DIANTARA DUA HARAPAN

Karya: Vedia

 

 

       Ratna masih bisa tersenyum ketika menerima SK pengangkatannya sebagai CPNS. Meski sama-sama ditempatkan di kabupaten Lebak jelas Ratna lebih beruntung dari Nining yang ditempatkan di sekolah yang terpelosok bahkan nama daerahnya saja tidak ada di peta!

Kenyataannya Ratna menangis ketika pertama kalinya datang ke SLTP Cireunteun Kab. Lebak. Apalagi saat di tengah perjalanan yang kiri kanannya masih hutan, jalannya pun naik-turun, berkelok-kelok, dan berlubang ia membaca tulisan “Kawasan Baduy”  . Tak ayal lagi mobil ELF yang bau solarnya sangat menyengat hidung selama di perjalanan membuat  tubuh Ratna yang kecil mungil dan duduk sendirian itu terbanting ke kiri ke kanan, ke atas lalu terhenyak, sehingga perutnya terasa sakit.

Abdi ti Bandung nganteurkeun si bungsu bade ngawulang di dieu,” (saya dari Bandung mengantar anak bungsu yang mau mengajar di sini)  kata seorang bapak tua kepada kepala sekolah  induk tempat Ratna akan bertugas.

       “Aku juga anak bungsu, perempuan lagi, dari tempat yang jauh juga, tapi aku tidak diantar….uh sebel!” bisik Ratna dalam hati. Memang orang tua Ratna tidak bisa mengantar karena mereka sedang menunaikan ibadah haji. Keberanian Ratna untuk pergi ke tempat terpencil ini pun karena ingat pesan orang tuanya.

Di mana pun kamu ditempatkan kamu harus bersyukur,” kata mama.

Sedikit sekali orang yang memiliki nasib sebaik kamu, baru lulus kuliah  lalu ikut  tes PNS langsung dapat tanpa harus mengeluarkan uang,”tambah mama lagi.

Iya, lagi pula suatu saat kamu  bisa mutasi,” kata papa menenangkan.

Dari percakapan antara kepala sekolah dengan bapak tua yang datang dari Bandung Ratna mengetahui bahwa guru yang dikirim saat itu adalah untuk UGB(Unit Gedung Baru) semuanya berjumlah sebelas orang. Dari sebelas orang itu hanya ada dua orang perempuan yaitu ia dan seseorang yang bernama Narti.

Sejak mulai berdirinya gedung sekolah tersebut dua tahun yang lalu, tenaga yang mengajar adalah guru-guru dari sekolah induk, bahkan kepala sekolahnya pun belum ada.

Dengan perasaan yang masih kacau Ratna dikenalkan dengan bapak-ibu Ru’yat . Di rumah bapak Ru’yat inilah akhirnya Ratna kos. Pak Ru’yat adalah guru SD yang berasal dari Lampung. Pak Ru’yat sudah bertugas di daerah tersebut sejak 15 tahun yang lalu. Kini ia mempunyai istri penduduk asli desa tersebut dan tiga orang anak perempuan, dua yang terakhir adalah anak kembar berusia 3 tahun , yakni Icah dan Nisa.

Maaf Bu, keadaan kami ya seperti ini, tidak seperti rumah Ibu di kota,”kata bu Ru’yat  dengan logat Sundanya.

Ah tidak apa-apa Bu, bisa diterima kos di sini saja saya sudah beruntung, untuk itu saya mengucapkan terima kasih  atas kesediaan Ibu dan Bapak menerima saya,”jawab Ratna seanggun mungkin, karena ia tak ingin orang lain mengetahui keadaan hatinya yang masih resah.

Terlihat kehati-hatian bu Ru’yat dalam berbicara karena ia terpaksa harus menggunakan bahasa Indonesia yang jarang digunakannya. Ia mungkin takut kalau-kalau Ratna yang bukan orang Sunda itu tidak mengerti apa yang diucapkannya. Ratna memang besar diTangerang, tetapi  orang tuanya bukan asli orang Tangerang, papanya orang Padang sedang mamanya orang betawi, jadi wajar bila Ratna tak bisa bahasa Sunda.

Ketika Ratna sedang asik ngobrol dengan bapak dan ibu Ru’yat, tiba-tiba datang seorang anak SD.

Assalamualaikum,” ucap anak SD tersebut.

Waalaikum salam,” jawab semua yang ada di ruangan itu.

Ini Ana, anak kami yang pertama sudah kelas 5 SD,” kata pak Ru’yat memperkenalkan.

Malam harinya, di dalam kamar kos Ratna tak bisa memejamkan matanya, ia merasa terasing. Ia membayangkan seperti apa murid-muridnya nanti. Akan sanggupkah ia menjalankan tugas ini,jauh dari orang tua dan teman-temannya. Matanya kembali berkaca-kaca, untuk kesekian kalinya air mata mengalir di pipinya yang lembut dan menetes membasahi mukena yang masih dikenakannya usai sholat malam.

Siap grak! Berdoa grak!” ujar  KM memberi aba-aba.

Selesai grak! Memberi salam grak!” perintah KM lagi

Ratna menjawab salam anak-anak seraya terseyum. Dalam hati Ratna geli kok memimpin doa seperti mau baris-berbaris saja, pakai siap grak segala.

Hari pertama Ratna isi dengan perkenalan, ia mulai mencoba membiasakan anak didiknya untuk mendengar dan berbicara dalam bahasa Inggris. Sulit! Ini adalah pekerjaan sulit baginya yang sudah terbiasa mengajar anak kota yang dari SD banyak yang sudah ikut les bahasa Inggris. Lucunya setiap kali Ratna meminta muridnya mencoba meniru ucapannya, muridnya hanya tertawa malu-malu.

Ratna sedang asyik membaca saat pintu kamar kosnya diketuk.

“Bu guru,aya rencangannana eh ada teman ibu, itu sudah menunggu di ruang tamu,” ucap bu Ru’yat memberitahu sambil tak lupa tersenyum.

Ratna bergegas ke ruang tamu. Di sana sudah berkumpul rekan sejawatnya yang mayoritas laki-laki. Ia pun segera duduk samping bu Narti.

Kumaha damang?” sapa pak Usep.

Aduh jangan pakai bahasa Sunda dong, aku tidak mengerti nih!”,  jawab Ratna  setengah merengek, mengundang tawa yang lainnya.

Kumaha damang artinya bagaimana keadaan Ibu apa baik-baik saja?” jelas bu Narti yang asli orang Lebak

Iya ,jangan pakai bahasa Sunda toh, aku juga ndak ngerti” kata pak Jaya dengan logat Jawanya yang medok

Dari hasil bincang-bincang di tempat kos Ratna yang untuk selanjutnya sering dijadikan tempat berkumpul karena lokasinya yang paling dekat dengan sekolah, terbentuklah struktur organisasi sekolah sementara sambil menunggu datangnya kepala sekolah yang definitif. PKS yang terbentuk semuanya dipegang rekan-rekan Ratna yang laki-laki. Ratna dan Narti tak begitu acuh atas kedudukan tersebut, mereka asik dengan pikiran mereka sendiri yaitu bagaimana caranya agar bisa pindah secepatnya!

Usai sholat maghrib Ratna ke luar dari kamarnya bergabung dengan keluarga Ru’yat menonton acara televisi. Ratna dan bu Ru’yat duduk di bawah sementara Ana dengan asiknya duduk di kursi sambil mengangkat kaki.

Ana coba duduk di sini dekat ibu! Kan enak duduk sama-sama di bawah,” ajak  Ratna  pada Ana.

Mendengar itu mata bu Ru’yat lantas melihat ke arah Ratna kemudian dengan tersenyum malu berkata pada anaknya” Ana ka dieu diukna di dieu tah sami-sami di handap”.

Mungkin kebiasaan mereka seperti ini, ia ingat betul kalau orang tuanya melarang keras duduk di atas bila ada orang yang lebih tua duduk di bawah.

Bagaimana Bu, Ibu kerasan tinggal di sini?” tanya pak Ru’yat ketika datang  dan bergabung menonton TV.

Ratna tidak menjawab, ia hanya tersenyum Ratna tidak bisa membohongi orang lain apalagi pada dirinya sendiri, makanya ia lebih memilih tidak menjawab pertanyaan tersebut.

Ratna menikmati perjalanannya ke sekolah. Dilangkahkan kakinya dengan santai menelusuri jalan yang penuh lubang dan mendaki. Ditariknya nafas dalam-dalam sejuk rasanya, bau dedaunan menyegarkan. Sesekali ia menyapa penduduk yang berpas-pasan dengannya. Tangannya memeluk dadanya ia kedinginan dan memang ia tak kuat dingin bahkan alergi dingin, maka tak heran bila hidungnya sering tersumbat bila sudah kedinginan. Tapi pagi itu hidungnya tidak seperti biasanya hidungnya tidak tersumbat.

Bila melihat pemandangan alam pedesaan yang begitu indah, hijau menyejukkan rasanya ia tak ingin cepat-cepat pindah. Sebaliknya bila ia ingat bahwa keinginannya untuk melanjutkan kuliah jadi terhambat, karena letak daerah yang begitu jauh dengan gaji yang minim pula, juga bila ia ingat betapa sulitnya mengajar pelajaran bahasa Inggris di daerah ini rasanya ia ingin segera pindah!

Lamunannya terhenti ia melompat kaget, rupanya ia menghindari kantung plastik yang terserak di jalan, tapi bukan tanpa alasan ia melompat menghindari katung plastik yang sebagian isinya berserakan tersebut. Ratna tidak akan sekaget ini bila hanya melihat katung plastik, yang membuatnya kaget adalah isi kantung plastik tersebut yaitu kotoran manusia! Ratna menengok ke atas ada rumah di sana, mungkin orang yang tinggal di sanalah yang membuang kotoran itu seenaknya. Selama ini memang Ratna sudah tahu bahwa masih banyak penduduk  yang tidak mempunyai jamban, mereka biasa membuang kotoran di sungai atau di hutan.

Ratna jadi ingat bahwa materi yang akan disampaikannya hari ini bertema kesehatan lingkungan dan ia ingat betul wacana yang akan diberikannya adalah mengenai pembuatan jamban! Cocok sekali! Ratna jadi tersenyum sendiri.

Memang sudah menjadi kebisaan Ratna tiap kali mengajar ia tidak hanya mengajar bagaimana  berbahasa Inggris, melainkan juga memberikan informasi-informasi tertentu yang relevan antara tema wacana dengan kehidupan sehari-hari.

Ketika ingin memasuki ruangan kelas ia tersenyum melihat kaca jendela yang penuh debu itu justru ditulisi dengan kata-kata”Bu Ratna I love you”. Siapa anak yang iseng menorehkan tangannya ke kaca yang penuh debu itu pikir Ratna.

Good morning!” sapa Ratna sebelum memulai pelajaran.

Good morning maam!” jawab anak-anaksambil cekikikan pelan-pelan.

Mereka masih merasa lucu menggunakan bahasa Inggris, bahkan baru sebagian yang dapat melafalkan kata tersebut dengan tepat.

Anak-anak tema pelajaran kita pada hari ini adalah Environment Health yang artinya kesehatan lingkungan. Sebelum kita lanjutkan pelajaran ibu ingin kalian melihat kaca jendela kelas. Kontan anak itu menengok ke arah jendela yang berdebu di sana terdapat tulisan “Bu Ratna, I Love you”.  Ibu mengucapkan terima kasih pada yang menulis tulisan tersebut, namun ibu lebih berterima kasih lagi pada anak yang mau membersihkan kaca jendela itu. Bukankah kebersihan adalah sebagian dari iman?”

Anak-anak pun melihat ke arah jendela, kemudian saling tuding siapa yang menulis di kaca jendela tersebut, membuat gaduh suasana. Ratna pun segera menenangkan mereka. Di tengah pembelajaran itu Ratna menyampaikan betapa pentingnya jamban untuk kesehatan.

Coba kalau kalian bayangkan bila ada lalat hinggap di kotoran yang kamu buang sembarangan kemudian lalat itu hinggap di makanan yang kamu makan?” dengan gaya yang lucu Ratna melemparkan pertanyaan tersebut.

“Iiiiiiiiiiih” jawab anak-anak itu serentak sambil cekikikan dan menutup hidung dan mulutnya.

Keluar dari kelas Ratna memasuki ruang guru langsung duduk dengan kepala tertunduk.

Bu Ratna ada apa?” tanya pak Dudi yang berasal dari Bekasi.

Sudah tidak usah dipikirkan,” kata pak Ahmad sok tahu.

Saya bingung mengajar mereka….sulit sekali! Saya merasa gagal”, jawab Ratna hampir    menangis.

Aduh Bu Ratna jangan pesimis begitu, pelan-pelan saja, jangankan bahasa Inggris saya yang mengajar bahasa Indonesia saja sulit , karena bahasa sehari-hari mereka menggunakan bahasa Sunda”, kata pak Usep.

Walaupun sudah dihibur seperti itu ia tetap saja merasa tidak nyaman.

Pada kesempatan pulang ke Tangerang Ratna mengungkapkan keinginannya untuk berhenti mengajar di desa terpencil itu pada kedua orang tuanya yang baru pulang dari tanah suci.

Ma, Ratna tidak kuat Ma, capek!” kata Ratna.

Sabar Ratna, apa-apa juga harus sabar” jawab mama.

Tapi untuk apa?” tanya Ratna.

Gaji kecil, jauh lagi! Di sini saya bisa mengajar di sekolah yang bonafit, bisa memberi les privat, sekarang saya bisa apa mengandalkan gaji PNS?” tambah Ratna dengan sedikit emosi.

Kamu harus ingat Ratna, setiap sesuatu yang kita kerjakan dengan ikhlas, insyaallah akan ada manfaatnya” Tambah mama dengan mata berkaca-kaca.

Kuno! Begitu pikir Ratna, namun lagi-lagi ia harus mengalah pada orang tuanya itu.

Minggu siang Ratna diantar papanya ke daerah tempat ia mengajar. Ratna selalu berangkat hari minggu agar hari seninnya ia tidak terlalu lelah, itu pun atas saran mamanya, padahal ia ingin berangkat hari senin subuh agar ia masih bisa tidur di kamarnya  sendiri satu malam lagi. Dalam perjalanan Ratna lebih banyak diam pikirannya berkecamuk. Banyak cita-cita dan harapan  di dalam benaknya yang terhambat sejak ia ditugaskan di daerah yang terpencil ini. Salah satunya adalah keinginannya melanjutkan studi ke jenjang S2. Semula ia berharap bisa kuliah sambil bekerja, karena ia tahu tidak mungkin mengandalkan biaya kuliah S2 pada orang tuanya. Tetapi sekarang harapannya seolah-olah tak mungkin terwujud, tak mungkin ia bisa kuliah sambil bekerja di tempat terpencil ini dengan gaji yang minim.

Esok harinya Ratna berangkat ke sekolah dengan mata yang masih bengkak karena menangis semalaman. Di kelas ia berusaha menyembunyikan kegalauan hatinya. Namun, bengkak di matanya tak bisa membohongi anak didiknya. Banyak di antara anak didiknya terutama yang perempuan saling berbisik.

Sst… tingal soca bu Ratna bareuh!(lihat mata bu Ratna bengkak)” Bisik Itoh pada teman sebangkunya.

Muhun, aya naon nyak? (iya ada apa ya?)” tanya Wiwin berbisik pula

Teuing, tapi hawar-hawar bu Ratna bade ngalih! ( tidak tahu, tetapi kabarnya bu Ratna mau pindah)” bisik Itoh lagi.

Piraku, ceuk saha?(masa iya, tahu dari mana?)” tanya Wiwin  lagi.

Ceuk si Ana, budak pak Ru’yat(kata si Ana, anaknya pak Ru’yat)” jawab Itoh.

Ratna merasa tak enak, ia merasa sedang diperbincangkan oleh murid-muridnya yang masih lugu. Tak seharusnya mereka tahu apa yang sedang  terjadi dengannya pikir Ratna. Ratna pun berusaha menghidupkan kembali suasana kelas, agar murid-muridnya tidak terlalu memperhatikan bengkak  di matanya lagi.

Ok now look at this words, listen and repeat after me, please! pinta Ratna sambil menunjuk ke papan tulis, dan rupanya murid-murid Ratna sudah terbiasa dengan perintah seperti ini.. Upaya Ratna berhasil, memang selama ini murid-muridnya senang bila diminta mengulangi kata-kata berbahasa Inggris yang diucapkannya, walaupun kadang-kadang masih salah juga. Seperti ketika Ratna mengatakan “yu” untuk “you” murid-muridnya tetap saja ada yang mengatakan yo-wu. Hal ini pula yang membuat Ratna geli ingin tertawa sekaligus kesal karena kok susah benar mengajarkannya.

Ratna tengah bergegas pulang ke tempat kosnya.  Ketika tiba-tiba,  ia mendengar suara terengah-engah memanggilnya. “Bu…Bu Ratna!” Ratna menengok, dilihatnya Wiwin berlari ke arahnya, tetapi larinya tidak bisa cepat karena turunan kalau ia tidak hati-hati ia bisa terjatuh.

Ada apa Win?” tanya Ratna setibanya Wiwin.

“Ibu, kalau ada waktu tengoklah Teja” jawab Wiwin dengan nada sedih.

Memangnya Teja kenapa?” Tanya Ratna kaget ia memang tidak mengajar di kelas Teja hari ini. Ia hanya merasa ada yang kurang saat jam istirahat tadi, biasanya ia melihat Teja berdiri tidak jauh dari ruang guru kemudian dengan sesekali ia melihat ke arah Ratna sambil terus memakan jajanannya. Ia sendiri tadinya merasa risih dengan kebiasaan anak muridnya yang mencuri-curi pandang ke arahnya. Namun, akhirnya ia terbiasa ia pikir itu hanya bagian dari sikap anak kampung yang baru lihat ada orang kota di desanya.

Teja sakit Bu

Teja tidak mau bicara, tidak mau makan dan minum, orang tuanya bingung, kejadiannya dimulai dari pulang sekolah kemarin” jelas Wiwin membuat Ratna terpaku seperti terhipnotis.

Di bukunya nama ibu ditulis banyak sekali namun nama ibu dicoret-coret, kayak yang marah gitu Bu, padahal yang saya tau ia begitu bersimpati pada ibu, ibu tau yang nulis Bu Ratna, I love you di kaca jendela yang berdebu itu adalah Teja! Teja pula yang menghapus ia selalu menuruti apa kata-kata ibu bahkan ketika ibu menjelaskan tentang pentingnya jamban, sepulang dari sekolah ia langsung meminta orang tuanya untuk membuat jamban dan selama beberapa hari ia membantu ayahnya membuat jamban sederhana.” papar Wiwin lagi seolah mengerti keheranan Ratna.

Entah karena hatinya yang sudah tumpul karena keinginannya untuk pindah belum tercapai atau karena memang ia sama sekali tidak tertarik dengan kisah Teja yang menurutnya adalah anak yang aneh. Ia hanya menjawab penjelasan Wiwin dengan kalimat ”Baiklah Win, nanti sore kalau ibu sempat ibu akan menengok Teja”. Di mata Ratna Teja bukan anak istimewa yang harus diberi perhatian sikapnya yang tidak bisa diam kalau di kelas dan suka memperhatikan dirinya secara diam-diam dirasa Ratna sebagai sikap kurang ajar yang tidak sepantasnya dilakukan seorang murid pada gurunya. Pernah dengan cara sangat hati-hati ia menegur Teja, namun Teja tidak mau berubah. Ya sudah dasar anak kampung! Begitu pikir Ratna.

Sudah satu minggu Teja tidak sekolah. Ratna jadi penasaran juga sakit apa gerangan Teja. Permintaan Wiwin yang entah sampai berapa kali untuk menengok Teja dan selalu dijawab dengan jawaban yang sama, kali ini mengusik nalurinya.

Setelah istirahat dan sholat dzuhur dengan diantar anak ibu kosnya Ratna pergi menjenguk Teja. Perjalanan ke rumah Teja harus melewati jembatan penyebrangan yang di bawahnya mengalir air sungai yang sangat deras. Jembatan yang terbuat dari rangkaian kayu bergerak-gerak membuat ngilu di setiap persendian Ratna. Tak hanya itu batuan karang yang tajam dan menanjak harus dilewati Ratna dengan sangat hati-hati.

Tidak terasa setelah lebih kurang satu jam perjalanan akhirnya Sampai juga Ratna di rumah Teja. Rumah kecil yang berbilik bambu itu tidak menawarkan sesuatu yang istimewa, namun segala yang ada di rumah itu tertata dengan rapi. Ratna dipersilakan duduk di atas tikar anyaman daun pandan di lantai yang masih  tanah merah itu. Ratna melihat Teja terkulai lemas di atas kasur tanpa dipan. Tubuhnya kurus dan pucat.

”Teja, ini bu Ratna” sapa Ratna dengan lembut

Teja yang semula tidur miring menghadap tembok membelokkan tubuhnya, ia berusaha duduk.

”Kalau lemas kamu berbaring saja Teja” pinta Ratna.

Teja berbaring matanya yang sayu tiba-tiba terbelalak dengan penuh berkaca-kaca. Mulutnya bergetar seperti hendak menumpahkan kata-kata yang selama ini terpendam.

”Ada apa Teja, mengapa kamu tidak mau makan? Kalau kamu begini terus kamu nanti bisa ketinggalan pelajaran” ucap Ratna mencoba mencari tahu apa yang menjadi penyebab Teja berubah.

“Maaf Bu, ada hal yang ingin saya tanyakan” jawab Teja sambil mengatur nafasnya.

Bu, apa benar Ibu ingin pindah?” tanya Teja penuh rasa ingin tahu.

Kamu tahu dari siapa?”tanya Ratna kaget.

Apa benar Bu?” tanya Teja lagi tanpa menghiraukan pertanyaan Ratna

Ratna terdiam, jantungnya berdegup kencang. Tak disangkanya akan ada pertanyaan seperti ini. Apa yang harus ia katakannya pada anak yang begitu lugu ini, jangankan untuk menjawab pertanyaan menatap matanya saja Ratna tidak sanggup. Yang mampu dilakukan Ratna hanya mengusap kening  anak itu dengan lembut. Ia berharap belaian tangannya dapat menenangkan hati Teja juga hatinya sendiri.

“Ja…” ucap Ratna ingin memulai percakapan, namun belum sempat Ratna melanjutkan Teja langsung berkata,

“Maafkan Teja bila terlalu ingin tahu, tetapi Teja terlanjur sayang sama Ibu. Selama ini Teja nyaris seperti tidak punya ibu yang bisa memberi nasihat.”

Mata Ratna lantas melirik pada sosok wanita yang tadi mempersilakannya masuk dengan tatapan tanda tanya.

”Dia bibi saya Bu” jelas Teja seperti mengerti kebingungan Ratna.

“Ibu saya menjadi TKW di Arab Saudi sejak saya berusia dua tahun. Sampai sekarang ibu saya tidak pernah pulang kirimannya pun sudah terhenti sejak enam tahun yang lalu. Ayah tidak pernah berhasil mencari tahu keberadaan ibu.” Jelas Teja. Kemudian dengan suara yang semakin bergetar Teja melanjutkan pembicaraannya.

“Mungkin Ibu tidak betah tinggal dan mengajar di sini. Padahal kami suka belajar dengan Ibu, walaupun susah tetapi kami ingin bisa. Tolong Bu, beri kesempatan pada kami untuk bisa belajar dengan Ibu lebih lama lagi!” ucap Teja sambil meneteskan air mata tak kuasa menahan perasaannya.

“Maafkan ibu juga  Ja, tapi…”

“Tapi Ibu merasa terkekang di sini. Di sini Ibu tidak bisa mewujudkan cita-cita Ibu, begitu kan?”serobot Teja lagi.

Ratna tak mengira muridnya punya keberanian untuk berbicara seperti itu.

“Darimana kamu tahu semua ini Ja, darimana?” desak Ratna sambil mengusap air mata di pipinya, tak kuat menahan haru.

“Maaf Bu, seminggu yang lalu ketika Ibu sedang keluar kelas sebentar, saya buka-buka buku paket Ibu, maksud saya ingin mencontek jawaban soal latihan, tidak sengaja saya melihat tulisan di halaman belakang buku tersebut.” ujar Teja sambil terisak-isak memberi keterangan dengan lugunya. Wajahnya ia tutup dengan kain sarung bututnya penuh rasa bersalah.

“Teja …ooh…” Ratna tak sanggup berkata-kata, ia menggigit bibirnya. Direngkuhnya Teja dengan erat.

Angin dingin tengah malam berhembus lewat lubang angin kamar kos Ratna, membelai lembut pipi Ratna seakan ingin menghapus air mata yang mengalir membasahi mukena yang dikenakannya. Angin itu pula yang seolah-olah membisikkan bahwa ada sesuatu yang sangat berharga selain dari apa yang ia cita-citakan selama ini.

Iklan

50 Tanggapan

  1. ceritanya bagus bu..saya sampai terharu ketika membaca bagian Teja sakit…
    bahasanya juga sangat mudah dipahami…klau bisa tulisan ini dijadikan novel saja bu….:)

  2. ass..ceritanya bagus bu,,biarpun pada awalnya kurang gereget tapi lama kelamaan baca cukup buat bikin penasaran, ending ceritanya juga tidak bikin kecewa. banyak pelajaran yang bisa di ambil dari cerita ibu..
    saya juga mendoakan semoga ibu,bisa buat novel yang menarik..amin.

  3. Cerita ini sangat bagus untuk dibaca. Selain penuh dengan unsur haru dan pembangun semangat, penulis juga mengulas sisi lain dari dunia pendidikan,khususnya di wilayah terpencil, Dialog antar tokoh pun terasa mudah dan jelas untuk di pahami oleh pembaca Dengan gaya bahasa yang mudah dipahami inilah, penulis mampu membuat pembaca untuk masuk ke dalam alur cerita ini. Kisah akhir dari cerita ini pun di buat begitu mengalir oleh penulis, sehingga membuat pembaca dapat menentukan akhir dari cerita ini dengan imajinasi mereka.

    Siti Khodijah
    XII IPA 4

  4. Wah cerita yang menyentuh bu, apalagi penggunaan kata yang mudah dimengerti.
    Hanya istilah istilah yang dipakai saja yang menurut orang awam tidak mengerti karena tidak dijelaskan.
    Tapi bagus bu pembacanya jadi terhanyut dalam cerita walaupun di akhir cerita, kesan mengharukannya masih kurang terasa.
    Ditunggu bu karya sastra yang lainya 🙂

  5. ceritanya bagus bu, kalimat ini “Di mana pun kamu ditempatkan kamu harus bersyukur,” mengandung pesan-pesan agar kita menjadi manusia yang penuh syukur, menjadi wanita tegar dan berusaha menjadi manusia yang ikhlas dalam bekerja. sosok Bu Ratna memberi contoh agar menjadi wanita yang penuh dengan kesabaran, sekalipun Bu Ratna sering kali mengeluh, itu karena tidak ada yang memberi motivasi saja, tetapi ketika bagian Teja Sakit, ceritanya ini menyentuh hati saya. Tetapi dalam akhir cerita ini terlalu singkat bu, tidak diperjelas kalau Bu Ratna tidak jadi mutasi.

    maaf bu bila kata-kata saya kurang sopan. sebelumnya terima kasih bu 🙂

    Putri Pramudiana
    XII APA.4

  6. ceritanya bagus bu, kalimat ini “Di mana pun kamu ditempatkan kamu harus bersyukur,” mengandung pesan-pesan agar kita menjadi manusia yang penuh syukur, menjadi wanita tegar dan berusaha menjadi manusia yang ikhlas dalam bekerja. sosok Bu Ratna memberi contoh agar menjadi wanita yang penuh dengan kesabaran, sekalipun Bu Ratna sering kali mengeluh, itu karena tidak ada yang memberi motivasi saja, tetapi ketika bagian Teja Sakit, ceritanya ini menyentuh hati saya. Tetapi dalam akhir cerita ini terlalu singkat bu, tidak diperjelas kalau Bu Ratna tidak jadi mutasi.

    maaf bu bila kata-kata saya kurang sopan. sebelumnya terima kasih bu 🙂

    Putri Pramudiana
    XII IPA.4

  7. ceritanya bagus bu, kalimat ini “Di mana pun kamu ditempatkan kamu harus bersyukur,” mengandung pesan-pesan agar kita menjadi manusia yang penuh syukur, menjadi wanita tegar dan berusaha menjadi manusia yang ikhlas dalam bekerja. sosok Bu Ratna memberi contoh agar menjadi wanita yang penuh dengan kesabaran, sekalipun Bu Ratna sering kali mengeluh, itu karena tidak ada yang memberi motivasi saja, tetapi ketika bagian Teja Sakit, ceritanya ini menyentuh hati saya. Tetapi dalam akhir cerita ini terlalu singkat bu, tidak diperjelas kalau Bu Ratna tidak jadi mutasi.

    maaf bu bila kata-kata saya kurang sopan. sebelumnya terima kasih bu 🙂

    Putri Pramudiana
    XII IPA.4

  8. ” Angin itu pula yang seolah-olah membisikkan bahwa ada sesuatu yang sangat berharga selain dari apa yang ia cita-citakan selama ini.” Kata-kata yang sangat bagus dan menyentuh hati bu, ternyata cita-cita tak selalu menjadi berharga ketika kita mempunyai sesuatu yang lebih berharga dari cita-cita. Saya sangat suka ketika Teja mengeluarkan isi hatinya kepada bu Ratna.
    Dan cerita ini mempunyai pesan yang sangat mendalam bu.

    semoga cerpen ini bisa dibuku kan ya bu. aminn 🙂

  9. Sungguh menarik cerita tentang Diantara Dua Harapan ini, karena di dalam cerita ini terdapat keikhlasan hati seorang guru yang harus mengajar walaupun tempatnya sangat jauh dari rumahnya yang bernama Ratna. Sehingga dirinya harus nge-kost di salah satu rumah guru SD yang ada di sekolahnya tersebut. Ratna adalah guru yang baik kepada anak muridnya walaupun sangat susah mengajarkannya.

    Secara keseluruhan cerita ini sudah bagus, tetapi saya tidak melihat akhir yang menarik dari cerita ini, jmungkin akhir dari cerita ini bisa dikembangkan lagi.
    Terimakasih.

    Aditya Rinaldi
    XII IPA 1

  10. Assalamualaikum bu. 🙂
    wah, ceritanya sangat menarik nih bu. cerita dan alurnya mudah dipahami pembaca dan bahasanya mudah dimengerti. Hanya saja, ada bagian yang kurang dijelaskan, seperti tokoh Ratna yang mengajar anak murid, dalam cerita tidak dijelaskan soal kelas berapa atau berapa usia mereka. mungkin tidak begitu penting, tapi menurut saya, jika dalam cerita tersebut dijelaskan mengenai usia murid, pembaca akan lebih paham ternyata anak seusia mereka sudah dapat peka terhadap orang yang baru mereka kenal, ternyata seusia mereka, mereka sudah bisa menaruh rasa sayang dan simpatik dengan begitu cepatnya kepada orang lain. menurut saya seperti itu bu. 🙂
    maaf jika bahasa saya kurang dimengerti. hehehe 😀
    wassalam

    Fadhila Afifah
    XII IPA 3

  11. Super sekali Bu ceritanya 🙂

    Saat saya membaca cerpen ini, angan-angan saya mejalar mengikuti alur dalam cerita tersebut. Seperti cerpen Ibu yang berjudul “Seratus Hari”, cerpen ini juga mengandung unsur kedaerahan yang sangat kental. Pemilihan kata yang sederhana membuat pembaca mudah mengerti dan terbawa masuk kedalam ceritanya yang penuh rasa haru .
    Sifat Ratna yang sangat keras hati dan sedikit kekanakan, berusaha hidup mandiri di tempat terpencil dan jauh dari orang tua dapat diluluhkan olek Teja, seorang murid yang diam-diam menaruh simpati padanya. Sosok Teja memberikan arti yang sesungguhnya tentang pentingnya peran seorang guru baginya .
    Akhir ceritanya yang dibuat sedikit menggantung, membuat pembaca meraba dan menerka-nerka sesuai dengan imajinasinya .
    Walau di cerita ini kurang jelas penggambaran latar waktunya, tetapi secara keseluruhan banyak pelajaran yang dapat di ambil dari cerpen “Diantara Dua Harapan” ini yaitu, bahwa untuk mendapatkan sesuatu tidak ada yang instan. Semua butuh usaha dan pengorbanan .

    Wahyu Alviani
    XII IPA 1

  12. Sungguh cerpen yang menarik untuk dibaca. Cerpen “Diantara Dua Harapan ” ini mengisahkan harapan Guru dan murid (Bu Ratna dan Teja) yang saling bertolak belakang. Ratna yang berkeinginan untuk pindah mengajar dari tempat yang terpencil agar ia bisa meneruskan impiannya, sedangkan Teja yang berkeinginan agar Bu Ratna tetap mengajar dan Teja telah menganggapnya sebagai ibunya sendiri. Ternyata pengarang telah berhasil menghidupkan cerita ini dengan baik. Selain itu ilustrasi yang digambarkan pun cukup menarik, sehingga pemabaca pun dapat mengahayati cerita dengan baik. Kemudian, saya yakin setiap pembaca pasti langsung dapat menarik amanat dari cerpen ini, karena semuanya itu digambarkan secara langsung oleh penulis.
    Namun, ada yang lebih menarik bagi saya,yakni ending cerita yang tidak bisa diterka. Bahkan penulis pun seakan membiarkan imajinasi dari masing-masing pembaca yang menentukannya. Akankah Bu Ratna tersentuh hatinya untuk tetap tinggal dan mengajar, atau ia tetap pada impiannya selama ini ??? monggo silahkan tentukan sendiri…
    Semoga dapat terlahir lebih banyak lagi cerita yang bisa ibu bagi kepada semuanya. Terima kasih

  13. Setelah membca cerpen di atas, saya ingin menyampaikan bahwa :

    1. Dalam sudut pandang saya, cerpen ini memberikan gambaran, bagaimana seoarang guru yang sulit menerima kenyataan mengajar di daerah terpencil. kemudian cerpen ini juga berhasil menggambarkan kehidupan masyarakat di daerah terpencil seperti di Lebak, Banten.

    2. Menariknya cerpen ini juga dapat kita lihat dari dilema Ratna sebagai guru yang mengajar di darah terpencil. Di satu sisi ia ingin mengejar ambisinya untuk pindah ke kota dan menempuk pendidikan S2. Tapi di sisi lain, Ratna merasa terharu ketika mendengar kenginan Teja, muridnya, agar ia tetap tinggal dan tidak pindah.

    3. Kemudian keunggulan cerpen ini adalah dari akhir ceritanya yang menggantung, sehingga membuat pembaca menerka-nerka akan kemanakah akhir ceritanya. sehingga menimbulkan berbagai persepsi apakah Ratna akn tetap tinggal atau pindah ke kota. Pada akhirnya hal itu dikembalikan lagi ke masing-masing pembaca.

    4. Terlepas dari kelebihan cerpen tersebut, terdapat sebagian kecil kekurangannya. Yaitu adalah kurangnya penghubung antar waktu, contohnya adalah, saat bagian selesai sholat malam tiba-tiba langsung berpindah ke bagian suasana sekolah. Hal ini tentunya menimbulkan kebingungan diantara pembaca.
    Akan lebih baik lagi jika detail-detail seperti itu diperhatikan, sehingga cerpen tersebut makin bagus.

    XII IPA 1
    Royna Kristian Yudi

  14. ceritanya menarik, Bu 🙂 amanat cerita dapat dengan mudah kita mengerti melalui sosok Bu Ratna.. pemilihan katanya pun tepat sehingga dapat menghidupkan cerita dan membawa pembaca larut dalam setiap kejadian-kejadian yang disuguhkan. Yang paling menarik, pada bagian akhir cerita tidak dijelaskan apa yang selanjutnya terjadi pada tokoh Bu Ratna, sehingga pembaca dapat berimajinasi sendiri.

    Terima kasih
    Priskyla Dwi Noviana XII IPA 4

  15. Karya yang bagus,walau awalnya membosankan dan akhirnya membuat penasaran juga. Dengan alur maju,sehingga cerita mudah dipahami dan hal yang menarik yaitu dengan penggambaran kehidupan sosial dalam cerita,penggunaan bahasa yang mudah di mengerti,terdapat bahasa daerah,penggambaran latar tempat dan disaat Bu Ratna bertemu dengan Teja membuat pembaca dapat berimajinasi bahwa Ibu Teja telah menjadi TKW sejak Teja berumur dua tahun hingga Teja merasa tidak punya ibu,hal tersebut membuat suasana pembaca menjadi haru. Dari cerita diatas pula banyak pelajaran yang dapat di ambil salah satunya tentang selalu bersyukur,pantang menyerah dan tidak egois.Hanya saja penjelasan latar waktu dan penjelasan tentang Bu Ratna dan murid yang di ajar olehnya kurang detail membuat pembaca menjadi bingung.
    Semoga berkenan posting dari saya,terima kasih

    Cahyo Sudarmo
    XII IPA 5

  16. Assalamualaikum..

    Cerita ini menyuguhkan pengalaman hidup yang sangat bermakna,mengajarkan kita bahwa terkadang kita memang harus berkorban demi sesuatu yang lebih berharga dan indah nantinya.

    Dalam cerita di atas,tokoh Teja berhasil meluluhkan keras hati seorang Ratna.Meski pada akhirnya tidak di ceritakan apakah Ratna akan tetap mengajar di desa yang terpencil itu ataukah pindah,setidaknya Teja mampu menyadarkan Ratna bahwa ia dan murid-murid lainnya masih ingin diajari Ratna lebih lama lagi,bahwa di balik kesusahan Ratna selama ini mereka semua ternyata sangat menyayanginya.

    Namun di balik cerita yang menarik ini,saya rasa ada yang kurang pas, yaitu penggunaan koma yang seharusnya dipakai dalam kalimat tidak digunakan,sehingga pembaca mungkin sedikit kesulitan dalam membacanya.

    Terlepas dari semua itu,i think it’s a simple and good story . Semoga karya-karya selanjutnya akan lebih baik lagi.

    Annissaa Nur Safitri
    XII IPA 4

  17. Bagus sekali cerpen ini Bu ..
    Penggambaran tokoh yang sangat detail sehingga benar-benar terbayang jelas dalam benak pembaca serta penggambaran latar yang detail memudahkan pembaca untuk mengimajinasikan bagaiman lingkungan kerja Bu Ratna, tokoh utama dalam cerpen ini.

    Amanat yang ingin disampaikan pun, sangat baik dan mendidik. Cerpen ini juga mengajarkan pada para pembaca mengenai pentingnya bersyukur terhadap segala apa yang telah dimiliki.

    Pada awalnya penceritaan tokoh Bu Ratna tergambar sebagai seseorang yang sedikit manja. Bu Ratna pun diceritakan cukup mengalami kesulitan mengajar karena murid-muridnya tidak terbiasa dengan bahasa Inggris. Namun seiring berjalannya waktu Bu Ratna akhirnya mengerti bahwa perannya penting untuk mengajar murid-muridnya itu. Hal ini semakin diperkuat dengan adanya tokoh Teja, yang sakit saat mengetahui Bu Ratna yang sangat disayanginya ingin pindah dari desa itu. Hal ini sangat menyetuh saya sebagai pembaca.

    Saya cukup penasaran dengan akhir cerita ini, apakah Bu Ratna akan tetap mengajar atau Ia akan memilih untuk pindah ke tempat lain.
    Secara keseluruhan saya sangat menyukai karya ini. Karya ini sangat menginspirasi bagi masyarakat luas pentingnya melihat sisi lain dari sesuatu ketimbang melihat awalannya saja.

    Semoga akan terus terlahir karya-karya yang lebih menginspirasi seperti ini. Terus berkarya, Bu 🙂

    XII IPA 4
    Nadia Miranda Putri

  18. Sebuah cerpen yang menarik untuk di baca bu. Cerpen “Diantara Dua Harapan” menceritakan perbedaan harapan antara guru dan muridnya. Ratna, seorang guru CPNS yang harus mengajar di daerah terpencil berkeinginan meneruskan cita-citanya di kota. Sedangkan Teja, seorang murid yang menginginkan Ratna tetap mengajar dirinya, karena ia telah menganggap Ratna sebagai ibunya. Cerpen ini memiliki kelebihan memberikan penggambaran latar dan watak secara langsung serta dialog yang digunakan tokoh juga saling berkaitan, yang membuat pembaca mudah untuk memahami cerita.
    Selain itu cerpen ini banyak memberikan amanat yang baik dan mendalam,yaitu selalu bersyukur, tidak egois dan selalu ada pengorbanan untuk mendapat sesuatu. Ending cerita yang menggantung juga menjadi hal yang menarik untuk pembaca menerka-nerkanya.

    Semoga ibu bisa membuat karya yang lebih banyak lagi dan lebih baik lagi ya. terima kasih

    Astri Fajriati
    XII IPA 5

  19. Assalamualaikum bu..
    Wah cerpennya bagus bu. Penggunaan bahasa yang mudah dimengerti mampu membuat saya terbawa dan mampu mengimajinasikan setiap keadaan yang dialami Ratna dan muridnya. Dari setiap kalimat-kalimat yang dipakai pada suasana dalam cerpen tersebut menyelipkan makna yang amat mendalam tentang ilmu kehidupan. Bahwa setiap keadaan merupakan ujian dalam hidup, dan dari setiap ujian itu pasti ada sebuah hikmah. Itu semua dapat kita temukan melalui karakter Ratna yang bertemu seorang muridnya yang bernama Teja yang kekurangan kasih saynag dari Ibunya yang meninggalkannya sejak ia berumur 2 tahun, Teja sangat menyayangi Ratna karena Ratna yang selalu menasihatinya. Pelajaran yang dapat dipetik ialah tidak semua keadaan yang buruk itu memberikan pengalaman dan pelajaran yang buruk, tetapi apabila kita dapat belajar menerimanya pasti kita dapat menemukan suatu pelajaran berharga dari semua itu.
    Terimakasih ya bu..

    Muhamad Khairul Mas’ud Sahib
    XII IPA 2

  20. Menurut Saya cerpen ” Diantara Dua Hati ” ini berhasil menampilkan suatu cerita yang menarik, dimana dalam cerpen ini tergambar jelas bagaimana sulitnya mengajar di sekolah yang terletak di daerah terpencil, terlebih dalam mengajarkan Bahasa Inggris. Kemudian, hal ini juga diperkuat dengan latar kehidupan masyarakat dalam cerita itu yang masih tradisional yang semakin memperindah cerita.

    Selain itu, dalam cerita ini juga dapat terlihat jelas tentang kebingungan hati Ratna sebagai guru yang ingin pindah mengajar dan melanjutkan pendidikan S2 atau tetap mengajar di sekolah itu demi menuruti kemauan anak didiknya yaitu Teja.

    Kemudian jika dilihat dari alurnya, khususnya saat bagian akhir, maka dapat dilihat bahwa alurnya menggantung. dimana di cerpen itu tidak diberikan akhir cerita yang jelas. Artinya adalah bahwa penulis mengajak pembaca untuk berpikir dan menentukan bagaimana akhir dari ceritanya. sehingga menimbulkan kekhasan tersendiri pada cerpen ini.

    Namun perlu adanya perbaikan, seperti perlu dikembangkan lagi pemunculan masalahnya dan dialog-dialog yang lebih ekspresif yang dapat membawa pembaca ke dalam cerita serta sisi kecil seperti ilustrasi antar waktunya yang dapat lebih memperjelas cerita.

    Indri Wahyuningtyas
    XII IPA 1

  21. Unik sekali, baru pertama kali baca cerpen yang polanya seperti ini. Ceritanya bagus bu, kenapa? karena akhirnya ada di luar pikiran, amanatnya juga benar-benar tak di sangka. Pada awal ceritanya agak sedikit bertele-tele namun benar-benar mempunyai makna yang dalam. Ceritanya juga mengharukan dan inspiratif. Di balik sebuah kejelekan pasti ada sebuah keindahan yang tak akan pernah dapat di bayangkan oleh setiap individu 🙂

    Miranti Putri K
    XII IPA 1

  22. Assalamualaikum Bu….

    Ceritanya bagus Bu, menarik sekali untuk dibaca. Apalagi cerpen ” Diantara Dua Hati ” ini menceritakan tentang sisi lain kehidupan seorang guru baru yang bernama Bu Ratna, dimana beliau untuk pertama kalinya di tempatkan di desa terpencil dengan kondisi jalanan dan lingkungan sekitar yang masih jauh dari standar sehat dan layak pakai. Apalagi dengan materi yang akan beliau ajarkan kepada murid – murid SD disana terbilang sulit. Karena kondisi tersebut, Bu Ratna sedikit mengeluhkan nasibnya dan sangat ingin menyelesaikan tugasnya di desa itu. Tanpa beliau ketahui bahwa banyak sekali muridnya yang sangat membutuhkan materinya, dan membutuhkan sosoknya sebagai guru dan sekaligus Ibu seperti yang dikisahkan oleh Teja.
    Cerpen ini memiliki kelebihan yaitu penggambaran latar yang mudah di bayangkan dan watak masing – masing tokoh yang saling berkaitan, dan diakhir – akhir kalimat cerpen ini, banyak cerita yang menggantung sehingga dapat membuat pembaca penasaran. Selain itu cerpen ini memiliki banyak amanat dan hikmah yang terkandung, salah satunya adalah Tetap bersyukur walaupun yang kita dapat tidak sesuai dengan yang kita inginkan dan jangan pernah berfikir sesuatu yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan merupakan hal yang buruk, akan tetapi berfikirlah bahwa apabila kita bisa menerima sesuatu yang tidak kita inginkan dengan ikhlas maka kita akan mendapatkan banyak pelajaran yang berharga bagi hidup kita.

    Ambar Budi Liorin
    XII IPA 2

  23. assalamualaikum

    ceritanya sangat menarik. dengan penggunaan bahasa yang menarik dan pemilihan kata yang tepat membuat para pembaca dapat merasakan dan menggambarkan certa tersebut.
    disini menggambarkan seorang perempuan bernama Ratna yang sedikit manja yang sulit menerima kenyataan bahwa ia dipindahkan ke suatu daerah terpencil yang jauh dari rumahnya. awalnya ia selalu mengeluh namun semakin lama ia berusaha untuk ikhlas, menginagt perkataan dari kedua orangtuannya dan munculnya tokoh Teja yang menjelaskan bahwa ia telah ditinggalkan oleh ibunya sejak berusai 2 tahun. walaupun sebenarnya dalam hatinya masih terdapat keinginan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya

    dalam cerita ini, amanat yang disampaikan mudah tersirat oleh pembaca. namun penjelasan latar waktunya masih kurang jelas dan penyelesaianya menggantung.

    terimakasih

    vina valiana syahnaz
    XII IPA 2

  24. cerpen “Diantara Dua Harapan” ini menarik untuk dibaca. awalnya memang sedikit membosankan tapi jalan ceritanya malah semakin membuat pembacanya penasaran. penggunaan bahasanya mudah dimengerti dan tidak berbelit-belit. tema yang digunakan juga menarik karena mengangkat permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat, khususnya para PNS yang mempunyai dilema seperti Ratna yang ditempatkan di wilayah pelosok. Latar suasana pedesaan juga sangat mendukung cerita tersebut. cerpen ini mempunyai amanat dan nilai moral yang mendalam yang tergambar dalam sikap seorang Ratna. akhir cerita yang menggantung membuat para pembaca dapat menyimpulkan sendiri bagaimana akhir cerita dalam cerpen ini. kekurangan dalam cerpen ini yaitu penghubung latar waktu yang kurang jelas dan cenderung terlampau terlalu jauh dari satu waktu ke waktu yang lainnya. Terimakasih

    Dhanes Prabaswara
    XII IPA 1

  25. cerpen ini mengingatkan kampung halaman saya yang begitu jauh dari perkotaan. sangat menyentuh, apalagi disaat Teja dengan lugunya mengatakan semua hal saat Bu Ratna menjenguknya.
    nilai yang disampaikan sangat mendekati dengan keadaan saat ini. Sehingga, membuat pembaca mengetahui sisi hitam putih seoran guru.
    Bahasa dan pemilihan katanya pun sangat mudah dipahami, ditambah dengan pengartian bahasa sunda.
    Terus berkreasi untuk Indonesia ya bu ! 🙂

    M. Khafresa Budiansyah (XII IPA5)

  26. Assalamualaikum bu veee…
    Bu, ceritanya buat saya terharu. saya tahu ini pengalaman Ibu kan? kayaknya Ibu pernah cerita deh tentang tugas Ibu ke Baduy.. hehe
    kalau saya jadi Ibu, pasti saya juga akan galau Bu. kata-kata yang Ibu pakai juga lumayan mudah dimengerti jadi tidak membuat pembaca bingung. tapi saya mau memberikan koreksi nih Bu, gapapa kan ya? di cerpen ini, saya melihat ada beberapa tanda baca yang tertinggal seperti titik dan koma. selain itu, ada kata depan “di” untuk tempat yang seharusnya dipisah tapi sama Ibu tidak dipisah. seperti diTangerang, seharusnya di Tangerang. kayaknya itu aja deh, Bu. selebihnya Insya Allah bagus semua.

    amanat dari ceritanya tersirat tetapi mudah untuk dipahami pembaca yaitu agar kita selalu mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah dan menjalankannya dengan ikhlas serta possitive thinking.
    terakhir Bu, ceritanya masih menggantung.
    oya Bu, sebenernya kata asyik itu penulisannya asyik atau asik Bu? itu ngaruh tidak Bu jika sudah dijadikan tulisan?

    semangat Bu Vedia !!
    terima kasih,
    Wassalam

    Shofiyatul Muniroh
    XII IPA 2

  27. Menurut saya cerpen “Diantara Dua Harapan” adalah cerpen yang menarik. Sifat Bu Ratna yang suka mengeluh tetapi ramah kepada setiap orang dan sifat Teja yang diam-diam mengagumi Bu Ratna menambah cerpen ini menjadi lebih menarik. Tidak hanya itu,cerpen ini juga telah berhasil membuat pembaca menjadi terharu,terutama pada saat Bu Ratna menjenguk Teja di rumahnya. Banyak pesan yang dapat kita petik dari cerpen ini,baik yang tersurat maupun yang tersirat. Diantaranya adalah dari kalimat “di mana pun kamu ditempatkan kamu harus bersyukur” yang berarti kita harus selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kita bagaimanapun bentuknya. Pesan lainnya yaitu cita-cita dapat menjadi tidak berharga saat ada sesuatu yang lebih berharga.

    Yunike Fadila
    XII IPA 5

  28. Menurut saya cerpen “Diantara Dua Harapan” yang menceritakan seorang guru bernama Ratna yang kurang menerima mendapat tugas di daerah terpencil, dan lebih beratnya mengajar bahasa inggris yang sulit dipahami oleh anak muridnya. Ia ingin kembali ke kota untuk mengajar, dan menempuh penddikan S2, tetapi ia sangat sulit untuk meninggalkanya karena keinginan Teja muridnya yang ingin ia tidak pindah. Cerpen ini menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, ceritanya mudah dipahami. Diakhir ceritanya sangat menarik karena ceritanya yang sulit diterka, tetapi latar waktu, penjelasan Bu Ratna dan anak muridnta yang kurang jelas. Lebih menarik jika diperjelas lagi.
    Semoga bermanfaat, dan dapat melahirkan cerita yang lebih menarik dan bermanfaat.
    Fadhlan Dinur Rahman (12 IPA 5)

  29. Ketulusan rasa sayang seorang murid bernama Teja kepada gurunya,Ratna, yang menjadi tokoh utama dalam cerpen ini menimbulkan keharuan yang mendalam bagi pembaca. Hal yang membuat kegalauan Ratna untuk tetap mengajar di daerah terpencil atau meneruskan S2 tersebut, menjadikan akhir cerita semakin menarik untuk diterka. Kisah lugu anak di daerah itu juga tergambarkan dengan baik, sehingga pembaca terbawa kepada suasana kampung yang kental dengan adat sunda itu. Meskipun ada kejenuhan tersendiri pada awal membaca, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa cerita pendek DIANTARA DUA HARAPAN ini mengajarkan pembaca untuk melihat orang sekitar yang sekiranya membutuhkan kita dibandingkan keinginan dari dalam diri yang belum tentu bisa bermanfaat bagi orang lain

    Mochamad Baihaki
    XII IPA 4

  30. Ceritanya bagus dan penuh makna bu..
    Menurut saya, salah satu hal yang menarik dari cerita pendek ini yaitu siifat dari tokoh utamanya, yang biasanya di cerita pendek kebanyakan memiliki sifat protagonis, di cerita yang ibu buat ini memiliki sifat antagonis. Seperti memandang rendah murid-muridnya sendiri dengan sebutan “anak kampung” karena melihat tingkah laku mereka yang lugu, lalu sikap tokoh utama yang bertentangan dengan pendapat orang tuanya meski akhirnya ia yang mengalah dengan terpaksa, dan sikap kurang mensyukuri apa yang telah ia dapat. Namun pada akhir cerita, sikap tokoh utama terhadap kehidupan yang sedang dijalaninya itu berubah drastis. Meski tidak di jelaskan secara langsung dalam cerita, tetapi kalimat “Angin itu pula yang seolah-olah membisikkan bahwa ada sesuatu yang sangat berharga selain dari apa yang ia cita-citakan selama ini” membuat pembaca menebak kelanjutan dari cerita yang menggantung tersebut, sang tokoh utama akan berubah sikapnya.
    Selain sifat tokoh utamanya, hal menarik lainnya yaitu bahasa yang digunakan mudah dimengerti, dan banyak makna positif mengenai kehidupan yang terkandung di dalam cerita ini.
    Cukup sekian komentar saya untuk cerpen ibu..

    Keep writing bu!

    Muhammad Alif Fadhil Ramadhan
    XII IPA 2

  31. assalamu’alaikum bu..

    sungguh karya yang menarik dan bagus bu, mulai dari tema, alur, penokohan sampai setting tempat dan pesan yang di sampaikan. cerpen “Diantara Dua Harapan” ini membuat saya sebagai pembaca tersentuh dengan keadaan seorang PNS yaitu bu Ratna yang ingin melanjutkan cita-citanya namun terikat dengan pekerjaan, itu merupakan sebuah ironi yang sulit untuk di jalanani seseorang. terlebih dengan sifat bu Ratna yang suka mengeluh dengan kedaan yang bu Ratna jalani namun bu Ratna berusaha untuk menutupi sifatnya itu di depan anak muridnya, itu merupakan cerminan ketabahan seseorang, kemudian sifat teja yang nakal namun memiliki perasaan yang lembut mewarnai isi cerpen tersebut, dan yang terakhir keseluruhan cerpen ibu bagus walau dengan akhir cerita yang menggantung, pesan yang di sampaikan pun sangat memotivasi saya, terlebih dengan kalimat “setiap sesuatu yang kita kerjakan dengan ikhlas, insyaallah akan ada manfaatnya” kalimat ini sangat membangun semagat saya untuk mengerjakan sesuatu dengan ikhlas, saya bersyukur bisa membaca cerpen ibu, dan saya berharap saya bisa membuat cerpen juga,hehe
    sekian bu, hanya ini yang bisa saya utarakan,

    wassalamu’alaikum wr. wb.

    indraji prayogo
    XII IPA 4

  32. Assalamualaikum bu vedia

    Ibu, cerita ini memiliki isi kandungan yang bagus ibu. Memang awal ceritanya kurang menarik. Dan sifat tokoh di cerpen ini pada awalnya memberikan saya kesan yang buruk karena dia orang yang tidak mau mengerti tentang keberadaan dirinya sendiri yaitu sebagai guru, yang seharusnya mencerdaskan anak bangsa, bisa dikatakan dia ada sifat egois nya. Tetapi saat sudah mencapai inti cerita, membuat saya terharu karena ‘teja’ seorang murid yang ingin sekali mendapatkan perhatian oleh bu ratna untuk menggantikan posisi ibunya yang sudah 6 tahun tidak pulang, ingin bu ratna tetap mengajar di SLTP Cireunteun itu. membuat bu ratna menjadi bingung atau bisa dikatakan sesuai dengan judul yang ibu berikan di cerpen ini, yaitu Diantara Dua Harapan. Satu, harapan untuk mencapi cita-citanya yang lebih tinggi, atau untuk tetap mengajar didaerah itu.

    Bahasa yang ibu gunakan mudah dimengerti dan tidak membuat bosan, sehingga membuat rasa penasaran untuk membacanya.
    Dan cerpen ini memiliki suatu amanat bahwa seorang guru haruslah mengerti tentang perasaan muridnya yang ingin mendapatkan ilmu. karena jika muridnya sukses itu juga mengharumkan nama guru tersebut.

    sukses ibu dalam berkarya 😀 saya jadi senang membaca blog ibu hehe

    Dyah Sri Utami
    XII IPA 4

  33. septian andrianto
    dari judulnya sedikit mengerti tentang menanti dua harapan jadi teringat cerita mama pilihlah satu harapan yang terbaik dn mudah dilaksanakan insya allah akan sukses dan ada hikmahnya dibalik ini semua..bu cerita begitu menarik dan cepat atau mudah dipahami jalur cerita ini. lanjut bu cerpen berikutnya septian tunggu dengan judul yang sangat menarik, kalau bisa usul bagaimana kalau mengenai anak se usia remaja.
    septian andrianto
    XII IPA 5

  34. assalamualaikum bu..
    sebuah karya yang bagus.
    menurut saya, konflik batin tokoh ratna sangat terasa sekali yaitu antara keinginan untuk melanjutkan kuliah dengan pekerjaan yang mengharuskannya. bahasa yang digunakan baik dan jelas serta adanya dialog yg memakai bahasa sunda menjadiakan cerpen ini menarik dan tidak monoton. penggambaran latar tempat begitu jelas sehingga saya pun bisa mengimajinasikannya saat membaca namun ada bagian cerita saat berpindahnya latar tempat tidak disertai ketrangan waktu ( saat ratna selesai sholat malam, cerita langsung berpindah pada suasana sekolah) hal itu dapat membuat pembaca kebingungan. terlepas dari itu cerpen ini menarik untuk dibaca karna memberikan pesan agar kita mencoba menikmati sesuatu yang kita kurang suka dan bersyukur terhadap segala sesuatu yang diberikan karena dari situ kita bisa menemukan makna kehidupan dan juga akhir cerpen yang menggantung membuat pembaca berimajinasi menentukan akhir cerita tersebut.

    Ismayani N
    XII IPA 3

  35. septian andrianto
    dari judulnya sedikit mengerti tentang menanti dua harapan jadi teringat cerita mama pilihlah satu harapan yang terbaik dn mudah dilaksanakan insya allah akan sukses dan ada hikmahnya dibalik ini semua..bu cerita begitu menarik dan cepat atau mudah dipahami jalur cerita ini. lanjut bu cerpen berikutnya septian tunggu dengan judul yang sangat menarik, kalau bisa usul bagaimana kalau mengenai anak se usia remaja.

    septian andrianto
    XII IPA 5

  36. Ceritanya bagus, bahasanya mudah dipahami. Sifat Ratna yang begitu sering mengeluh ternyata mempunyai hati yang begitu tulus dalam mengajar murid-murid di pedalaman. hampir tidak bisa ditebak kalau Ratna mempunyai sifat seperti itu.
    sepertinya akan lebih bagus lagi kalau dijadikan novel bu.
    saya tunggu cerpen-cerpen selanjutnya 🙂

    Regina Novi Apecta
    XII IPA 5

  37. assalamualaikum bu vedia
    bagus banget bu cerpennya bikin terharu. bahasanya mudah dipahami dan konflik yang terdapat pada cerpen sangat bagus karena ia harus memilih antara mengajar di desa terpencil atau melanjutkan cita-citanya. amanat yang disampaikan juga cukup baik.
    menurut saya akhir cerita yang menggantung menambah nilai tambah pada cerpen ini karena membuat pembaca berimajinasi bagaimana kelanjutan nasib bu ratna, tetapi cerita pada awal cerpen kurang menarik dan bertele-tele.

    ditunggu ni cerpen yg lain
    sukses terus ya bu 🙂

    wassalamualaikum

    M. Bambang Perdana
    XII IPA 3

  38. Redhi Barkah XII-IPA1
    Ceritanya cukup bagus bu. Penyampaian isi cerita dan karakter tokoh sudah cukup mengena, penggambaran latar juga sangat baik, sehingga pembaca dapat membayangkannya. Akan tetapi, menurut saya, akan lebih baik jikalau tokoh Teja dalam cerita lebih di ceritakan lebih detail bagaimana, siapa, seperti apa bentuknya, ataupun berapa usianya. karena tokoh Teja di cerita adalah tokoh yang cukup penting mengisi cerita di atas. Yang saya mau tanya bu, apa cerita ini merupakan bentuk rekontruksi dari kisah pengalaman ibu? Hahaha Betapa raga ini bisa dibakar, dihancurkan, ataupun dibunuh namun gagasan kita tidak akan pernah mati. Pikiran kita akan selalu hidup dalam karya kita. Hidup untuk selamanya. Teruslah berkarya Bu!

  39. Salam bu Vedia,
    Menurut saya, cerita “diantara Dua Harapan” ini bagus, rincinya, menarik, tepat sasaran, terpahami, benang merah terlihat jelas. Membuka mata kita dimana kita menyianyiakan fasilitas belajar yang lebih eksklusif dan tidak murah, dibandingkan yang telah diceritakan dalam cerita ini. S2 yang bisa dibilang disia-siakan pemerintah kita yang bobrok ini.
    Tapi tentang kekurangan cerita ini sudah ada di awal cerita saat ibu menyebut tokoh Nining yang sama sekali tak berkontribusi dalam cerita ini, memang itu seni-nya, mungkin, tapi karena saya awam, bolehlah. Lalu cerita yang menurut saya jalan ceritanya mudah ditebak, walaupun set ending yang membuat kita untuk berpikir kelanjutannya. Lalu tentang kelakuan Teja, perasaan Teja yang tiba” muncul untuk mengakhiri cerita ini, saya kira tidak menambah “greget” cerita ini, kata “I Love You”-pun saya kira sudah sangat lazim digunakan. Amanat “mensyukuri apa yang kita punya, lalu kita kembangkan sedemikian rupa, yang pada akhirnya akan membuahkan hasil yang baik” saya kirapun masih biasa dikalangan para “seniman kata”. Lalu tentang Teja yang menyukai Ratna, tidak digambarkan secara detail bagaimana Teja memandang Ratna sebagai seorang ibu, karena dari awal, mungkin saya yang kurang teliti, seperti apa sosok Ratna secara fisik, dan kebiasaannya selain mengeluh.
    Intinya, cerita ini bagus dan baik untuk dinikmati kalangan muda dan senior.
    Selamat berkaya kembali bu Vedia!
    Salam,
    Parulian Scott.
    Golongan Ilmu Alam, Baris ke-12 Jajaran pertama.(12 IPA 1)

  40. assalamualaikum bunda vedia..

    sepertinya cerita ini pernah ibu ceritakan di kelas..hehe..
    tapi cerita yang ini lebih menyentuh dan membuat kita berkhayal saat membacanya..
    ternyata ketabahan seorang Bu Ratna itu ada sisi positifnya yaitu bisa menggantikan posisi seorang ibu untuk seorang muridnya yang bernama Teja yang rindu akan nasihat seorang ibu..bahasa yang digunakan juga dapat dimengerti..
    akhir dari cerita ini masih belum terlihat bu..dan membuat saya penasaran.. 🙂
    kalo novel ini di jadikan novel pasti banyak yang berminat bu..ditunggu ya bu novelnya 😀
    wassalamualaikum..

    refiola irmawati
    12 ipa 2

  41. Assalamualaikum Bu vedia,

    menurut saya cerpen “Diantara Dua Harapan” ini memiliki bahasa yang mudah dipahami dan alur ceritanya pun menarik. Selain itu, cerpen ini mengandung banyak nilai moral seperti bersabar dalam menghadapi cobaan, bersyukur atas apa yang diberikan Allah, jangan mudah menyerah, mengerjakan sesuatu harus ikhlas, dll. Cerpen ini juga sangat menyentuh hati, terutama ketika tokoh Teja berbicara dengan Ratna untuk mengungkapkan isi hatinya, Teja yang jujur, polos dan penyayang ini merasa tidak ingin lepas dari gurunya yang sudah dianggap seperti ibu yang hilang dalam hidupnya. Tokoh Ratna yang memiliki sifat keras kepala pun mampu digoyahkan hatinya oleh Teja, itu menunjukan bahwa sekeras kepala apapun seorang manusia ia juga memiliki hati nurani. Pokoknya cerpen ini memiliki inti yang jelas, mengharukan, menyentuh dan ending yang tidak terduga.

    sukses ya Bu untuk cerpennya, saya tunggu cerpen-cerpen yang lain 😀
    Assalamualaikum wr.wb.

    Anisah Azahrah
    XII IPA 1

  42. Assalamualaikum wr.wb

    Komentar saya tentang cerpen “DIANTARA DUA HARAPAN” :

    -Dari segi aspek formal cerpen
    *Tema: Tema yang digunakan menarik sehingga membuat nilai lebih dari tulisan
    *Dialog: Penggambaran dialog sangat pas,sehingga pembaca dapat berimajinasi ketika membaca.
    *Judul : Judulnya tepat karena ceritanya menggambarkan konflik dalam diri ratna yang ingin melanjutkan S2 tetapi karena kondisinya sekarang tidak mungkin untuk melanjutkan.
    *Nama Pengarang : Tercantum.

    -Dari segi aspek unsur instristik
    *Alur: Alur yang digunakan baik sehingga cerita mudah dipahami pembaca.
    *Tokoh: Pengambaran watak tokoh jelas.
    *Latar : Pengambaran latar suasana dan tempat baik,namun waktu ada beberapa yang kurang baik pengambaranya.
    *Sudut Pandang : Baik.
    *Gaya Bahasa : Mudah di mengerti,dilengkapi arti dari setiap bahasa daerah.
    *Pengembangan tema :Relevan dengan judul

    -Dari segi keterpaduan struktur cerpen
    * Adanya penahapan plot,kejutan cerita.
    * Dimensi tokoh dari segi psikologis dan sosiologis dapat tergambarkan dengan baik.namun dari segi fisiologis tidak tampak.

    -Dari segi kesesuaian penggunaan bahasa cerpen
    * EYD : baik terlihat pada tulisan cerpen
    * Ragam bahasa : telah di sesuaikan dengan dimensi tokoh dan latar

    *** Jericho Hamas***

    *** XII IPA 1***

  43. Ass.bu Vedia..
    Ceritanya bagus bu,bahasa yang ibu gunakan,dapat di mengerti oleh kalangan remaja sprt saya,jalan ceritanya tak terduga..
    oh iya bu..konflik yg terdapat dalam cerpen ibu sepertinya ibu dapat dari pengalaman pribadi yah,bu?

    *Berlianti XII IPA 1*

  44. Assalamu’alaikum bu.

    Cerpen yang menceritakan tentang kehidupan pendidikan di desa dengan harapan tersendiri, layak untuk dibaca para pembaca. Terbukti dengan adanya kalimat- kalimat yang dapat membuat pembaca hanyut dalam ceritanya. Selain itu bahasa dan imajinatif yang digunakan pun mudah dimengerti

    Namun, penghubung antar waktu dalam sebuah cerita harus diperhatikan agar pembaca tidak menjadi bingung jalan cerita selanjutnya.

    cerita yang berakhir tanpa kepastian, membuat pembaca menebak apakah Bu Ratna akan tetap mengajar di desa atau melanjutkan kuliah S2 nya.

    Ditunggu karya hebat selanjutnya ya buuu… ^_^

    Wassalamu’alaikum.

    > MELANI SHABRINA <
    KELAS : XII IPA 2

  45. Menurut saya, bahasa yang ibu gunakan dalam cerpen ‘Diantara dua harapan’ ini cukup mudah untuk dimengerti oleh para pembaca. Rasa haru yang seketika datang sesaat setelah mengakunya Teja telah membuka buku Ibu guru dan dipeluknya Teja oleh Ibu guru sangat pas sebagai klimaks dari cerpen ini. Salah satu kelebihan dari cerpen ini adalah dialog diantara para tokohnya yang dapat dengan mudah dibayangkan.

    IHSAN DENAWIN
    KELAS XII IPA 2

  46. Asslamualaikum bu,
    cerita yang menarik bu menurut saya. Pemilihan bahasa daerah dan penggambaran latar yang tepat membuat pembaca bisa membayangkan keadaan asli dalam cerita itu. Juga ditambah dengan pemilihan kata yang yang indah membuat nilai plus dari segi estetika di cerita ini.
    Tapi menurut saya ada beberapa bagian yang tidak masuk akal, seperti sifat kepekaan Teja yang sebenarnya masih anak bocah namun bisa bertindak layaknya orang yang berfikiran dewasa. Menurut saya lebih baik tokoh Teja ini lebih dijelaskan dari segi usia atau kebiasaan berfikiran dewasa sehingga tercipta kepekaan itu.
    Wassalamu alaikum

    Ryan Hidayat
    XII IPA 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: