PENGGUNAAN MEDIA TABEL RELASI KONJUNGSI DENGAN METODE 7 P EFEKTIF MENINGKATKAN KEBERHASILAN BELAJAR MENULIS SISWA KELAS XII SMA NEGERI 5 TANGERANG

Suatu Penelitian Tindakan Kelas dalam

Pemelajaran Konjungsi, kalimat Majemuk, dan

Paragraf -Secara Terintegrasi- di Kelas         

XII SMA Negeri 5 Tangerang

oleh

VEDIA, M.Pd.

ABSTRAK

Vedia, S.Pd. : Penggunaan Media Tabel Relasi Konjungsi dengan Metode 7 P Efektif Meningkatkan Keberhasilan Belajar Menulis Siswa Kelas XII SMA Negeri 5 Tangerang  (Suatu Penelitian Tindakan Kelas dalam  Pemelajaran  Konjungsi, Kalimat Majemuk, dan Paragraf -Secara Terintegrasi-  d i Kelas  XII  SMA  Negeri   5 Tangerang)

Penyusunan karya tulis ini bertujuan untuk menciptakan pemelajaran menulis yang efektif dan menyenangkan, khususnya pemelajaran mengenai konjungsi, kalimat majemuk dan pengembangan paragraf. Pada penelitian ini antara pemelajaran konjungsi, kalimat majemuk, dan pola pengembangan paragraf diintegrasikan dalam suatu tabel yang diberi nama “Tabel Relasi Konjungsi”.

Karya tulis ini dibuat karena didorong oleh adanya kenyataan bahwa seorang guru seringkali mengalami kesulitan untuk memberikan pengertian kepada siswanya yang terlanjur pula berada dalam kesulitan pada pemelajaran menulis. Kesulitan siswa terletak pada kesulitan memahami keterhubungan antara konjungsi yang digunakan dalam kalimat dengan pembentukan kalimat majemuk dan pengembangan paragraf.  Padahal kunci pemelajaran kalimat majemuk dan pengembangan paragraf (pola perbandingan, pertentangan, sebab-akibat, akibat sebab) adalah konjungsi yang digunakan.

Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa penggunaan media Tabel Relasi Konjungsi dengan metode seven P (7-P) ini, pemelajaran menulis menjadi sangat menarik, menyenangkan, dan efektif. Dengan cara ini siswa menjadi lebih mudah memahami dan mampu membuat kalimat majemuk dan mengembangkan paragraf.

Melalui penelitian tindakan kelas ini penulis berharap dapat menghasilkan sebuah karya tulis yang bermanfaat bagi guru atau calon guru, guna meningkatkan pemelajaran bahasa Indonesia, khususnya keterampilan menulis.

KATA PENGANTAR

Hal yang patut terucap bagi terciptanya karya tulis ini adalah rasa syukur penulis kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayahNya karya tulis yang berjudul Penggunaan Media Tabel Relasi Konjungsi dengan Metode 7 P Efektif Meningkatkan Keberhasilan Belajar Menulis Siswa Kelas XII SMA Negeri 5 Tangerang  (Suatu Penelitian Tindakan Kelas dalam  Pemelajaran Konjungsi, Kalimat Majemuk, dan Paragraf -Secara Terintegrasi- di Kelas  XII SMA Negeri 5 Tangerang) ini dapat diselesaikan dengan baik.

Penyusunan karya tulis ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa mengenai penggunaan konjungsi dalam kalimat dan keterhubungan antara konjungsi dengan pembentukan kalimat majemuk dan pengembangan paragraf (pola perbandingan, pertentangan, sebab-akibat, akibat-sebab).

Dalam penyusunannya, penulis banyak mengalami kesulitan dan hambatan, tetapi berkat bimbingan dan dukungan dari pihak-pihak yang telah berbaik hati karya tulis ini dapat selesai. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1.  Entis Sutisna, S.Pd. teman sekaligus suami tercinta yang sabar memberikan   bimbingan dan dukungan dalam penyusunan karya tulis ini

2.  Ibu Lilik Istifa, M.Si. selaku kepala SMAN 5 Tangerang beserta rekan-rekan guru, yang telah memberikan dukungan bagi terselesainya karya tulis ini.

Karya tulis ini telah disusun dengan usaha yang semaksimal mungkin, namun begitu, kritik serta saran yang membangun tetap penulis harapkan demi perbaikan di lain kesempatan.

Akhirnya, besar harapan penulis karya ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, terutama guru maupun calon guru bahasa Indonesia yangpeduli akan peningkatan hasil belajar siswa.

DAFTAR ISI

TANDA PERSETUJUAN KARYA ILMIAH  ……………………………………………  i

ABSTRAK ………………………………………………………………………………………  ii

KATA PENGANTAR  ………………………………………………………………………..  iii

DAFTAR ISI  ……………………………………………………………………………………  v

DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………………………… vii

DAFTAR TABEL ………………………………………………………………………………  viii

DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………………………..  ix

BAB     I        PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang  ……………………………………………… 1
  2. Sasaran  Tindakan  ……………….………………………………  3
  3. Rumusan Masalah ………. …………………………………   3
  4. Tujuan Penelitian…………………………………………….  4
  5. Manfaat Penelitian …………………………………………..  4

BAB     II      KAJIAN TEORETIS

  1. Media  ……………. …………………………………………. 5
  2. Menulis ……… ………………………………………………….. 5
  3. Konjungsi ………………………………………….……….. 6
  4. Jenis Konjungsi ………………………………………………. 6
  5. Kalimat Majemuk ………………………………………………………… 7
  6. Jenis Kalimat Majemuk ………………………………………………… 8
  7. Pola Pengembangan Paragraf ………………………………………… 8
  8. Tabel Relasi Konjungsi …………………………………………………. 9
  9. Metode 7 P ………………………………………………………………….. 10

BAB    III      METODOLOGI PENELITIAN

A.   Setting Penelitian……………………………………………….. 11

  1.  Sasaran Penelitian ………………………………………………. 11
  2. Prosedur Penelitian ………………………………………………………… 11
  3.  Rencana Tindakan…………………………………………… 13
  4.  Data ……………………………………………………………………………. 16
  5.  Pengamatan …………………………………………………………………. 16
  6.  Analisis Data dan Refleksi  ……………………………………………. 17

BAB     IV      PELAKSANAAN PENELITIAN

  1. Deskripsi Setting Penelitian  …………………………………………..  18
  2. Pelaksanaan ……………………………………………………………. …..  19
  3. Analisis Data ………………………………………………………………..  22
  4. Hasil Penelitian …………………………………………………………….  22

BAB     V       SIMPULAN DAN SARAN

  1. Simpulan  ………………………………………………….  23
  2. Saran  ……………………………………………………….23

DAFTAR PUSTAKA  …………………………………………………………..

 


BAB  I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Bahasa memiliki peran yang sangat dominan dalam kehidupan manusia, bahkan sejak dimulainya kehidupan manusia itu sendiri. Dahulu orang mengatakan proses keterampilan berbahasa pertama yaitu menyimak dilakukan pada masa bayi (pasca kelahiran), namun sekarang tidak demikian, bayi yang masih ada di dalam kandungan (janin) pun bisa menyimak. Hal ini dapat dibuktikan ketika si bayi diberikan stimulus berupa musik/suara ia akan memberikan reaksi berupa gerakan menendang atau menggeliat dalam perut ibu.

Empat keterampilan berbahasa yang dimulai dari proses menyimak kemudian berbicara, membaca, dan akhirnya menulis mempunyai hubungan saling terkait yang sangat erat. Seseorang yang pintar secara akademis namun tidak dapat berbicara, kepintarannya akan sulit diketahui oleh orang lain, ia akan mengalami kesulitan dalam menyampaikan ide-idenya. Orang yang pandai berbicara, namun malas melakukan proses mendengar (lewat diskusi, seminar atau  mendengar siaran berita) dan membaca, ia akan berbicara dengan isi pembicaraan yang tidak berbobot, karena pengetahuannya yang dangkal. Orang seperti ini cocok dengan pribahasa tong kosong nyaring bunyinya. Orang yang pintar berbicara dengan pengetahuan yang luas, karena rajin mendengar dan membaca kepintarannya itupun tidak akan berarti dalam ruang lingkup yang lebih besar bila ia tidak pandai menuangkan ide-idenya dalam bentuk tulisan.

Keterampilan menulis sebagai keterampilan yang paling akhir  dalam proses keterampilan berbahasa dan memiliki tingkat kesulitan yang paling tinggi menjadikan keterampilan menulis menuntut untuk dilatih secara terus-menerus. Selain itu untuk menjadikan seseorang mampu menulis banyak aspek yang perlu dipelajari salah satunya adalah pelajaran mengenai penggunaan konjungsi atau kata penghubung.

Konjungsi mempunyai fungsi untuk memnghubungkan kata dengan kata, kata dengan kalimat, kalimat dengan kalimat. Karena fungsinya yang sangat produktif dalam pembentukkan kalimat, maka peranan konjungsi menjadi sangat penting bahkan bisa dikatakan sebagai kunci dalam mempelajari pelajaran lainnya terutama pelajaran kalimat majemuk dan pola pengembangan paragraf.

Seringkali penulis melihat kesulitan siswa dalam mengenali dan membuat kalimat majemuk serta  mengenali dan membuat pola pengembangan paragraf. Padahal kedua pelajaran tersebut mempunyai kata kunci yaitu penggunaan konjungsi, hal inilah yang mendorong penulis untuk menciptakan suatu cara yang lebih mudah dipelajari siswa dalam pemelajaran kalimat majemuk dan pola pengembangan paragraf.

Diharapkan penggunaan media Tabel Relasi Konjung dengan metode 7 P mampu menciptakan pemelajaran yang efektif dan menyenangkan. Pemelajaran yang menarik dan menyenangkan merupakan hal yang sangat penting dan merupakan prinsip keberhasilan belajar (Dryden & Vos, 2000)

B.     Sasaran Tindakan

Sasaran dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA SMA Negeri 5 Tangerang.

C.    Rumusan Masalah

  1. Apakah siswa dapat memahami dengan baik keterhubungan konjungsi dengan kalimat majemuk  dan paragraf setelah mengikuti pemelajaran dengan menggunakan media Tabel Relasi Konjungsi?
  2. Apakah siswa dapat memahami dengan baik keterhubungan konjungsi dengan kalimat majemuk dan paragraf setelah mengikuti pemelajaran dengan menggunakan metode 7 P?
  3. Apakah penggunaan media Tabel Relasi Konjung dengan metode 7 P dapat memudahkan siswa dalam menulis kalimat majemuk dan paragraf?
  4. Bagaimanakah persepsi dan kesan siswa terhadap pemelajaran yang menggunakan media Tabel Relasi Konjungsi ?
  5. Bagaimanakah persepsi dan kesan siswa terhadap pembelajaran yang menggunakan Metode 7 P?

      D.    Tujuan Penelitian

  1. Ingin mengetahui seberapa tinggi hasil pemahaman siswa terhadap keterhubungan konjungsi dengan kalimat majemuk dan paragraf dengan menggunakan Tabel Relasi Konjungsi.
  2. Ingin mengetahui seberapa besar kemudahan yang diperoleh siswa dalam menulis kalimat majemuk dan paragraf dengan menggunakan metode 7 P.
  3. Ingin mengumpulkan persepsi dan kesan siswa tentang pelaksanaan pemelajaran dengan media Tabel Relasi Konjungsi.
  4. Ingin mengumpulkan persepsi dan kesan siswa tentang pelaksanaan pemelajaran dengan menggunakan metode 7 P.

E.     Manfaat Penelitian

Melalui pemelajaran dengan menggunakan media Tabel Relasi Konjungsi dengan metode 7 P diharapkan:

  1. Tercipta suasana pemelajaran menulis yang menyenangkan siswa.
  2. Tumbuh semangat siswa dalam belajar menulis.
  3. Meningkatnya siswa menulis siswa.
  4. Menumbuhkan rasa senang terhadap kegiatan menulis.
  5. Menumbuhkan rasa ingin menciptakan tulisan yang baik.

BAB  II

KAJIAN TEORETIS

Agar lebih terarah penulisan karya ilmiah ini, maka diperlukan pedoman yang berupa kajian-kajian teori yang berkaitan dengan penelitian ini.

  1. Media

Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari ”medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar (Depdiknas, 2003). Media merupakan suatu hal yang diperlukan dalam tindak komunikasi. Proses belajar mengajar di dalam kelas pada hakekatnya juga merupakan tindakan komunikasi sehingga dalam pembelajaran juga memerlukan media. Media yang digunakan dalam pembelajaran disebut denagn media pembelajaran.

Kemp, dkk (1985), media pemelajaran memiliki kontribusi (Nurani, dkk, 2003), sebagai berikut:

  1. Penyajian materi ajar menjadi lebih standar.
  2. Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.
  3. Kegiatan belajar menjadi lebih interaktif
  4. Waktu yang dibutuhkan untuk pembelajaran dapat dikurangi.
  5. Kualitas belajar dapat ditingkatkan.
  6. Pembelajaran dapat disajikan di mana dan kapan saja sesuai dengan yang diinginkan.
  7. Meningkatkan sikap positif peserta didik dan proses belajar menjadi lebih baik.
  8. Memberikan nilai positif bagi pengajar.

 

  1. Menulis

Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan pada keterampilan menulis dibutuhkan ketarampilan merangkai ide, mengolah kata dan kalimat sehingga menjadi sebuah tulisan yang bermakna. Banyak orang yang memiliki ide namun pada kenyataannya mereka sulit menuangkannya dalam bentuk tulisan. Henry Guntur Tarigan bahkan menegaskan bahwa menulis merupakan keterampilan berbahasa yang digunakan secara tidak langsung, bersifat produktif dan ekspresif. Dalam keterampilan menulis diperlukan ketrampilan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata (Tarigan, 1986).

 

  1. Konjungsi

Dalam berbahasa Indonesia penggunaan konjungsi sangat produktif, sehingga pemelajaran mengenai konjungsi ini perlu mendapatkan perhatian yang lebih. Kata konjungsi itu sendiri berasal dari kata conjunction (bahasa Inggris) yang berarti kata penghubung/ perangkai/ sambung (Echol, 1994). Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia  konjungsi memiliki arti;  partikel yang digunakan untuk menggabungkan kata dengan kata, frase dengan frase, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat, atau paragraf dengan paragraf (KBBI,2004).

         4.  Jenis Konjungsi

              Jenis, makna, fungsi atau sifat kongjungsi menurut Gorys Keraf (1980) adalah sebagai berikut :

  1. menyatakan gabungan: dan, lagi, lagi pula, serta,
  2. menyatakan pertentangan: tetapi, akan tetapi, melainkan,
  3. menyatakan waktu: apabila, ketika, bila, bilamana, demi,
  4. menyatakan tujuan: supaya, agar,
  5. menyatakan sebab: sebab, karena,
  6. menyatakan akibat: sehinggga, samapi,
  7. menyatakan syarat: jika, andai, andaikata,
  8. menyatakan pilihan: atau
  9. menyatakan bandingan: seperti, bagai,
  10. menyatakan tingkat: semakin… semakin…,
  11. menyatakan perlawanan: meskipun, biarpun,
  12. pengantar kalimat  maka, adapun,
  13. menyatakan penjelas: yakni, ialah,
  14. sebagai penetap sesuatu: bahwa.

Sementara itu dalam buku Tata bahasa baku Anton M. Moeliono membagi dua bagian besar jenis konjungsi yaitu koordinatif dan subordinatif (Depdikbud, 1992). Kata penghubung yang termasuk kata penghubung koordinatif yaitu kata penghubung penjumlahan, pertentangan, dan pemilihan, sedangkan yang lainnya adalah kata penghubung subordinatif.

  1. Kalimat Majemuk

Kalimat majemuk adalah kalimat yang mengandung  dua pola kalimat atau lebih  (Keraf,1980). Dari pengertian ini jelaslah bahwa kalimat majemuk adalah  gabungan antara dua atau lebih kalimat tunggal. Hal ini juga menunjukkan bahwa dalam kalimat majemuk terdapat dua atau lebih unsure-unsur pola kalimat.

Untuk menggabungkan dua atau lebih kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk diperlukan tanda koma (,) dan atau konjungsi. Konjungsi yang digunakan dalam kalimat majemuk inilah yang nantinya menentukan jenis kalimat majemuk tersebut.


  1. Jenis Kalimat Majemuk

Dalam buku Tata Bahasa (Keraf,1980) jenis kalimat majemuk terbagi menjadi tiga bagian yaitu :

  1. Kalimat majemuk setara yang ditandai oleh penggunaan konjungsi koordinatif.
  2. Kalimat majemuk bertingkat yang ditandai oleh penggunaan konjungsi subordinatif.
  3. Kalimat majemuk campuran yang merupakan perpaduan penggunaan konjungsi koordinatif dan subordinatif.

 

  1. Pola Pengembangan Paragraf

Seperti telah diketahui tujuan akhir pemelajaran bahasa Indonesia  salah satunya adalah menjadikan anak terampil dalam menulis. Mulai dari menulis kalimat, kemudian paragraf, selanjutnya menjadi karangan utuh. Adapun yang akan menjadi penelitian pada  karya tulis ini adalah penulisan paragraf.

Ada beberapa pola pengembangan paragraf yaitu; klimaks dan anti klimaks, perbandingan dan pertentangan, analogi, contoh, proses, sebab-akibat, umum-khusus, klasifikasi, definisi luas (Keraf, 1989). Adapun pengembangan pola paragraf yang pada penelitian ini adalah pola pengembangan paragraf yang berkaitan erat dengan penggunaan konjungsi yaitu, pola pengembangan perbandingan dan pertentangan serta pola sebab-akibat atau akibat sebab.

 

 

  1. Tabel Relasi Konjungsi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tabel merupakan daftar yang berisi ihktisar sejumlah (besar) data informasi yang biasanya berupa kata-kata dan bilangan yang tersusun secara bersistem urut ke bawah dalam lajur dan deret tertentu dengan garis pembatas sehingga dengan mudah disimak. Sementara kata relasi memiliki makna hubungan, perhubungan, pertalian. (KBBI, 2004). Jadi yang dimaksud penulis dengan Tabel Relasi Konjungsi adalah suatu hubungan yang terdapat antara konjungsi dengan kalimat majemuk dan  paragraf. Dengan tabel ini penulis berharap pemelajaran konjungsi, kalimat majemuk, dan paragraf menjadi bersistem dan lebih memudahkan siswa untuk memahaminya. Adapun Tabel Relasi Konjungsi dapat dilihat pada halaman 10.

  1. Metode 7P

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan); cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan (KBBI, 2004). Metode 7P yang dimaksud penulis dalam penelitian ini adalah suatu cara yang tersusun dan terencana yang meliputi tujuh P, yaitu perhatian, pencarian, penemuan, pertanyaan, pengimplementasian, penyimpulan dan penugasan. Dengan metode 7P diharapkan kegiatan pemelajaran dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

BAB  III

METODOLOGI PENELITIAN

 

A.    Setting Penelitian

Setting penelitian ini adalah kelas XII  SMA Negeri 5 Tangerang yang beralamat di jalan Ciujung Raya No. 3 Perumnas I Tangerang.

 

B.     Sasaran penelitian

Dari tindakan yang dilakukan yaitu penggunaan media Tabel Relasi Konjung dengan Metode 7 P diharapkan siswa menjalani proses pemelajaran dengan senang sehingga tingkat pemahaman dan kemampuan menulis siswa menjadi tinggi. Dengan demikian, diharapkan pula siswa menjadi suka membuat suatu tulisan.

C.    Prosedur Penelitian

Pada penelitian ini penulis mengacu pada penelitian tindakan kelas yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc. Taggard. Secara umum penelitian tindakan kelas menurut Kemmis dan Mc. Taggard adalah meliputi beberapa tahapan, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. (Suhardjono,2006)

Dalam penelitian ini penulis juga melakukan empat tahapan seperti yang dikemukakan di atas bahkan demi mendapatkan hasil yang diharapkan penulis juga melakukan penelitian ulang yang meliputi rencana ulang, pelaksanaan ulang, pengamatan ulang, dan refleksi ulang. Secara lebih jelasnya prosedur penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 1 :  Rangkaian Penelitian Tindakan Kelas Diadaptasi dari pendapat Kemmis dan Mc. Taggard

D.    Analisis Data dan Refleksi

Analisis Data

Setelah siswa menyelesaikan tugasnya selama pemelajaran, maka hasil belajar siswa dianalisis sebagai data penelitian.

Refleksi

Dari Hopkin, 1993 diketahui refleksi dalam penelitian tindakan kelas mencakup analisis, sintesis penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi (Sumardjono, 2006).

E. Data

Data berupa hasil belajar siswa, contoh hasil belajar siswa terlampir.

F. Pengamatan

Pengamatan dilakukan pada saat berlangsungnya pelaksanaan penelitian yaitu pada proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini juga berarti bahwa pengamatan terjadi pada saat tindakan sedang berjalan.

BAB IV

PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Deskripsi Setting Penelitian                                

Penelitian ini dilakukan di ruang kelas XII IPA SMA Negeri 5 Tangerang. Semula penelitian ini dilakukan hanya di kelas XII IPA 1. Rasa penasaran yang timbul setelah melakukan refleksi dan rasa ingin berbagi pada teman sejawat membawa penulis pada penelitian ulang di kelas lain yaitu kelas XII IPA 2 sampai XII IPA 4. Pada penelitian kedua penulis meminta teman sejawat bertindak sebagai kolaborator.

Pada pemelajaran sebelumnya guru/peneliti mengadakan pemelajaran secara terpisah antara konjungsi, kalimat majemuk, dan paragraf dengan metode ceramah, tanya jawab. Tiap kali memulai satu materi pelajaran siswa terlihat kesulitan memahami materi pelajaran sehingga guru terpaksa mengulang lagi menerangkan dari awal. Padahal seharusnya bila siswa sudah memeroleh pemelajaran konjungsi ia akan lebih mudah memelajari kalimat majemuk dan paragraf, Namun kenyataannya tidak demikian, tiap kali memulai materi kalimat majemuk dan paragraf guru harus kembali menerangkan mengenai penggunaan konjungsi.

Sehingga akhirnya guru mencoba mengintegrasikan pemelajaran konjungsi, kalimat majemuk dan paragraf melalui tabel yang dinamakan Tabel Relasi Konjungsi. Dengan tabel ini hubungan antara konjungsi, kalimat majemuk, dan paragraf terbentang jadi satu sehingga diharapkan siswa lebih mudah memahami dan mengingatnya. Adapun metode 7 P dipilih guru dengan harapan pemelajaran dapat berlangsung secara lebih terarah dan tepat guna.

Pada saat penelitian ini dilakukan penulis menggunakan LCD proyektor, dan CD power point Tabel Relasi Konjungsi.

B. Pelaksanaan

Dengan menggunakan metode Seven P (7-P) yang didapat penulis berdasarkan pengalaman selama mengajar, proses pemelajaran dilaksanakan. Seven P (7-P) terdiri dari rangkaian kegiatan; perhatian, pencarian, penemuan, pertanyaan, pengimplementasian, penyimpulan dan penugasan. Alokasi waktu pada pemelajaran dengan menggunakan Tabel Relasi Konjungsi ini adalah 2 x 45 menit. Adapun rincian kegiatan 7-P ini adalah sebagai berikut :

1.      Perhatian ( 5’)

Siswa memperhatikan/menyimak apersepsi dan pengarahan yang diberikan guru. Selain itu , siswa juga memperhatikan Tabel Relasi Konjungsi yang ditayangkan guru (menggunakan LCD Proyektor). Seperti yang dijelaskan pada bab 2, dalam penelitian ini penulis menggunakan Tabel Relasi Konjungsi yang merupakan ciptaan penulis berdasarkan pengamatan dan pengalaman selama mengajar.

Adapun penggunaan tabel dalam penelitian ini adalah untuk membuktikan benarkah bahwa tabel ini dapat bermanfaat bagi siswa. Maksudnya, benarkah tabel ini dapat mempermudah siswa dalam memahami keterhubungan antara konjungsi, kalimat majemuk, dan pola pengembangan paragraf (pertentangan, perbandingan, sebab-akibat, akibat-sebab).

 2.      Pencarian (10’)

Siswa mencari keterhubungan antar kolom yang terdapat dalam tabel.

3.       Penemuan (5’)

Siswa menemukan keterhubungan antar kolom yang terdapat dalam kolom, yang berarti siswa memahami keterhubungan antara penggunaan konjungsi dengan kalimat majemuk dan pola pengembangan paragraf (pertentangan, perbandingan, sebab-akibat, akibat-sebab).

  1. Pertanyaan(10’)

Siswa berdiskusi baik dengan temannya maupun dengan guru tentang cara membuat kalimat majemuk dan pengembangan paragraf dengan menggunakan Tabel Relasi Konjungsi.

  1. Pengimplementasian (50’)

Pada bagian ini terbagi atas dua tahapan pertama, siswa membuat kalimat majemuk , kemudian membuat paragraf ~ isi pidato (pola perbandingan, pertentangan, sebab-akibat, atau akibat-sebab) dengan menggunakan kalimatnya sendiri selama 10’. Kedua, siswa mengerjakan soal PG (10 butir) dan uraian(3Butir) dalam waktu 40’. Tahap kedua ini dilakukan setelah kegiatan penyimpulan.

  1. Penyimpulan 5’)

Siswa dan guru menyimpulkan pemelajaran pada hari itu, yaitu ada keterhubungan antara penggunaan konjungsi dengan kalimat majemuk dan pola pegembangan paragraf (pertentangan perbandingan, sebab-akibat, akibat-sebab).

  1. Penugasan (5’)

Siswa diminta membuat paragraf argumentasi dengan pola pengembangan pertentangan, perbandingan, sebab-akibat, akibat sebab.

8. Evaluasi

Evaluasi diberikan dalam bentuk kuis, pilihan ganda dan uraian, selain itu siswa diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan mengerjakan pekerjaan rumah.

Nilai kuis diberikan langsung pada saat pemelajaran, bagi siswa yang mampu menjawab pertanyaan guru dengan cepat selama proses pemelajaran. Sedangkan tes pilihan ganda (10 butir) dan uraian (3 butir) diberikan diakhir pemelajaran. Pedoman penilaian soal pilihan ganda dan uraian adalah sebagai berikut :

– Soal PG skor maks.               : 10

– Soal uraian no. 1 skor maks. : 10

– Soal uraian no. 2 skor maks. : 10

– Soal uraian no. 3 skor maks. :  20

Jumlah skor maksimal = nilai siswa

5

 

 

C. Analisis Data

Setelah siswa menyelesaikan tugasnya selama pemelajaran, maka diperoleh perbandingan hasil belajar sebagai berikut :

Siswa  dapat menyelesaikan tugas dengan baik, ini dibuktikan nilai rata-rata kelas mencapai 9,1 , 8,9 , 9,0 , 8,8 dengan rentang nilai 7,2 – 10 Sementara hasil belajar sebelum menggunakan Tabel Relasi Konjungsi dengan metode 7P hanya mencapai rata-rata 7,1 , 6,6 , 6,6 , 6,9 dengan rentang nilai 4,4 – 8,6.

D. Hasil Penelitian

Berdasarkan analisis data diketahui bahwa:

  1. Siswa dapat memahami keterhubungan antara konjungsi yang digunakan dengan pembentukan kalimat majemuk dan pengembangan paragraf (pola perbandingan, pertentangan, sebab-akibat, akibat sebab).
  2. Siswa menyenangi proses pemelajaran dengan menggunakan Tabel Relasi Konjungsi, karena siswa lebih mudah memahami apa yang sedang dipelajarinya.
  3. Perbandingan ketuntasan belajar siswa (dengan KKM : 70) sebelum dengan sesudah menggunakan media Tabel Relasi Konjungsi dengan metode 7P adalah  54 % : 100%.

 

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A.          Kesimpulan

1. Dengan melihat Tabel Relasi Konjungsi siswa mampu memahami keterhubungan antara konjungsi yang digunakan dalam kalimat dengan pembentukan kalimat majemuk, dan pengembangan paragraf.

2. Melalui pengintegrasian antara pemelajaran konjungsi dengan pembentukan kalimat majemuk dan pola pengembangan paragraf yang diwujudkan dalam bentuk Tabel Relasi Konjungsi siswa mampu membuat kalimat majemuk dan mengembangkan paragraf (pola perbandingan, pertentangan, sebab-akibat, akibat-sebab).

3.  Kemampuan yang dimiliki siswa seperti tersebut di atas tidak luput dari adanya suasana kelas yang menyenangkan. Dengan menggunakan Tabel Relasi Konjungsi siswa lebih mudah memahami keterhubungan antara penggunaan konjungsi dalam kalimat dengan pembentukan kalimat majemuk, dan pengembangan paragraf. Dengan kemudahan yang didapat, siswa mampu membuat kalimat-kalimat majemuk dan mengembangkan paragraf dengan pola perbandingan, pertentangan, sebab-akibat, akibat-sebab dengan baik.

B.      Saran

    1. Mengingat keterampilan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang paling sulit, maka hendaknya seorang guru harus kreatif dalam menyampaikan pemelajaran di dalam kelas.
    2. Melihat pemelajaran menulis (membuat kalimat, menyusun paragraf) seringkali membuat siswa takut, karena kesulitan yang dihadapi, seorang guru   harus mampu menciptakan suatu inovasi pemelajaran sehingga mempermudah siswa memahami pelajaran
    3. Mengingat pentingnya keterampilan menulis sebagai bekal siswa untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi atau pun sebagai bekal siswa terjun ke masyarakat, maka seorang guru sudah sepatutnya terus menggali, terus berkreasi demi terbentuknya manusia Indonesia yang berpotensi tinggi.

      

DAFTAR PUSTAKA

 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1992. Tata Bahasa Baku Bahasa   Indonesia.Jakarta: Depdikbud.

_________.1993. Kurikulum 1994 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta:

Depdikbud.

Departemen Pendidikan Nasional.  2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas.

__________, 2003. Media Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikdasmen Ditendik

___________, 2006. Kurikulum 2006 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

Dryden & Vos,2000. Revolusi Belajar-Learning Revolution. Banding: Kaifa.

Echol, John M. & Hasan Sadeli. 1994. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.

Keraf , Gorys. 1980.  Tata Bahasa Indonesia untuk SLA. Jakarta: Nusa Indah .

_________, 1989. Komposisi. Jakarta: Nusa Indah.

Nurani, Yuliani, dkk.2003. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka

Suhardjono. 2006. Kumpulan Tulisan Mengenai Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Tarigan, Henry Guntur. 1986. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tim MGMP Kabupaten Tangerang. 2007. Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA Kelas III. Bandung: CV. Thursina.

Tim Penyusun Kamus.2004. Kamus       Besar Bahasa Indonesia. Rev. Ed. Jakarta: Balai Pustaka.

Sukasworo,I, dkk. 2003. Bahasa Indonesia SMA Kelas III. Jakarta: Piranti

Iklan

2 Tanggapan

  1. salam bu vedia
    sebenarnya penulisan pemelajaran apa pembelajaran sih bu? yang banyak saya baca pada karya tulis ibu itu pemelajaran bukan pembelajaran
    terimakasih bu atas jawabanya

  2. Reblogged this on jonegoro13.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: