DUA SISI EMANSIPASI WANITA DALAM NOVEL PADA SEBUAH KAPAL

Oleh: Vedia

 

 

 

1. Pendahuluan

Karya sastra secara umum sebenarnya merupakan gambaran kehidupan   nyata. Hal ini karena terciptanya suatu karya tidak lain adalah hasil dari penghayatan penulis terhadap suatu kehidupan. Untuk itu tidak berlebihan bila dikatakan bahwa sastra terutama dalam hal ini novel merupakan kehidupan yang dikisahkan lewat media tulis.

Dr. Effendi seorang pengamat sastra juga dosen di Pascasarjana UNJ mengatakan bahwa sebuah karya sasra diciptakan melalui proses kreatif yaitu imajinasi dan kontemplasi sastrawan terhadap pengalaman yang didapatnya dari kehidupan (alam). Dan segala yang didapat oleh sastrawan melalui proses kreatif itu dituangkan ke dalam bahasa. Hal ini sesuai dengan pendapat yang mengatakan “Dalam peristiwa sastra, pengalaman itu diungkapkan dengan bahasa”(Sumardono dan Saini, 1994). Tidak salah juga apabila Faruk dalam bukunya “Sosiologi Sastra” (1994) mengambil pendapat Goldmann yang melibatkan fakta kemanusiaan dalam proses terciptanya karya sastra.

Pada Sebuah Kapal (PSK) merupakan novel karya seorang perempuan yang isinya menceritakan kehidupan seorang perempuan sehingga sangat wajar apabila kita mencoba melihat novel ini sebagai suatu refleksi dari feminisme sastra di Indonesia. NH. Dini pengarang wanita kelahiran Semarang 29 Pebruari 1936 yang oleh Soenardjati Djajanegara dalam tulisannya yang berjudul “Dari Marginalisasi ke: Masalah Perkembangan Penulis Wanita di Amerika” dikategorikan sebagai salah satu wanita Indonesia yang merupakan pelopor lahirnya feminis sastra  di Indonesia (Wahyudi, 2004).

Feminisme adalah paham feminis. Feminis itu sendiri berasal dari kata femme (woman), berarti perempuan (tunggal) yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak perempuan (jamak), sebagai kelas sosial (Ratna, 2004). Jadi feminisme adalah paham yang memperjuangkan masalah-masalah keperempuanan mulai dari keinginan untuk diakui kedudukannya yang tidak hanya sebagai objek melulu sampai pada persamaan hak dan derajat sebagai manusia.

Adapun yang menjadi dasar pemikiran dalam peneletian sastra berperspektif feminis adalah upaya pemahaman kedudukan dan peran perempuan seperti tercermin dalam karya sastra (Endraswara, 2004). Dalam sastra, feminis dikaitkan dengan cara-cara memahami karya sastra baik dalam kaitannya dengan proses produksi maupun resepsi (Ratna, 2004).

2. NH. Dini dan Karyanya

Seperti yang dikemukakan pada bagian pendahuluan bahwa karya sastra tidak lepas dari kehidupan itu sendiri, demikian juga dengan NH. Dini dalam novelnya Pada sebuah Kapal. Banyak persamaan antara apa yang terdapat dalam novel dengan kisah hidup pribadi pengarang, misalnya saja dalam penggunaan latar belakang yaitu menggunakan latar belakang Semarang yang merupakan tempat kelahiran penulis, Kobe dan Perancis yang merupakan tempat bermukim  pengarang setelah menikah dengan Yves Coffin.

Selain itu novel ini juga menceritakan seorang tokoh yang ingin menjadi pramugari namun tidak kesampaian, dan dalam kehidupan nyata NH. Dini setamatnya dari  SMA bagian Sastra (1956), mengikuti Kursus Pramugari Darat GIA Jakarta (1956). Ada satu hal lagi yang memiliki persamaan yaitu kisah perkawinan tokoh dengan orang berkebangsaan asing dan kehidupan rumah tangganya kurang bahagia, demikian juga dengan NH. Dini dalam kehidupan nyata, menikah dengan seorang berkebangsaan asing dan berakhir dengan  perceraian.

3.Sinopsis Novel “Pada Sebuah Kapal”

Novel ini disajikan dalam dua bagian satu sisi dari tokoh Sri sebagai seorang penari dan satu sisi lagi dari tokoh Michel seorang pelaut. Namun isi keduanya mengarah pada pertemuan tokoh utama perempuan dan tokoh utama laki-laki, berikut adalah sinopsis dari kedua bagian tersebut (Penari dan Pelaut) dari novel PSK.

Sri begitu kehilangan ketika sosok ayahnya yang begitu baik dan banyak memperkenalkan dirinya pada dunia seni meninggal dunia.. Satu-satunya orang yang dapat diajak bicara dan dapat menentramkan hatinya adalah Satopo kakak lelakinya yang juga hidup dalam dunia seni.

Beranjak remaja lewat temannya semasa mengikuti seleksi untuk menjadi pramugari Sri berkenalan dengan Saputro seorang pilot Angkatan Udara. Sri sendiri akhirnya tidak menjadi pramugari karena alasan kesehatan, akhirnya ia tetap menggeluti karir pertamanya yaitu menjadi penyiar radio dan sesekali mengajar tari. Sejak kecil ia memang suka menari. Perkenalan dengan Saputro membuahkan cinta yang begitu mendalam sampai-sampai Sri rela memberikan segala-galanya termasuk kehormatannya kepada Saputro. Tidak disangka ternyata Saputro yang sudah menjadi tunangannya meninggal beberapa hari menjelang pernikahannya. Kejadian ini sangat menyedihkan Sri.

Dengan harapan dapat melupakan Saputro ia menikah dengan seorang diplomat Perancis bernama Charles Vincent yang tidak dicintainya, walaupun kakaknya Satopo sudah melarangnya bahkan menganjurkannya untuk menerima cinta Carl seorang pemuda berkebangsaan Amerika yang kaya raya. Ia juga tidak menerima cinta Yus seorang teman kakaknya yang begitu mencintainya.

Setelah menikah Sri tinggal di Kobe, Jepang. Sikap dan prilaku suaminya berubah menjadi kasar, sangat pelit, egois, dan suka merendahkannya begitu menyakitkan namun ia tidak berani menceritakan hal ini pada siapun. Walaupun sudah hadir seorang anak cinta diantara suami istri itu tidak juga bersemi bahkan semakin surut. Terutama bagi Sri sikap suaminya itu membuat Sri tidak lagi bisa menikmati hidup dengan bahagia.

Tanpa diduga sebelumnya ia berkenalan dengan seorang pelaut bernama Michel Dubanton pada perjalanan liburan dari Saigon menuju Merseile. Rupanya Michel yang juga sedang mengalami keretakan rumah tangga karena istrinya (Nicole) terlalu egois, cerewet, dan kasar itu juga mencintai Sri. Di kapal itulah cinta diantara kedua insan yang mendambakan kelembutan dan kehangatan cinta bersemi. Hubungan mereka terus berlanjut walaupun keduanya mengalami kesulitan untuk melepaskan diri dari suami/istri mereka. Mereka begitu sulit untuk melupakan kebahagiaan yang mereka temukan ketika mereka berduaan dan bercintaan, sehingga terus saja melakukan hubungan itu secara diam-diam.

4. Emansipasi Wanita dalam Novel Pada Sebuah Kapal

Emansipasi wanita terus saja bergema, untuk di Indonesia sudah dimulai dengan adanya pejuang wanita misalnya Martha Christina Tiahahu, Raden Ayu Ageng Serang, dan yang sangat terkenal dengan kegigihannya dalam merperluas pendidikan bagi kaum perempuan yaitu  RA. Kartini, serta masih banyak yang lainnya. Dalam dunia sastra NH.Dini merupakan sosok pelopor yang memunculkan idealisme keperempuanan. Berbeda dengan pengarang wanita masa kini seperti Ayu Utami ataupun Djenar Maesa Ayu yang lebih terbuka bahkan kadang terkesan vulgar, goresan tinta NH.Dini masih terlihat malu-malu dalam menyajikan apa yang diinginkan dan dirasakan oleh kaum perempuan. Namun, dengan sifat yang malu-malu inilah makin terlihat feminisnya.

Dengan gaya ketenangan seorang wanita, NH.Dini mampu menghadirkan perjuangan, pergulatan, dan pemberontakan wanita dalam mencari jati diri dan kebebasan. Walau sekecil apapun kebebasan yang didapat, tokoh Sri dalam novel PSK tampak dengan gigih memperjuangkannya.

Apabila kita melihat ke dalam tampaknya novel PSK menghadirkan dua sisi dari emansipasi wanita, yaitu  sisi positif maupun sisi negatif. Kedua sisi ini dikemas apik dan menarik oleh kepiawaian NH.Dini merangkai jalinan cerita. Berikut disajikan kedua sisi emansipasi tersebut dengan dilengkapi cuplikan dari novel PSK yang mengarah pada keterangan yang dimaksud.

Apa yang menjadi uraian berikut lebih menitikberatkan pada tokoh Sri sebagai pelaku utama. Hal ini dikarenakan bahasan yang diambil menyangkut masalah yang berkaitan dengan feminisme.

a. Sisi Positif Emansipasi Wanita Novel PSK

Pertama, terlihat pada sosok Sri (tokoh utama) yang mencerminkan keinginan seorang perempuan untuk bisa menjadi dirinya sendiri dan hidup mandiri. Keinginan untuk mandiri tentu saja harus didukung dengan pengetahuan, begitulah yang dilakukan oleh tokoh Sri.

  – Inilah yang terutama mendorongku buat tekun mempelajari segala sesuatu yang   sealiran dengan zaman untuk tetap menjadi pemegang utama ruangan-ruangan yang bersifat kewanitaan.

 

Kedua, Tokoh Sri yang berwatak lembut namun dalam hal-hal tertentu terlihat keras merupakan perpaduan dua sifat yang sangat menakjubkan. Bagaimana kelembutan seorang wanita yang digambarkan dengan kegemaran dan kebiasaannya menari ternyata bisa melakukan pemberontakan kecil yang hasilnya maha dasyat.

– Tetapi ia tak perlu memberitahuku segala sesuatu sampai kepada hal-hal kecil, yang paling remeh seolah-olah aku ini orang bodoh yang tidak tahu sama sekali cara-cara hidup moderen.

– “…karena kau tidak pernah memberiku kesempatan untuk mengucapkan pikiranku sendiri!” jawabku dengan cepat. “Dan setelah kau lihat pekerjaanku, tidak perlu kau bertanya apakah ada orang lain yang membantuku.”

 

Ketiga, hal positif  lainnya dalam novel PSK adalah gambaran kemampuan seorang wanita berbuat/memutuskan jalan hidupnya sendiri dengan kebulatan tekad.

Setiap orang mempunyai watak sendiri-sendiri untuk menanggapi suasana  sekitarnya.

–  Aku banyak memikirkan kehidupan yang telah kupilih.

 

b. Sisi Negatif Emansipasi Wanita dalam Novel PSK

Sisi negatif dari emansipasi wanita tidak dapat dihindari dan NH. Dini secara halus melukiskannya dalam novel PSK. Adapun sisi negatif ini terlihat dengan adanya keinginan untuk memperoleh kebebasan yang sama dengan seorang pria sampai pada cara pemenuhan kebutuhan biologis menurut caranya sendiri. Kalau selama ini sex bebas yang dilakukan pria baik yang tertutup maupun yang terang-terangan mendapat pertentangan dari berbagai pihak, apalagi dengan wanita yang selama ini dikenal memiliki perasaan malu yang cukup besar.

Walaupun ada usaha pembenaran NH.Dini atas penyimpangan yang dilakukan tokoh karena mungkin ia sendiri adalah seorang wanita dan ingin membela apa yang diperbuat kaumnya. Namun pembelaan itu sendiri sebenarnya merupakan cerminan dari rasa malu mengakui bahwa perbuatan sang tokoh memang tidak benar, di sinilah letak keunikan NH. Dini atas sisi negatif dari emansipasi wanita.

Aku mencintainya. Biar dia tidur dengan wanita manapun.

            – Tapi aku tak bisa menipu diriku lagi. Dada yang penuh dan birahi terpendam merangsangku untuk bekata yang sebenarnya. Dalam kamarnya yang temaram aku menerimanya menyelinap dalam kehangatan tubuhku.

 

Hal lain yang menunjukkan sisi negatif dari novel PSK adalah adanya kenyataan yang memang sulit dipungkiri, kadang-kadang wanita (sebenarnya tidak hanya wanita), yang ingin mengembangkan diri terlihat terlalu mementingkan materi dan dunianya sendiri. Sehingga untuk tingkatan yang lebih serius ia terkesan egois dan mementingkan dirinya sendiri, tragisnya lagi sosok seperti ini bisa menghilangkan sisi keibuan dari wanita yang lembut sekalipun.

Sehari-hari aku hanya berpikir bagaimana caranya bisa mendapat uang yang lebih dari gaji yang kuterima tiap bulan.

            – ”Kau hanya memikirkan hasil keduniaannya saja,” kata Yus kemudian.

            – ”Aku tidak peduli apakah kau percaya atau tidak. Bagiku anakku akan menjadi penghambat yang besar kalau aku harus bekerja mencari nafkah di Eropah. … kau selu berkata bahwa aku tidak akan bisa mengerjakan sesuatu apapun di negerimu. Tetapi aku akan mencoba dan aku akan membuktikan bahwa aku juga sanggup mencari kehidupan di negeri itu sebagaimana orang-oarang sana.”

Selain kalimat-kalimat yang secara jelas menunjukkan sisi positif dan sisi negatif emansipasi wanita dalam novel PSK, ada juga kalimat-kalimat yang bias diantara keduanya. Misalnya dalam hal yang berkaitan dengan keberanian seorang wanita mengemukakan pendapat.

–          ”Aku juga tidak peduli apakah itu menarik hatimu atau tidak.”…

–          Aku mengangkat muka dan menatapnya. Sejenak hendak kukeluarkan semua isi hatiku, segala kemualan perasaanku terhadapnya.

–          ”Aku akan mengatakan apa sebabnya akau berteriak sedemikian rupa di depan orang-orang lain. Ialah karena aku sudah bosan. …”

 

Dari sisi positif cuplikan di atas mampu menunjukkan keberanian sekaligus kebebasan wanita mengungkapkan pendapat/isi hatinya. Dengan cara seperti ini kebanyakan orang percaya bahwa wanita bisa lebih maju. Namun, di sisi negatif cuplikan di atas menunjukkan ketidaksopanan bahkan mungkin bisa dikatakan pembangkangan seorang istri kepada suaminya. Tokoh Sri yang digambarkan sebagai sosok yang lembut ternyata demi kebebasannya mampu berkata keras dan kasar, bahkan sambil menatap suaminya.

5. Penutup

NH. Dini sebenarnya telah berusaha menghindarkan gaya tulisannya yang sangat feminis dengan menampilkan cerita menjadi dua bagian satu dari sisi wanita dan satu lagi dari sisi pria, namun gaya berceritanya yang lembut dan agak malu-malu tampaknya masih menunjukkan sisi keperempuanan yang menonjol.

 

Akhirnya apapun yang coba disampaikan NH. Dini dengan gayanya yang lembut, pelan, dan halus, namun punya ’greget’, patut diacungkan jempol. Novel ini mampu membuka mata dan menyentuh hati siapa saja yang membacanya terutama mereka yang mempunyai keinginan memperjuangkan hak-hak kaum wanita.

Dengan adanya sisi positif dan sisi negatif dari emansipasi wanita dalam novel ini, ’Pada Sebuah Kapal’  bisa menjadi bahan renungan. Ternyata biar bagaimanapun kebebasan yang dituntut oleh seorang wanita sebaiknya tetap memperhatikan norma-norma yang ada terutama norma agama. Karena tanpa berpegangan pada agama seorang wanita hanya akan mendapatkan kebebasan raga dan dunia. Sementara jiwanya akan  terbelenggu oleh rasa bersalah yang akan terus dibawa dan dipertanggungjawabkan sampai saat kematian tiba.

Kemiripan kisah NH. Dini dalam kehidupan nyata dengan isi cerita novel PSK entah disengaja atau tidak tentu saja mengandung makna. Dan dengan kecerdasannya merangkai cerita,  kisah ini menjadi sangat menarik untuk dibaca.

 PUSTAKA RUJUKAN

 

Dini, NH., Pada Sebuah Kapal, Jakarta: Depdiknas, 2004.

Effendi, S., Sastra Dan Apresiasi Sastra, Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas, 2001.

Endraswara, Suwardi, Metodologi Penelitian Sastra, Yogyakarta: Pustaka    Widyatama, 2003.

Faruk, Pengantar Sosiologi Sastra, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994.

Ratna, Nyoman Kutha, Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra, Yogyakarta,: Pustaka Pelajar, 2004.

Sumardjo, Jacob dan Saini KM., Apresiasi Kesusastraan, Jakarta: PT> Gramedia Pustaka Utama, 1994.

Iklan

2 Tanggapan

  1. Bu vedia, sinopsis yang ibu tulis di blog ini kenapa berbeda dengan yang ibu terangkan saat perkuliahan? kemarin saya ingat benar bu vedia menjelaskan bahwa sinopsis itu maksimal memiliki 3 paragraf, tapi di blog ini ada 6 paragraf. Kemudian dalam meresensi, Bu Vedia menjelaskan bahwa kita tidak usah memberikan poin untuk hal-hal yang kita tulis setelah sinopsis tapi di blog ini ibu memberikan poin A dan B untuk sisi positif dan sisi negatif. Dan satu lagi Bu, dalam meresensi kita menggunakan bahasa kita sendiri atau yang ada dalam karya yang kita resensi?Mohon penjelasanya ya bu.

  2. salam bu vedia…
    sedikit saya ingin mengoreksi penulisan untuk pustaka rujukan pada bagian
    Ratna, Nyoman Kutha, Teori, Metode, dan Teknik Sastra, Yogyakarta,: Pustaka Pelajar, 2004
    jika di perhatikan pada bagian penulisan sesudah Yogyakrta ibu menghadirkan koma (,)seblum titik dua. bukankah yg ibu ajarkan itu tdk menggunakan koma melainkan langsung titik dua. setelah itu baru nama penerbit.
    apa hal itu hanya salah penulisan saja atau memang ada hal lain yg berbeda. karena jika di bandingkan dengan pustaka rujukan yang ada hanya pada bagian itu saja yang berbeda. ibu pernah mengatakan bahwa salah titik atau koma saja itu sudah menjadi salah penulisan.
    mohon klarifikasinya bu, terimakasih
    pgsd 7D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: