), dan kejiwaan pengarang itu sendiri (psikologi). Dan memang antara antropologi, sosiologi, dan psikologi dalam kajian sastra sulit dipisahkan (Ratna, 2004). Pada akhirnya kita dapat berharap perkembangan sastra Indonesia akan lebih maju dan  lebih kaya karena Ajip telah mulai jauh sebelum komputer dengan internetnya berkembang dengan pesat.

*****

Pustaka Rujukan

 

DePorter, Bobi & Mike Hernacki.1999. Quantum Learning-Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan Ed. Terjemahan. Bandung : Kaifa.

Dryden, Gordon & Jeannette Vos. 2000. Learning Revolution- Bag. I Keajaiban Pikiran Ed. Terjemahan. Bandung: Kaifa.

_________ 2000. Learning Revolution-Bag.II Sekolah Masa Depan Ed. Terjemahan. Bandung: Kaifa.

J. Stein, Steven & Howard E. Book. 2002. Ledakan EQ 15 Prinsip Kecerdasan Emosional Meraih Sukses Ed. Terjemahan. Bandung: Kaifa.

Mahayana, Maman S. 2005. Jawaban Sastra Indonesia Sebuah Orientasi Kritik. Jakarta: Bening.

Nggermanto, Agus. 2002. Quantum Quotient-Kecerdasan Quantum. Bandung: Nuansa.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rosidi, Ajip. 2004. Perjalanan Penganten. Jakarta: Pustaka Jaya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: