Seratus Hari

Nonon tak pernah menyangka kalau ciuman yang diberikan pada tangan, kening, dan kedua belah pipi ibunya yang biasa disapanya dengan sebutan emak pada Senin itu merupakan ciuman yang bisa ia berikan untuk yang terakhir kalinya. Batinnya selalu menyesali mengapa ia tak pernah sampai mencium telapak kaki emak selagi emaknya masih sadar. Memang ia sempat mencium kaki emak tapi ciuman itu baru ia berikan saat kondisi emak sedang koma dua hari sebelum menghempaskan nafas terakhirnya.

Penyakit diabet yang menyerang emak tak kenal ampun. Padahal selama ini emak tak pernah terlihat sakit. Hal ini pula yang membuat Nonon menyesal mengapa ia tak pernah memperhatikan kesehatan orang tuanya, ia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Akhir-akhir ini memang tubuh emak terlihat mengurus, namun ia dan kakak-kakaknya berpikir bahwa diet yang dilakukan emaknya berhasil. Ternyata yang terjadi sebenarnya adalah penyakit diabet tengah menggrogoti tubuh emak yang subur.

Nonon juga tak pernah mengira kalau anjuran yang ia sampaikan pada kakaknya untuk membawa emak check up ke rumah sakit malah memaksa emak masuk ke ruang ICU.

Selasa pagi dada emak sesak. Nonon sedih ketika ia mendapatkan kabar kondisi emak yang seperti ini. Ia jadi semankin gelisah karena memang dari semalam ia tidak bisa tidur, perasaannya sangat tidak enak. Semalaman ia terbayang-bayang wajah emak yang terlihat jauh lebih tua dari semestinya, belum lagi ia juga merasa adanya keanehan, hatinya bertanya-tanya mengapa kemarin emak selalu ingin sholat, bolak-balik ke kamar mandi untuk berwudhu.

”Mak, mau sholat ape gini ari?” tanya Nonon saat melihat emaknya selesai berwudhu.

”Sholat Ashar” jawab emak lirih.

”Lho Mak, ini kan baru jam setengah dua belon waktunye pan baru aje emak sholat Lohor” jelas Nonon pada emaknya.

Emak diam saja, matanya semakin sayu. Tak lama kemudian emak sudah mengambil wudhu lagi, lalu dijelaskan kembali oleh Nonon bahwa waktu Ashar belum tiba. Begitu terus sampai benar-benar waktu Sholat Ashar tiba. Tak terasa air mata Nonon terus mengalir ia jadi ingat juga bagaimana neneknya dulu menjelang ajalnya menunjukkan perilaku yang sama seperti emaknya. Namun demikian,  Nonon berusaha menepis firasat buruk yang bersarang di dadanya.

Pukul setengah delapan telepon genggam Nonon  berdering. Bunyinya begitu mengagetkan, jantungnnya berdegup kecang. Kak Imah! Buru-buru Nonon mengangkat telepon dari kakaknya itu.

”Non, emak masuk UGD, dan dokter meminta persetujuan dari keluarga untuk merawat emak di ruang ICU karena kondisinya kritis, bagaimana menurut Non?” Suara kak Imah terdengar putus-putus diselingi dengan suara sesegukan tangis.

”Kalau memungkinkan, baiknya emak dibawa ke rumah sakit yang bisa menerima Askes saja” ujar Nonon setenang mungkin.

”Emak nggak mau” jawab kak Imah panik

”Ya sudah lakukan saja yang terbaik, bentar lagi Non ke sana”

Nonon langsung menghubungi kakak-kakaknya yang berada di luar kota, mengabarkan keadaan emak. Kemudian ia izin pada kepala sekolah untuk pulang karena emaknya sakit.

Perjalanan yang melelahkan tak dirasakan oleh Nonon. Sesampainya di rumah sakit Nonon tak dapat menahan air mata. Terlihat mata babe memerah bekas tangisan, demikian juga dengan kak Imah.

”Apus aer mata Non! Emak pasti sedih kalau lihat Non menangis” pinta bapaknya yang biasa disapa dengan panggilan babe, pada Nonon.

Setelah berhasil menenangkan diri Nonon menengok emaknya yang terlihat gelisah. Di ruang UGD yang ber-AC itu terdapat peralatan medis yang cukup banyak yang Nonon sendiri tidak begitu mengerti  masing-masing penggunaannya. Nonon hanya tahu tabung yang berada di sebelah kiri emak adalah tabung oksigen. Nafas emak  masih tersengal-sengal walaupun sudah dibantu dengan oksigen. Bibirnya kering dan pucat.

”Aus, aus !” erang emak pada suster yang menjaga.

Dokter tidak membolehkan terlalu banyak minum, kasihan emak pasti ia sangat kehausan. Terlihat suster sibuk menangani emak Nonon melihat bagaimana tak lama kemudian jari emak ditusuk dengan jarum kemudian darah pun keluar. Darah itu diambil kemudian diletakan di sebuah alat kemudian alat yang ada darahnya itu ditaruh di sebuah alat berbentuk kotak mungkin itu adalah mesin pemeriksa darah. Jari emak yang lainnya dijepit dengan penjepit yang mirip dengan jepitan jemuran, tetapi ada lampunya entah untuk apalagi.

Nonon tidak banyak bertanya, ia takut dikatakan cerewet. Jangan-jangan bila ia cerewet nanti emak tidak diberikan perawatan yang baik, begitu pikirnya. Sama dengan kebanyakan orang Indonesia lainnya selalu ketakutan dan malu untuk bertanya.

”Tenang ya Mak, bentar lagi juga emak sembuh” tutur Nonon mencoba menghibur emak sambil sesekali meneteskan air di bibir emak.

Nonon mendekati kakaknya, ia tak sabar ingin tahu penyakit apa yang membuat emak harus dipasangi berbagai kabel di tubuhnya.

”Sebenernye Emak kenape?” tanya Nonon penasaran.

”Gula, gula emak sampai 600” jelas kak Imah

”Astagfirullah” ucap Nonon kaget.

Tak lama kemudian, dari ruang UGD emak dibawa ke ruang ICU. Sebelumnya dokter sudah memberitahu  emak, bahwa nanti lebih banyak lagi peralatan yang akan digunakan, mungkin dokter merasa perlu menyampaikan hal itu pada pasien agar pasien tidak kaget.

Waktu berjalan cepat sekali Nonon diminta kak Imah pulang duluan untuk mengambil tabungan di bank. Walaupun Nonon dan kakaknya berusaha untuk tidak membicarakan masalah biaya di depan babe, namun babe tetap ingin tahu.

”Non diminta ambil uang?” tanya babe.

”He eh” jawab Nonon singkat.

”Memangnya Non disuruh ambil berapa? Kan tadi udah nyetor uang 7 juta”

”Iye, tapi sekarang dokter minta kite nyiapin empat juta lagi soalnye ade obat yang masih harus dibeli” jelas Nonon.

Babe terdiam air matanya meleleh membasahi pipinya yang sudah berkerut. Bibirnya gemetar. Sorot matanya menunjukkan kegelisahan yang bercampur kesedihan, ah tak tega Nonon melihatnya.

”Memangnya Non punya uang sebanyak itu?”

”Insyaallah ada”Ucap Nonon menenangkan.

”Masyaallah ni rumah sakit bener-bener nyari duit. Kagak liat orang lagi kesusahan”

”Sudahlah Be, Babe nggak usah bingung insyaallah ada jalan kluwarnye”

”Iye paling kalo ampe mentok kite jual aje rume kite ye”

”Yang penting emak sembuh”

Nonon sangat sedih melihat bapaknya sampai memutuskan akan menjual rumah untuk biaya pengobatan emak. Bagaimanapun babe adalah sosok suami yang sangat mencintai istri. Mungkin hati kecilnya sedih tidak bisa berbuat apa-apa untuk istri tercinta, padahal istrinya sedang membutuhkan perawatan dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sementara ia tak punya apa-apa kecuali rumah yang sekarang ditempatinya, rumah di mana Nonon dan ketiga kakak-kakaknya dibesarkan.

Akhir-akhir ini kehidupan rumah tangga memang hanya mengandalkan gaji emak sebagai guru PNS ditambah dengan uang dari anak-anak emak yang sudah bekerja. Makanya sejak dari awal Nonon sudah meminta kak Imah untuk membawa emak ke rumah sakit yang mau menerima Askes. Namun, apa boleh buat, emak telanjur percaya bahwa pengobatan di rumah sakit Moris sangat bagus seperti yang ia dengar dari sahabatnya, bu Mamay.

Rumah sakit Moris merupakan rumah sakit besar di daerah Cileduk. Lokasinya pun tidak begitu jauh dari tempat tinggal keluarga Nonon. Di rumah sakit ini segala sesuatunya terlihat mewah, waktu tadi baru masuk saja Nonon sempat terpesona dalam hati ia bergumam ”Ini rumah sakit apa hotel kok bagus amat?”. Satu kekurangan rumah sakit swasta ini adalah tidak mengenal amal. Mata mereka seakan buta oleh keadaan pasien dan keluarga pasien. Mereka tidak akan mengizinkan pasien dirawat bila tidak bisa menyetorkan uang jaminan.  Menyedihkan memang, namun kenyataannya memang seperti itu.

Babe dulu pernah berwiraswasta, namun  telah lama usahanya bangkrut karena kehabisan modal. Bantuan dari anak yang bisa diharapkan hanya dari Nonon dan kak Imah yang belum berkeluarga. Kakak Nonon yang pertama seorang laki-laki yang kini sudah berumah tangga, ia hidup hanya dengan menjadi supir antar jemput anak sekolah. Uang yang didapatnya hanya cukup untuk istri dan ketiga anaknya yang masih kecil-kecil. Kakaknya yang nomor dua seorang perempuan juga sudah berkeluarga, tinggal di luar kota. Kehidupannya lumayan namun tampaknya gaya hidup telah menguras seluruh gajinya sehingga jangankan untuk orang tua, untuk menabungpun tidak bisa. Paling sesekali kalau ia lagi ingat ia akan memberi pada babe atau emak, terutama kalau hari raya Idul fitri.

Nonon adalah anak paling kecil ia sangat dekat dengan emak segala yang diajarkan oleh emak ia jalankan termasuk anjuran untuk biasa hidup hemat. Gajinya yang belum seberapa itu ia pos-poskan untuk orang tua, untuk makan atau jajan, untuk transport, untuk bayar kos, dan sisanya ditabung. Karena begitu dekatnya tak ada rahasia yang sembunyikan Nonon pada emaknya. Emak tahu semua perkembangan Nonon, emak tahu kapan pertama kali Nonon jatuh cinta, Emak juga pasti tahu apa yang sedang menjadi keinginan Nonon. Dan tiap kali Nonon minta didoakan atas keinginannya itu emak selalu menjawabnya, ”Aamiin, doa emak nggak ada putus-putusnye!”

Kak Imah, kakak persis di atas Nonon, sebenarnya ia orang yang boros tapi perhatiannya pada orang tua tidak pernah kurang. Dan hanya ia yang selama ini menemani emak dan babe di rumah, karena Nonon harus Kos. Nonon terlalu lelah untuk pulang-pergi ke Lebak tempatnya melaksanakan tugas sebagai guru PNS.

Tiba-tiba lamunan Nonon dibuyarkan oleh suara menggelegar disertai kilatan cahaya di langit. Hujan belum turun, namun kilat halilintar sudah terdengar. Langit mendung demikian juga hatinya yang selalu teringat akan emak. Jarum jam menunjukkan pukul tiga sore, namun seperti sudah pukul tujuh malam, gelap mencekam. Nonon kembali melanjutkan kegiatan membaca buku yang baru dibelinya, sebuah buku berjudul ”Leadership Quotient” karya Martha Tilaar. Suara hallilintar terdengar lagi kali ini disertai jatuhnya air hujan dengan derasnya.

Pagi itu Nonon berangkat ke tempatnya mengajar seperti biasa, hanya gerak langkahnya saja yang agak berbeda, kurang semangat. Nonon yang centil nyaris tak nampak lagi, sepeninggal emak ia memang agak berubah. Ia langkahkan kakinya dengan santai menyusuri jalan kecil berbatu dan menanjak yang di kanan kirinya masih hutan. Nonon selalu menikmati perjalanan ke sekolah, ia menghirup napas dalam-dalam, segar rasanya, ia benar-benar menikmati bau dedaunan di pagi hari. Ia memang cinta dengan desa ini karena kampung halamannya yang walaupun masih disebut kampung tapi sudah terjamah dengan teknologi yang menebarkan asap polusi. Kampungnya memang terletak di pinggiran kota sehingga sulit untuk terhindar dari dampak kemajuan kota.

Biasanya ia tak bisa menyembunyikan keriangan hatinya menyambut pagi. Tangannya direntangkan hingga angin dingin membelai lembut tangannya, menyusup terus hingga terasa sampai  ke ketiaknya. Jalannya juga setengah berjingkrak, kadang kalau suasana sepi sekali, ia tak segan-segan melepas sepatunya dan berjalan dengan kaki telanjang. Ia nikmati sentuhan batuan dan kerikil menusuk saraf-saraf kakinya, ia rasakan aliran darah yang menghangat diseputar kakinya.

Kalau kebetulan ia bertemu dengan penduduk desa, ia akan memasang senyum lebar-lebar, dan orang desa itu pun membalas senyumannya. Sebagian dari mereka mengerti dengan tingkah Nonon sebagai orang yang sedang menikmati alam pedesaan, sebagian lagi menatap dengan tatapan keheranan.

Sampai di sekolah ia disambut oleh beberapa anak murid yang sedang bercengkrama di halaman sekolah, mereka pun berlarian mendatanginya, ia julurkan tangannya, anak-anak mencium tangan Nonon dengan hormat. Tak jarang tangannya yang satunya lagi membelai kepala anak didiknya dengan rasa sayang yang tulus.

”Pagi Bu!” sapa mereka.

”Pagi” jawab Nonon dengan ramah.

Nonon berusaha menyembunyikan kesedihan hatinya. Biaya rumah sakit memang tidak sampai menyebabkan babe menjual rumah, namun biaya tahlilan telah membuat babe berhutang kesana kemari. Tabungan Nonon sudah ludes, ia tak bisa lagi membantu. Ia ingat percakapannya dengan babe kemarin sebelum berangkat ke desa ini.

”Non, seratus harian emak minggu depan, kite butuh biaya lagi”

”Be, Non udah nggak punya duit lagi. Udahlah Be, kite nggak usah ngadain seratus harian emak, kite eje sekeluarga doain emak”

“Nggak bisa Non! Ape kate orang nanti?”

Nonon bisa memahami apa yang ada dipikiran babe. Pastilah babe takut menjadi omongan orang kalau tidak bisa menyelenggarakan seratus harian emak. Padahal Nonon sudah berusaha menjelaskan bahwa tradisi seratus harian tidak ada ajarannya dalam agama.

”Be, utang kite ame pak Jali dan pak Tobing aje belum lunas dibayar, kemane lagi kite cari duit?”

”Itulah Non, kemaren babe udah coba hubungin pak Daud katenye die minat ame nih rumah”

“Ape? Ya Allah, terus babe ame kak Imah mau tinggal di mane?”

“Kite beli aje rumah yang kecilan mudah-mudahan ade”

Nonon hanya bisa menarik napas panjang. Babe pasti lebih berat pada tradisi, babe tak sanggup menanggung malu dan mendengar omongan orang mengenai dirinya yang tidak bisa menyelenggarakan seratus harian istrinya.. Memang sulit melawan tradisi.

Ketika Nonon memasuki ruang guru teman-teman menyapanya hangat. Sudah tiga hari ia tak berjumpa dengan teman-temannya, biasanya ia pulang hari Sabtu, tetapi Minggu kemarin ia pulang hari Kamis karena tidak enak badan.

”Waduh orang kota baru kelihatan lagi nih”sapa pak Opik guru olah raga.

”Ah, Pak opik bisa aja, kangen ya?” Nonon membalas dengan canda.

” Eh, yang kangen bukan saya saja, tadi bapak kepala sekolah baru datang juga sudah mencari Bu Nonon” sahut pak Opik sambil melirik ke ruang kepala sekolah.

” Ibu diminta menemuinya di ruangannya” jelas pak Asep guru bahasa Sunda.

Nonon baru saja mau menemui kepala sekolah, ketika tiba-tiba bapak kepala sekolah sudah ada di hadapannya. Mungkin ia sudah mendengar suara Nonon dari ruangannya.

”Bagaimana Bu Nonon, sehat?” sapa bapak kepala Sekolah

”Alhamdulillah, Pak” jawab Nonon.

”Untung Ibu datang hari ini, sudah dari hari Jumat saya mencoba hubungi nomor HP Ibu tapi tidak ada jawaban demikian juga dengan telepon rumah, padahal waktunya mendesak”

Ya memang sekarang ia akan sulit dihubungi bagaimana tidak Hpnya sekarang sudah dijual, dan telepon rumah sudah diblokir karena sudah tiga bulan tidak bayar, semuanya terjadi untuk menutupi biaya tahlilan yang sangat besar. Memang tradisi tahlilan di daerahnya sangat memakan biaya, karena orang yang datang hampir seluh isi kampung ditambah beberapa orang dari kampung tetangga, semuanya harus diberi besek (berisi nasi dan lauk pauk) dan amplop yang isinya sepuluh ribu rupiah. Belum lagi untuk bayar kyai atau ustadnya. Padahal kondisi keuangan sedang minim karena terkuras untuk biaya emak di rumah sakit.

”Memangnya ada apa Pak ?” tanya Nonon penasaran

”Bu Nonon masuk tiga besar dalam pemilihan guru berprestasi tingkat propinsi, dan grand finalnya besok hari Selasa di ruang serba guna Gedung Pemerintahan Propinsi Banten pukul tujuh Bu Nonon sudah harus ada di sana”

”Alhamdulillah!” hanya itu yang keluar dari mulut Nonon matanya berkaca-kaca menahan haru. Ia sendiri nyaris tidak ingat kalau ia tengah diseleksi untuk menjadi guru berprestasi tingkat propinsi setelah lulus seleksi tingkat kabupaten.

Nonon pergi ke Pusat Pemerintahan Propinsi dengan diantar oleh Aceng keponakan ibu kos, yang sangat baik kepadanya. Setibanya di sana ia disambut panitia pemilihan dan diberi petunjuk di mana ia harus duduk. Kursinya berada di bagian depan sebelah kanan ruangan. Di bagian ini ada tiga baris kursi dengan tiap barisnya terdiri sepuluh kursi, rupanya barisan ini khusus untuk para calon guru berprestasi tingkat propinsi mulai dari TK sampai SMA dari berbagai kabupaten dan kota madya. Di seberangan barisan ini, yaitu sebelah kanan ruangan  terdapat empat  kursi untuk panitia dan pembawa acara.

Sementara para pejabat yang berwenang sebagai dewan juri duduk di tengah-tengah ruangan, depan panggung. Di belakang dewan juri adalah para undangan serta para pendukung calon guru berprestasi. Ruangan nyaris penuh dengan manusia namun tidak terdengar suara berisik semuanya duduk dengan tenang, hanya sesekali terlihat beberapa panitia sibuk lalu lalang.

Tiba-tiba suasana menjadi agak ramai, terlihat serombongan orang dewasa mengenakan seragam pemda dan beberapa anak berseragam putih abu-abu baru datang. Ketika Nonon melirik ke arah mereka ada diantara mereka yang melambaikan tangan, Nonon masih tidak sadar sebenarnya siapa yang dilambaikan. Sampai ia melihat salah seorang berjalan dengan penuh wibawa. Ah siapa lagi yang punya gaya berjalan dan sisiran rambut yang khas seperti James Bon ternyata benar ia adalah kepala sekolah tempat Nonon mengajar dan yang lain adalah teman-teman serta murid-muridnya. Nonon tersenyum lebar, hatinya yang beku sedari tadi karena grogi, kini mulai hilang. Dirasakan kehangatan menjalar di tubuhnya, ia menjadi semangat.

Ketika giliran Nonon tampil ke atas panggung untuk menjawab pertanyaan dewan juri, suara tepukkan para pendukungnya terdengar menyambutnya. Apalagi ketika Nonon selesai menjawab pertanyaan dewan juri yang menanyakan apa dan bagaimana pendapatnya mengenai pendidikan di Indonesia, kontan terdengar suara bergemuruh yang lebih dasyat dari sebelumnya. Rupanya jawaban Nonon sangat bagus sekali sehingga bukan hanya para pendukungnya yang bertepuk tangan melainkan hadirin yang lainnya termasuk dewan juri juga ikut bertepuk tangan.

Nonon terharu, tak terasa air matanya menetes di pipinya. Dilihatnya begitu banyak manusia yang mendukung dirinya. Ia jadi teringat akan emak yang dengan tangan kecilnya telah membuat ia menjadi manusia yang berarti sehingga mendapatkan  kesempatan untuk berdiri di panggung ini. Ia ingat begitu banyak orang yang bertakziah ke rumahnya, begitu banyak orang yang menyolatkan dan mengantarkan emak ke liang lahat. Saat itu ia benar-benar merasakan kebesaran emaknya seorang guru TK yang sederhana, namun luas pergaulannya. Emak memang orang yang ramah, pada siapa saja ia peduli dan  mau menyapa. Sekarang ia rasakan betapa semua ajaran yang diberikan emak sangat berarti, apalagi ketika akhirnya ia terpilih sebagai guru berprestasi tingkat propinsi dan akan mewakili propinsi Banten di tingkat nasional nanti.

Sungguh Nonon merasakan kebesaran Allah, di tengah himpitan masalah keluarganya ia menerima penghargaan ini. Nonon tak henti-hentinya bersyukur atas apa yang didapatnya dan berdoa semoga hadiah yang akan diterimanya cukup untuk membiayai acara seratus harian emaknya, sehingga babe tak perlu menjual rumah yang penuh kenangan itu.

Iklan

23 Tanggapan

  1. Sebuah cerpen yang menyentuh

  2. Cerita dalam cerpen “Seratus Hari” itu mengandung banyak pelajaran yang amat berharga. Pelajaran tentang bagaimana seharusnya sikap kita terhadap orangtua yang telah membesarkan kita.Walaupun kita hidup dalam kesusahan, seharusnya kita bisa memberikan nilai materil walaupun sedikit atau minimal memberikan perhatian kepada mereka. Karena perhatian itu lebih mereka butuhkan dibanding apapun, tidak seperti sikap yang dicontohkan oleh kedua Kakak Nonon. Selain itu juga jangan hanya memberikan perhatian kita kepada kedua orangtua kita ketika mereka sedang dalam keadaan sakit atau dalam keadaan terdesak, karena nantinya kita juga yang akan menyesal. Tokoh Nonon dalam cerpen ini adalah sebagai tokoh yg memiliki perilaku yang baik, sangat dekat dengan emaknya dan patuh kepada kedua orangtua. Dan karna doa orangtua& kepatuhan Nononlah yg membawanya menjadi guru berprestasi. Memang ridha orangtua adalah ridhonya Allah juga.
    Mengenai tokoh babe dalam cerita ini seharusnya tidak usah malu hanya karna tidak mengadakan tradisi seratus harian. Karena yang terpenting adalah doa yang diberikan oleh keluarga dekat (anak,suami atau istri), dan seharusnya keluarga yang tidak mampu seperti keluarga babe tidak usah menyelenggarakan tradisi yang dapat memberatkan seperti itu.

    Tiara Dianti
    (XII IPA 4)

  3. “Seratus Hari” pada saat saya membaca judul cerpen ini terkesan sangat biasa dan kurang menarik untuk saya, tetapi saat saya mulai membaca tulisan Ibu paragraf demi paragraf sampai kata paling akhir saya sangat terkesan dengan ceritanya. Cerita dalam cerpen “Seratus Hari” ini sangat sarat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini tergambar jelas dari alur cerita dan pencitraan bahasanya yang kental dengan bahasa daerah dan kebiasaan dari suku daerah tersebut.
    Banyak hal menarik yang dapat di tiru dari sikap Nonon, selain ia adalah anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya terutama ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya, ia juga merupakan sosok yang memberikan banyak inspirasi bagi kehidupan sehari-hari dan dalam dunia pendidikan. Namun sebaliknya dengan tokoh Babe, pola pikirnya yang terlalu ortodok menyebabkan ia kesusahan di kemudian hari, hal ini tergambar dari lilitan hutang yang menjerat dirinya dan membuat anak-anaknya kelimpungan.
    Banyak pelajaran kehidupan yang dapat di ambil pembaca dalam cerpen ini. Mulai dari cara berbakti seorang anak kepada orang tuanya, cara seseorang bersyukur dan memaknai kehidupan.

    Wahyu Alviani
    XII IPA 1

  4. Pada awal saya membaca novel ini, saya kurang tertarik. Namun, saya mencoba membaca secara perlahan dan memahami ceritanya, ternyata cerita dalam novel ini sangat menarik dan mengharukan untuk dibaca.
    Bahasa yang digunakan dalam novel ini tidak terlalu ribet sehingga dalam membacanya pun mudah dipahami.
    Banyak hal menarik yang dapat ditiru dari tokoh Nonon, seperti berbakti kepada kedua orangtua walaupun orangtua dalam keadaan susah, sabar dalam meghadapi setiap cobaan, dan tak lupa mengucapkan syukur pada Allah atas nimat-Nya.

    Laela Rahmawati
    XII IPA 1

  5. Cerpen ‘Seratus Hari’ bertemakan keadaan sosial suatu keluarga. Alur yang digunakan campuran. Cerpen ini mengungkapkan banyak pelajaran hidup, seperti kita harus berbakti kepada orangtua walupun kita sudah berkeluarga ataupun saat kita sudah berada jauh dari keluarga, kita tidak boleh mengeluh dengan apa yang terjadi, serta selalu mengucapkan syukur atas apa yang telah Allah berikan.
    Tokoh Nonon merupakan tokoh anak yang sabar dan berbakti kepada orangtua. Tokoh babe merupakan seorang ayah atau suami yang bertanggung jawab. Namun, karena ia mengikuti tradisi, ia terbebani sendiri akan hal tersebut sehingga ia berhutang kemana-mana.
    Pesan moral yang dapat diambil dari cerpen tersebut adalah kita boleh saja mengikuti tradisi, namun kita juga perlu melihat keadaan sosial kita.

    Indah Duaty XII IPA 2

  6. Pada cerpen yang berjudul “seratus hari” mengangkat tema tentang tradisi kehidupan dipedesaan. Cerpen ini mempunyai alur maju mundur (campuran). Cerita dalam cerpen ini sangat menyentuh sekali. Tokoh nonon sebagai anak yang berbakti pada orangtua nya, sangat menyesal hanya karena tidak dapat mencium kaki ibunya saat ibunya masih dapat bernafas, nonon selalu mematuhi apa yang dikatakan oleh orangtuanya dan tokoh babe disini terlalu terbawa oleh tradisi lama yang selalu memperingati “seratus hari” dan mengundang warga-warga untuk tahlilan besar-besaran. Padahal jika memang keluarga tersebut tidak mampu, hanya tahlilan bersama keluarga pun sudah cukup. Saya juga kurang menyukai cerita pada bagian nonon tiba-tiba terpilih sebagai guru berprestasi, karena cerita tersebut agak menyimpang dari apa yang sudah diceritakan di awal cerpen.
    Pesan yang terkandung dalam cerpen “seratus hari” adalah jangan memaksakan kehendak yang sebenarnya tidak dapat kita lakukan.

    Fadhillah moulita andiani (XII IPA 1)

  7. Cerpen yang sangat menyentuh kata “Entis Sutisna”, sangat tragis memang kondisi yang di hadapai oleh keluarga nonon. pada cerpen di atas yang berjudul “Seratus Hari” menceritakan tentang kisah seorang anak yang di tinggal pergi oleh ibunya karena penyakit yang menggerogoti tubuh ibunya itu. Didalam cerita ini tokoh Nonon memang dekat pada ibunya, ia amat menyesal sekali kalau dia tidak mencium telapak kaki ibunya pada saat ibunya masih hidup.
    cerita di sini mengingatkan kita bahwa betapa berharganya seorang ibu.
    Didalam cerita ini banyak pesan moral yang dapat di sampaikan salah satunya adalah kebesaraan Allah. Saat di mana keluarga nonon membutuhkan uang untuk tahlilan seratus harian ibunya dan ia tidak mempunyai uang lagi, Dia dipilih menjadi 3 besar guru berprestasi tingkat provinsi, dan akhirnya Nonon menjadi guru berprestasi di provinsi banten.
    Buat para pembaca pesan saya adalah jangan pergi k rumah sakit maoris kalau keluarga anda sedang sekarat, bisa-bisa keluarga anda bisa tidak tertolon kalau tidak mempunyai banyak biaya

    Sigit Rijatmoko (12 IPA 5)
    SMAN 5 TANGERANG

  8. cerpen Seratus Hari ini menggambarkan kehiupan sosial sebuah keluarga. seorang anak bernama Nonon yang sangat dekat kepada ibu nya,tidak menyangka bahwa pada saat itu ciuman yang diberikan pada tangan, kening, dan kedua belah pipi ibunya adalah yang terakhir. Nonon anak yang baik dan berbakti kepada orang tua dengan cara memberi sedikit penghasilan nya untuk kedua orang tuanya itu. Tetapi ketika ibu nya meninggal dan sebentar lagi tepat seratus hari memperingati hari itu,Nonon sudah tidak mempunyai uang untuk mengadakan acara itu,sampai-sampai ayah nya berpikir akan menjual rumah tempat dimana beliau tinggal dan tempat Nonon dibesarkan.
    Di sekolah Nonon diberi tahu bahwa dia termasuk calon guru berprestasi tingkat provinsi,dan tidak di sangka dia dapat menjadi juara guru berprestasi itu. Dan akhirnya dia dapat membiayai seratus harian ibu nya itu tanpa perlu ayah nya menjual rumah yang di tempati beliau.
    Banyak pesan yang ada di dalam cerpen ini salah satu nya kita tidak boleh memaksakan sesuatu yang membebani diri kita sendiri,jika memang mampu jalankan lah jika tidak,maka tidak perlu lah kita paksakan.

    Devi Julia Nuraini
    XII IPA 2

  9. Menurut pendapat saya,tentang cerita dalam cerpen”Seratus hari” itu memberikan banyak pelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan sehari-hari.hal itu dibuktikan dalam cerpen yang menceritakan bagaimana sikap anak terhadap orang tua yang telah membesarkan kita.kita harus bisa lebih menghormati orang tua walaupun dalam keadaan susah,sabar dalam menghadapi setiap cobaan.hal yang menarik dalam tokoh nonon ia sangat mencintai orang tuanya dan ia juga memberikan pelajaranbagi kehidupan sehari -hari.sedangkan tokoh babe,ia tidak usah mengadakan tradisi 100 harian kalaupun ia ingin mengadakan ia bisa melaksanakan denga acara yang lebih sederhana. ia terlalu memaksakan kehendaknya sehingga ia susah sendiri. ARHAM W (12 IPA 1)

  10. menurut saya, cerpen ” seratus hari” mengangkat tema yg cukup bagus yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari. alur yang di gunakan dalam cerpen tersebut adalah alur campuran. cerita di cerpen ini membuat hati saya tersentuh setelah membaca nya, karena banyak sekali pelajaran yag terkandung dalam cerpen tersebut,
    seperti tentang bagaimana cara kita bersyukur kepada tuhan
    walaupun kehidupan kita sangat sulit.
    seperti sikap yang ditunjukan oleh nonon kepada emak dan babe nya. meskipun mereka dalam keadaan sulit tetapi mereka tetap bersyukur atas rezeki yang di berikan tuhan ,
    tetapi sayang nya, sikap babe dalam cerpen tersebut, keras kepala, babe ingin sekali membuat acara tahlilan atas meninggal nya istri tercinta, tetapi babe tidak mempunyai uang untuk itu, maka babe harus menjual rumah demi seratus harian emak, seharus nya itu tidak perlu di paksakan karena keadaan keluarga nonon kurang mampu,
    mengikuti tradisi memang bagus,tetapi jika keadaan nya seperti itu, maka jangan terlalu di paksakan.
    pesan yang bisa diambil dari cerpen “seratus hari” adalah di balik kesabaran dan ujian dari tuhan pasti ada hikmah yang baik,dan kita dapat memaknai arti dari kehidupan.

    Wanda Yulia Utami
    XII IPA 1

  11. Cerpen yang berjudul “Seratus Hari” ini mengungkapkan permasalahan sosial yang biasa terjadi di dalam keluarga. Alur yang digunakan adalah alur campuran. Cerpen ini memberikan gambaran bagaimana kita sebagai seorang anak harus selalu berbakti kepada orang tua, mendengarkan ajaran orang tua, selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah, dan pentingnya sebuah ridho dari orang tua. Ini digambarkan pada tokoh Nonon. Sedangakn tokoh babe disini terkesan kolot, babe sangat mementingkan tradisi, tetapi tidak memikirkan keadaan dan terkesan memaksakan kehendaknya.
    Cerpen ini juga menyindir tentang kebijakan pihak rumah sakit yang sekarang ini banyak terjadi, memang saat ini banyak rumah sakit yang tidak menerima pasien hanya dengan kartu askes kecuali pasien membayar uang muka terlebih dahulu. Rumah sakit hanya memikirkan uang, bukan pelayanan dan kenyamanan para pasien terlebih dahulu!
    Amanat yang dapat dipetik dari cerpen ini adalah kita sebagai manusia jangan melakukan dan mamaksakan sesuatu hal di luar kemampuan yang kita punya.

    Sihta Juniar
    XII IPA 2

  12. Cerpen “Seratus Hari” mengungkapkan keadaan sosial sebuah keluarga yang sering terjadi di kehidupan kita saat ini.
    Cerpen ini sangat menarik dan menyentuh hati saya. Dari awal saya membacanya saja sudah membuat saya penasaran untuk mengetahui keseluruhan ceritanya.Alur yang digunakan dalam cerpen ini adalah alur campuran. Bahasa yang digunakan juga mudah dipahami. Cerpen ini menceritakan tokoh Nonon yang sangat menyesal setelah kepergian ibunya, karena selama ini ia tidak pernah memperhatikan kesehatan orang tuanya.Namun walaupun begitu, Nonon tetap sabar dan berusaha mentupi kesedihannya.Tokoh Babe yang terlalu cepat mengambil keputusan dan mementingkan tradisi daripada memikirkan keadaan keluarganya saat itu.
    Sindiran yang ditujukan untuk pihak rumah sakit Moris mungkin bisa menjadi masukan bagi pihak rumah sakit lain agar memberikan pelayanan yang terbaik untuk setiap pasien, tanpa memandang keadaan sosial pasien.
    Banyak pelajaran penting yang dapat kita ambil dari cerpen ini yaitu mengingatkan kita akan kebesaran Allah, mengajarkan untuk selalu berbakti kepada orang tua, membiasakan hidup hemat, dan jangan memaksakan kehendak .

    Novita Sari Nasution
    XII IPA 5

  13. Cerpen berjudul”Seratus hari”
    Merupakan suatu cerpen yang menarik, mudah dipahami, dan banyak memberikan suatu manfaat kehidupan yang baik untuk para pembacanya.
    Alurnya menggunakan alur maju mundur.
    Nonon adalah seorang perempuan yang kuat, berbakti kepada orang tua, pekerja keras, dan ambisius dalam mencapai sesuatu hal.
    Imah adalah seorang gadis yang mengerti keluarga, dan berbakti kepada orang tua. Ayah keras kepala dan angkuh.
    Banyak pelajaran yang dapat diambil dari cerpen tersebut, yaitu harus memprioritaskan orang tua diatas segalanya. Membidik pembaca untuk tidak pernah berputus asa dalam menghadapi segala masalah dan selalu ingat bahwa Allah selalu ada untuk hambanya yang meminta pertolongan.
    Didalam cerpen tersebut pembaca diajak agar meyakinkan bahwa apa yang dilakukan setiap anak wajib memperoleh restu orang tua terutama seorang ibu, karena ridho Allah ada didalamnya. Tanpa ada ridho ibu mustahil apa yang dilakukan akan sukses dan berhasil.

    Denayu Swami Vevekananda
    XII IPA 5

  14. Cerpen yang menceritakan hal yang terkadang tanpa kita sadari pernah terjadi di sekitar kita. Menggunakan alur campuran, cerpen ini membuat pembaca penasaran mengenai kelanjutan cerita. Dalam segi penyampaian, cerpen ini cukup simpel dan tidak bermuluk – muluk sehingga amanat cerpen ini mudah dipahami orang awam. Sayangnya akhir cerita yg menggantung terkadang dapat membuat pembaca bingung akan lanjutan cerita sehingga tak jarang banyak spekulasi pembaca mengenai akhir cerita.

  15. Cerpen yang menceritakan hal yang terkadang tanpa kita sadari pernah terjadi di sekitar kita. Menggunakan alur campuran, cerpen ini membuat pembaca penasaran mengenai kelanjutan cerita. Dalam segi penyampaian, cerpen ini cukup simpel dan tidak bermuluk – muluk sehingga amanat cerpen ini mudah dipahami orang awam. Sayangnya akhir cerita yg menggantung terkadang dapat membuat pembaca bingung akan lanjutan cerita sehingga tak jarang banyak spekulasi pembaca mengenai akhir cerita.0

    Rimba t
    xii ipa 5

  16. Setelah saya baca cerpen ini sangatlah menyentuh hati. Cerpen ini menggambarkan seperti kejadian nyata yang banyak di alami orang. Tutur bahasa daerah dari cerpen tersebut menambah menarik alur ceritanya. Karakter Nonon dalam cerpen ini pantas untuk di jadikan panutan bagi semua orang karena Nonon mempunyai hati yang baik, taat kepada orang tua dan penyabar. Sedangkan karakter Babe sangat tidak patut di contoh. Sifatnya yang keras dan sangat menganut tradisi membuat susah diri dan keluarganya. Seharusnya ia tidak memaksakan kehendak yang nantinya dapat menyulitkan orang lain. Banyak amanat yang perlu di jadikan panutan dalam cerpen ini.

    Nindy Dewinta
    XII IPA 1

  17. cerpen ini menurut saya sangat menyentuh dengan alur cerita mundur (campuran) yang di tokohi oleh si Nonon yang mampu memberikan berbagai hikmah di cerita ini dengan bagaimana si Nonon ini mampu menghadapi berbagai masalah yang ada di hidupnya hingga akhirnya Nonon dapat menemukan hikmah dari segala cobaan yang datang mampu membuat hati saya tersentuh dan mengambil berbagai pelajaran contohnya dapat bersabar dalam menghadapi berbagai cobaan yang ada karena di setiap cobaan yang ada pasti ada hikmahnya

    Sheili Dwi Nirmala
    XII IPA 1

  18. Menurut pendapat Saya cerpen “Seratus Hari” ini menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, dan gaya bahasa daerah (betawi) yang terdapat dalam cerita tersebut membuat menarik untuk dibaca. Saat membaca cerpen ini seakan – akan kita dapat masuk/mengalami kejadian di dalam cerita tersebut, karena baiknya kata yang digunakan dalam mendeskripsikan suatu keadaan.
    Di dalam cerpen ini banyak kejadian yang terjadi dalam kehidupan sekitar kita seperti,
    “ketika Emak sakit dan bertingkah laku aneh saat mau sholat, nonon pun mempunyai firasat yang sama saat Neneknya dulu menjelang ajalnya”
    lalu, “tradisi 100 harian yang harus menggelar pengajian”
    dan “rumah sakit swasta yang tidak mengizinkan pasien dirawat bila tidak ada uang jaminan”.
    amanat yang dapat kita ambil adalah hikmah dari suatu cobaan yang kita lalui, karena dibalik kesulitan pasti ada jalan keluar, dan perhatian kita kepada Orang tua menjadi prioritas utama sebagai anak.

    Fauzan Affif
    XII IPA2

  19. cerpen “Seratus Hari” ini menurut Saya baik untuk dibaca. Bahasa yang digunakan dalam cerita ini mudah dimengerti, sehingga kita dapat dengan mudah memahami kejadian – kejadian yang terjadi pada cerita tersebut.
    Didalam cerita ini banyak menceritakan kejadian yang biasanya terjadi dalam kehidupan sekitar kita lalu, adanya nilai sosial dan, nilai moral.
    Didalam cerpen ini kita dapat banyak mengambil pelajaran dari tokoh yang bernama “Nonon” seperti, bagaimana berbakti kepada orang tua, bahwa dibalik cobaan ada jalan keluarnya, sifat penyabar dalam menjalani kehidupan.

    Fahmi Ferdiansyah
    XII IPA 1

  20. cerita pendek “seratus hari” sanagt menarik dan mengharukan. cerpen ini membuat kita merasakan apa yang dirasakan nonon. menceritakan tentang pengorbanan seorang ibu dan kekuasaan Allah SWT. Disaat sedang mengalammi kesusahan selalu ada jalan untuk memecahkannya seperti yang dialami nonon dan keluarganya. Ibu memang berarti dalam kehidupan kita sebelum ibu meninggalkan kita kita harus selalu ada di saat ibu membutuhkannya sebelum kita menyesal seperti yang dirasakan nonon ketika sang ibu sudah tiada.
    amanat yang terkandung dalam cerita ini sangat banyak selain kita harus tetap berusaha mengahadapi masalah yang kita terima juga perhatiian anak terhadap orangtua menjadi hal yang mutlak dilakukan seorang anak.

    Kurniawan Dhewa J
    XII Ipa 2

  21. cerita pendek yang berjudul “seratus hari” ini merupakan cerita yang sering terjadi di kehidupan nyata. Menurut saya, cerpen ini dikemas dengan sederhana dan menarik, bahasa yang digunakan mudah dimengerti serta cerpen ini banyak mengandung amanat yang sangat baik didalamnya. Namun, ada sedikit kekurangan di cerpen ini, karena pada di akhir akhir ceritanya mulai agak kurang menarik , menjadikan pembaca hanya bersemangat membaca pada cerita awal dan pada pertengahan cerita.

    Diah fitri pratiwi
    12 IPA 5

  22. Cerpen berjudul seratus hari ini sangatlah mengharukan. Tidak dapat saya bayangkan kehilangan tokoh seorang ibu yang begitu dekat dengan saya secara tiba-tiba.
    Nilai moral tampak sangat jelas pada tokoh Nonon, ia sangat berbakti pada tokoh ibu yang sangat mencintainya. Nilai kebudayaan juga tampak dari ayah Nonon yang mati-matian ingin merayakan seratus hari meninggalnya emak walaupun tidak adanya dana yang mencukupi. Ia bahkan berfikiran untuk menjual rumah mereka satu-satunya. Padahal menurut Nonon perayaan meninggal seratus hari emak bertentangan dengan ajaran agama. Pelajaran yang dapat kita ambil dari cerpen diatas adalah untuk berjuang membalas budi kedua orang tua. Kita juga tidak boleh melakukan perayaan-perayaan yang bertentangan dengan ajaran agama hanya karena takut menjadi bahan pembicaraan tetangga.

    Bahasa yang digunakan dalam cerpen ini sederhana dan mudah di mengerti, sehingga para pembaca dapat menikmati isi cerita dengan mudah. Namun, alur cerita ketika Nonon menjadi peserta lomba guru berprestasi kurang jelas dan terkesan memaksa. Tetapi secara keseluruhan isi cerita tetap dapat ditangkap dengan baik.

    Zyendira Amanda
    XII IPA 1

  23. Bagus Cikgu,

    Mahfud Aly. XII IPA 5-5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: