SAMAN SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN SEX DAN ATAU MEDIA ONANI

Oleh: Vedia, M.Pd.

 

Karya sastra sarat dengan makna, pesan atau amanat di dalamnya. Bahkan karena hal-hal tersebutlah suatu karya sastra dikatakan sebagai karya yang indah, jadi bukan hanya dari segi penggunaan bahasanya.Suatu karya dapat dikatakan kering apabila ia tidak memiliki makna atau amanat yang hendak disampaikan pengarangnya,sedangkan keindahan penggunaan bahasa adalah bumbu penyedap sehingga suatu karya ‘enak’ dinikmati.

Kita patut bangga karena sekarang ini banyak pengarang muda yang menghasilkan suatu karya sastra,bahkan karya mereka sudah bisa dikatakan karya sastra yang universal .Keuniversalan itu sendiri kadang-kadang terlalu dipaksakan. Banyak pengarang muda yang menganggap bahwa suatu karya sastra dapat dikatakan sebagai karya yang universal bila karyanya itu dapat diterima di dunia (lebih menunjukkan dunia barat). Padahal sesuatu yang universal tidak dapat dipaksakan dengan cara mengikuti kebiasaan atau pola hidup dunia lain selain dunianya sendiri! Karena sesuatu yang dianggap lazim di suatu negara belum tentu lazim pula di negara yang lain.

Saman, sebagai contoh hasil tulisan pengarang muda yang notabene telah mendapatkan suatu penghargaan adalah juga suatu karya yang dianggap telah memenuhi keuniversalan tadi, sehingga masuklah novel tersebut ke perpustakaan-perpustakaan sekolah yang pembacanya adalah siswa-siswi yang usianya sedang menunjukkan rasa ingin tahu dan rasa ingin mencobanya sangat tinggi. Maka dapat dimaklumkan bila pada usia ini anak akan meniru sesuatu yang dilihatnya, dibacanya, bahkan apa didengarnya untuk membuktikan kebenaran dari apa yang dilihat, dibaca maupun apa yang didengarnya tersebut.

Seperti tadi telah dikemukaan di atas bahwa karya sastra sarat dengan makna dan amanat, maka demikian juga halnya dengan Saman memiliki isi dan misi. Kita dapat lihat adanya suatu perjuangan hidup, pengorbanan, keikhlasan sebagai amanat yang terkandung dalam novel Saman. Namun, kita juga tidak dapat menutup mata bahwa di sana, di novel Saman ada pembicaraan mengenai sex. Bahkan pembicaraan sex ini lengkap dengan deskripsi bagaimana cara melakukannya, apa alatnya, sampai bagaimana rasanya. Bila pembicaraan mengenai sex dalam Saman dimaksudkan sebagai amanat untuk pendidikan sex, dapatkah Saman dikatakan sebagai media pendidikan sek bagi anak sekolah? Dengan gaya bahasa yang vulgar tidakkah hal ini justru akan membuat siswa-siswi membayangkan perihal sex tersebut sampai mereka tidak sadar bahwa ketika mereka membayangkan hal tersebut celana mereka telah basah? Lantas bagaimana bila hal ini juga dianggap sebagai hal yang patut diketahui dan sekaligus patut dicoba juga dirasakan oleh siswa-siswi yang membaca novel tersebut?

Sudah banyak contoh yang menunjukkan bahwa apa yang dilihat, dibaca, didengar anak ditiru oleh mereka. Misalnya saja tayangan sinetron yang mengisahkan tentang percintaan di usia remaja, maka banyak anak meniru bahkan mungkin merasa diajarkan apa dan bagaimana orang bercinta itu, sehingga tidak aneh lagi pada zaman sekarang kita melihat anak yang masih berseragam sekolah bergandengan tangan dengan mesra sambil jalan, bahkan ketika sedang duduk di mobil angkutan. Mereka tidak lagi merasa canggung untuk bermesraan dihadapan orang banyak. Selain itu bagaimana cara siswa berpakaian seragam dalam sebuah sinetron pun sering dijadikan contoh, akhirnya pihak sekolahlah yang kewalahan mengatasi tingkah siswa yang menggunakan rok pendek, rok yang digunakannya dipanggul bukan dipinggang, baju yang kekecilan sehingga membentuk tubuh. Ketika hal ini banyak menimbulkan protes di berbagai media, pihak yang terkait dengan penanyangan sinetron tersebut malah bersikap “Anjing menggonggong kafilah berlalu”, seolah-olah perubahan prilaku dan jeleknya moral generasi muda bukanlah tanggung jawab mereka juga.

Kenyataan memang menunjukkan bukan hanya Saman satu-satunya novel sastra yang berbicara tentang sex.  Dalam Olenka misalnya, di sana diceritakan bagaimana tubuh Olenka dijadikan peta oleh Fanton, namun seperti apa maksud menjadikan tubuh Olenka seperti peta tidak begitu jelas, mungkin orang dewasa lebih mengerti apa yang dimaksud,

sementara anak remaja tidak (mudah-mudahan tidak!). Tidak demikian dengan Saman, bagaimana prilaku tokoh-tokoh di dalam novel tersebut melakukan masturbasi, bagaimana tokoh Laila dengan Sihar bermain sex, bagaimana tokoh Saman yang tadinya seorang pastor  malakukan sex bebas, bagaimana seorang yang cacat mental melakukan masturbasi hingga tercapai  kepuasan sex , jelas tergambar dalam novel ini.

Kalau dalam Olenka  seorang anak akan mereka-reka prilaku sex seperti apakah  yang

dilakukan orang dewasa, sedangkan  pada Saman anak tidak perlu menerka , karena di sana  jelas digambarkan  bagaimana prilaku sex itu berlangsung, bahkan alat apa yang dapat digunakan untuk mencapai kepuasan sex juga ada di sana. Kalau memang demikian sekali lagi dipertanyakan apakah novel seperti ini dapat dikatakan sebagai media pendidikan sex atau media onani?

Dengan maraknya penjualan VCD porno, buku porno, majalah dengan  cover bergambar “syuur” di pinggir jalan saja anak-anak usia remaja baik yang masih duduk di bangku sekolah  apalagi yang sudah putus sekolah mudah terangsang untuk mencoba melakukan hubungan sex, minimalnya mereka bermasturbasi. Bahkan mereka yang masih dikategorikan sebagai anak ingusan (anak SD) juga bisa terasang dengan hal-hal sedemikian. Apalagi ditambah dengan adanya novel sastra (disediakan di sekolah) yang di dalamnya diuraikan prilaku sex mulai dari bagaimana cara melakukan onani sampai bagaimana melakukan hubungan intim dan apa rasanya. Kalau sudah begini apa bedanya novel sastra yang selama ini dikenal sebagai karya yang sarat makna dan santun bahasanya dengan novel picisan yang banyak mengumbar aurat.

Pembicaraan mengenai sex yang mengumbar aurat ini tidaklah akan terasa ganjil bila dibaca oleh masyarakat barat yang memang dalam kehidupan sehari-harinya mereka seperti itu. Tidak aneh bagi masyarakat barat melihat ataupun membaca hal-hal yang berbau porno, karena memang menurut mereka hal tersebut adalah hal biasa. Cara mereka berpakaian setiap harinya saja tidak memperhatikan aurat yang harus ditutup. Belum lagi kehidupan sex bebas yang berlaku di negara tersebut, sehingga banyak anak lahir di luar nikah, banyak wanita yang harus rela hidup tanpa ikatan nikah sehingga bila sewaktu-waktu sudah tidak menyenangkan lagi bisa dilupakan begitu saja atau harus menerima dengan legowo ketika pulang ke rumah melihat pasangannya sedang asik berhubungan intim dengan wanita lain.

Pada hal-hal yang seperti inikah kita mengacu, agar suatu karya satra dapat dianggap sebagai karya yang universal? Mengapa kita tidak mau mengakui bahwa kehidupan kita tidaklah sama dengan kehidupan mereka, sehingga kita mau mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh Arif  Budiman mengenai sastra kontekstual adalah benar,”Penulisan karya sarya sastra memang harus diarahkan kepada pencapaian yang indah. Tapi persoalannya, apakah yang disebut indah itu sama untuk semua orang. Di sinilah muncul gagasan tentang apa yang disebut dengan sastra kontekstual”. (Horison Esai Indonesia, hlm.1)  Dengan sastra kontekstual kita bisa berkreasi sesuai dengan fitrah kita.

Banyak kalangan seni, yang selama ini sering mengaitkan hal-hal yang berbau porno dengan keindahan dan kreativitas, mereka mengatakan, “Kita jangan munafik toh  orang Indonesia sendiri sekarang ini gaya hidupnya tidak jauh beda dengan gaya hidup orang barat”. Pernyataan ini benar!  Memang benar di Indonesia sudah banyak gadis yang harus melahirkan anak tanpa jelas siapa ayahnya, banyak tempat-tempat yang menyajikan acara untuk memenuhi kepuasan sex dari yang normal-normal saja sampai yang abnormal, dari yang tertutup dan ditutup-tutupi sampai yang terbuka, banyak pasar yang menyediakan hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan sex. Namun, haruskah ini biarkan saja, malah didukung terus sehingga prilaku seperti ini tidak di anggap sesuatu yang aneh lagi? Benarkah kita rela melihat bangsa kita menjadi bangsa yang tidak lagi mempunyai aurat?

Tidak bisakah hal yang dikatakan seni dan keindahan itu benar-benar dinyatakan untuk sesuatu yang benar-benar indah, tanpa membuka aurat. Paling tidak keindahan aurat ini cukuplah dinikmati oleh orang yang telah menjadi muhrimnya, sehingga kita  tidak menjadi orang yang dzalim bahkan terhadap diri kita sendiri. Cukupkan saja keindahan berbau prono ini diakui oleh dunia lain yang mau mengakuinya, tidak dunia sastra.

Dunia sastra yang masuk dalam dunia pendidikan seharusnya dapat melihat suatu keindahan atau seni yang mendidik  pembacanya. Dunia sastra harus mampu membedakan ke-seni-an dengan ke-porno-an.

Keindahan Saman dalam segi teknik penceritaan , penggunaan gaya bahasa dan pendeskripsian yang sangat kaya harus diakui sekaligus patut ditiru oleh penulis-penulis lainnya, namun tidak ke-porno-an-nya! Karena adalah benar pendapat YB.Mangun Wijaya pada bagian belakang halaman sampul Saman,”Superb, splendid… novel ini dinikmati dan berguna sejati hanya bagi pembaca yang dewasa. Bahkan amat dewasa. Dan jujur. Khususnya mengenai dimensi-dimensi politik, antropologi sosial dan teristimewa lagi agama dan iman.”

Pernyataan di atas setidaknya menujukkan kehebatan novel Saman sekaligus  menujukkan terhadap siapa novel itu sendiri dapat berguna. Menurut beliau novel ini patut dinikmati oleh orang dewasa yang benar-benar telah dewasa (matang dalam berpikir) dan jujur, artinya novel ini tidak

semua orang bisa mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya.Orang dengan tingkat kematangan yang rendah serta keimananan tipis akan mudah mengalami kesalahpahaman dalam menafsirkan amanat yang terkandung dalam novel Saman. Kalau orang dewasa saja dapat mengalami kesalahan dalam memahami novel Saman apalagi anak usia sekolah yang masih banyak membutuhkan bimbingan, sementara kita tidak mungkin mengawasi anak satu persatu ketika anak tersebut sedang membaca.

Namun, Saman saat ini telah masuk ke perpustakaan-perpustakaan sekolah. Hal ini membuat kalangan pendidik bingung. Di satu sisi novel ini dianggap bagus karena telah mendapatkan penghargaan  sehingga siswa patut membacanya dengan tujuan untuk membangkitkan kecintaan siswa terhadap novel sastra. Lebih jauh lagi pemberian bacaan sastra pada siswa bertujuan untuk memotivasi siswa agar dapat menciptakan karya sastra. Sementara di sisi lain pendidik bertanya-tanya apa yang harus mereka lakukan ketika mendengar bisik-bisik,”Eh, baca deh novel anu, ada cerita joroknya lho!”, “Masa sih, dibagian mana yang joroknya?” Jadi yang menarik bagi siswa bahkan mungkin juga bagi gurunya adalah bagian joroknya!

Kalau goyang pantat Inul saja dapat membangkitkan gairah sex, bahkan ada berita pemerkosaan lantaran tak kuat menahan nafsu setelah menonton goyang pantat Inul, bagaimana reaksi orang sehabis membaca novel Saman? Sejauh ini memang belum ada berita tindakan asusila yang dilatarbelakangi kegiatan sehabis membaca novel Saman. Namun paling tidak imajinasi sex di benak sebagian pembaca Saman  pasti ada!

Goyang ngebor Inul selama ini menimbulkan kreasi tari berupa; goyang ngecor, goyang khayang, goyang patah-patah, goyang vibrator, dan lain-lain yang semuanya tanpa malu-malu mengedepankan kemaluannya. Kreasi apakah yang timbul setelah adanya novel Saman? Mungkihkah  akan muncul novel-novel dengan gaya bahasanya yang vulgar, bahkan lebih vulgar lagi dengan tujuan karyanya dapat dianggap sebagai suatu karya yang universal? Kalau ini sampai terjadi ada satu pertanyaan yang patut diajukan  yaitu, “Di mana tanggung jawab moral para seniman kita?”

Tanggung jawab moral bangsa ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, kyai, dan guru, semua orang dewasa yang memiliki akal sehat memikul tanggung jawab moral bahkan kepada  dirinya sendiri. Seniman sebagai pencipta suatu karya, harusnya sadar bila ia mencipkan suatu karya maka karyanya tersebut akan dilihat oleh banyak mata dan akan meliki dampak. Jadi mereka harus bisa memikirkan dampak apa yang akan timbul sebagai buah apresiasi terhadap karya     yang dicipkannya.

Seniman harus dapat melihat dengan jelas dan merasakan sesuatu secara lebih peka, sehingga dapat melihat bahwa seni adalah seni, porno adalah porno, bukan seni adalah porno ataupun porno adalah seni.Sehingga tidak perlu ada lagi pernyataan seni berbau porno! Kepedulian terhadap pembangunan sikap bangsa ini harus dimiliki oleh seniman. Karena karya mereka yang berupa musik, tari, patung, tulisan, gambar, film, dan sebagainya sangat akrab dengan kehidupan masyarakat dan memiliki dampak yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat itu sendiri.

Saman dengan pendeskripsian yang indah dan penarasian yang unik mudah-mudahan menjadi sumber inspirasi penciptaan karya sastra yang lebih bijak, lebih bermakna, dan lebih membumi.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Bu. menurut mutia artikel ini perlu dimuat, karena informasi ini perlu dibaca oleh siapapun yang peduli dengan generasi bangsa. Perubahan untuk mengalihkan dunia anak kepada kreativitas yang tidak berbau porno adalah hal yang paling bisa diandalkan untuk pemecahan masalah ini, namun sayangnya belum ada para peneliti yang bisa memecahkan masalah ini. Saya juga sangat mendukung dengan pernyataan ” gaya hidup orang indonesia tidak jauh dengan gaya hidup orang barat”, karena itu merupakan suatu gambaran negara indonesia saat ini. belum lagi masalah sastra yang dijadikan sebagai seni porno itu salah besar. Sastra yang secara turun-temurun benar-benar asli dibuat dari hasil pemikiran yang jernih, imajinasi yang indah, kini disia-siakan oleh tangan jahil yang mengotori sastra atau dalam arti menyalahgunakan sastra menjadi sesuatu yang tidak memiliki moral. Keprihatinan saya cukup dahsyat kepada seniman yang menggunakan bahasa-bahasa yang menggairahkan sisi sex pembaca, karena seniman yang seperti inilah yang belum pantas mendapat gelar seniman, karena seniman ini adalah seniman yang gagal menciptakan kreasi terindah untuk dirinya dan orang lain. Terima kasih.

    MUTIA PRAJAWITA
    XII IPA 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: