PENGGUNAAN PERMAINAN KUBUS FRASE DENGAN TEKNIK STRUCTURED HEAD NUMBERED EFEKTIF MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS SISWA KELAS X UPTD SMA NEGERI 5 TANGERANG

Oleh: Vedia, M.Pd.

BAB  I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Proses belajar mengajar dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan. Hal ini menjadi paradigma dunia pendidikan yang tiada akan pernah berhenti. Pada hakikatnya paradigma itu sendiri merupakan petunjuk suatu teori, perspektif kerangka berpikir yang menentukan bagaimana seseorang memandang aspek-aspek kehidupan. Paradigma dunia pendidikan merupakan petunjuk bagaimana pendidikan sebagai suatu proses berjalan.

Bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia yaitu sebagai alat komunikasi. “Penelitian membuktikan bahwa 75% waktu bangun kita dalam berada dalam kegiatan komunikasi”, demikian disampaikan oleh  Jalaludin Rakhmat (1992: 2). Begitu pentingnya peranan bahasa dalam berkomunikasi, sehingga dapat dikatakan  komunikasi tidak akan berlangsung dengan baik tanpa adanya bahasa.

Sifat bahasa itu sendiri pun sangat universal, untuk itulah pembelajaran bahasa diharapkan dapat berintegrasi dengan mata pelajaran ataupun sisi kehidupan yang lain, tak terkecuali pembelajaran bahasaIndonesia.

Empat keterampilan berbahasa yang dimulai dari proses menyimak kemudian berbicara, membaca, dan akhirnya menulis mempunyai hubungan saling terkait yang sangat erat. Seseorang yang pintar secara akademis namun tidak dapat berbicara, kepintarannya akan sulit diketahui oleh orang lain, ia akan mengalami kesulitan dalam menyampaikan ide-idenya. Orang yang pandai berbicara, namun malas melakukan proses mendengar (lewat diskusi, seminar atau  mendengar siaran berita) dan membaca, ia akan berbicara dengan isi pembicaraan yang tidak berbobot, karena pengetahuannya yang dangkal. Orang seperti ini cocok dengan pribahasa tong kosong nyaring bunyinya. Orang yang pintar berbicara dengan pengetahuan yang luas, karena rajin mendengar dan membaca kepintarannya itupun tidak akan berarti dalam ruang lingkup yang lebih besar bila ia tidak pandai menuangkan ide-idenya dalam bentuk tulisan.

Keterampilan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang paling akhir  dalam proses keterampilan berbahasa seseorang dan memiliki tingkat kesulitan yang paling tinggi. Oleh karena itu, untuk menjadikan  seseorang terampil dalam menulis maka dibutuhkan sebuah proses dan perlu dilatih secara terus-menerus.

Proses dimulai dari pengenalan fonem dan atau huruf, kemudian dilanjutkan dengan menyusun huruf-huruf tersebut menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, dan akhirnya paragraf menjadi karangan utuh. Dalam proses penyusunan kata menjadi kalimat seseorang harus juga mengenal pembentukan frase atau gabungan kata.

Dalam pembelajaran di kelas siswa diperkenalkan pada beberapa jenis frase dengan tujuan siswa menjadi terampil mengembangkan kata-kata dan selanjutnya menjadi kalimat. Namun, pada kenyataannya siswa sering kali bingung menentukan sebuah frase. Jika dalam menentukan frase saja sulit maka sudah dipastikan dalam pengembangan kalimat dan seterusnya juga akan mengalami kesulitan. Padahal dengan menguasai pelajaran mengenai frase siswa akan lebih kaya kosa katanya dan lebih bervariasi dalam menyusun kalimat.

Berdasarkan hal tersebut penulis tertantang untuk mengadakan penelitian tindakan kelas sebagai upaya menciptakan pembelajaran frase yang menarik sehingga dapat memudahkan sekaligus menyenangkan bagi siswa.

Saat ini permainan cube (kubus) atau yang sering disebut dengan Rubik cube  sedang digandrungi oleh kalangan pelajar tak terkecuali penulis. Ketertarikan penulis pada kubus inilah yang membawa pada ide untuk menggunakan media permainan kubus dalam pembelajaran bahasa tepatnya pada pembelajaran frase. Selanjutnya penulis menyebut kubus ini dengan sebutan kubus frase (phrase cube) karena pada kubus tersebut oleh penulis diberikan kata-kata yang jika dipadukan satu sama lain dapat membentuk frase.

Diharapkan penggunaan media kubus frase dalam pembelajaran yang menggunakan metode cooperatif learning dengan teknik structured head numbered mampu menciptakan suasana belajar yang menarik  Pembelajaran yang menarik dan menyenangkan merupakan hal yang sangat penting dan merupakan prinsip keberhasilan belajar (Dryden & Vos, 2000)

B.     Sasaran Tindakan
Sasaran dalam penelitian ini adalah siswa kelas X 9  SMA Negeri 5 Tangerang.

C.    Rumusan Masalah

  1. Apakah siswa dapat memahami pembelajaran frase dengan baik setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media permainan kubus frase?
  2. Apakah siswa dapat memahami pembelajaran frase dengan baik setelah mengikuti pembelajaran dengan metode cooperatf learning dengan teknik structured head numbered?
  3. Bagaimanakah persepsi dan kesan siswa terhadap pembelajaran yang menggunakan media permainan kubus frase?
  4. Bagaimanakah persepsi dan kesan siswa terhadap pembelajaran yang menggunakan metode cooperatif learning dengan teknik structured head numbered?

D.    Tujuan Penelitian

  1. Ingin mengetahui seberapa besar kemudahan yang diperoleh siswa dalam membentuk frase dengan media permainan kubus frase?
  2. Ingin mengetahui seberapa tinggi hasil pemahaman siswa mengenai frase dengan menggunakan metode cooperatif learning dengan teknik structured head numbered.
  3. Ingin mengumpulkan persepsi dan kesan siswa tentang pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media permainan kubus frase.
  4. Ingin mengumpulkan persepsi dan kesan siswa tentang pelaksanaan pembelajaran dengan metode cooperatif learning dengan teknik structured head numbered.
  1. E.     Manfaat Penelitian


Melalui pembelajaran yang menggunakan media permainan kubus frase dengan metode cooperatif learning teknik structured head numbered diharapkan:

  1. Tercipta suasana pembelajaran frase yang menyenangkan siswa.
  2. Tumbuh semangat siswa dalam belajar
  3. Tumbuh kebersamaan dalam mencapai keberhasilan.
  4. Meningkatnya kemampuan menulis siswa.

 

 


BAB  II

KAJIAN TEORETIS

Agar lebih terarah penulisan karya ilmiah ini, maka diperlukan pedoman yang berupa kajian-kajian teori yang berkaitan dengan penelitian ini.

  1. Media

Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari ”medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar (Depdiknas, 2003). Media merupakan suatu hal yang diperlukan dalam tindak komunikasi. Proses belajar mengajar di dalam kelas pada hakikatnya juga merupakan tindakan komunikasi sehingga dalam pembelajaran juga memerlukan media. Media yang digunakan dalam pembelajaran disebut dengan media pembelajaran.

Kemp, dkk (1985), media pembelajaran memiliki kontribusi (Nurani, dkk, 2003), sebagai berikut:

  1. Penyajian materi ajar menjadi lebih standar.
  2. Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.
  3. Kegiatan belajar menjadi lebih interaktif
  4. Waktu yang dibutuhkan untuk pembelajaran dapat dikurangi.
  5. Kualitas belajar dapat ditingkatkan.
  6. Pembelajaran dapat disajikan di mana dan kapan saja sesuai dengan yang diinginkan.
  7. Meningkatkan sikap positif peserta didik dan proses belajar menjadi lebih baik.
  8. Memberikan nilai positif bagi pengajar.

Pada dasarnya manusia bersifat universal sekaligus unik. Dikatakan unik karena manusia memiliki perbedaan antara satu individu dengan individu lainnya, begitu pula dengan siswa.  Dengan keunikannya masing-masing, siswa mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda, yakni ada yang bersifat visual, auditory, dan kinestetik (De Porter & Mike Hernacki,1999). Dengan memahami keunikan siswa itu pulalah penulis mencoba menggunakan media dan metode yang agak berbeda dengan tujuan agar semua siswa dapat menikmati proses pembelajaran.

  1. Cooperatif Learning (Belajar dengan Gotong Royong)

Pada dasarnya manusia merupakan makhluk homo homini socius (makhluk sosial) sehingga ia akan berusaha mengadakan kerja sama dengan manusia lainnya untuk memenuhi kebutuhannya. Metode cooperatif learning merupakan metode pembelajaran yang berangkat dari pemahaman ini. Metode cooperatif learning adalah metode pembelajaran dengan cara gotong royong (Lie, 2002).

Dengan menggunakan metode cooperatif learning suatu pembelajaran dapat dipecahkan secara bersama-sama. Perlu adanya pemahaman di sini bahwa pembelajaran cooperatif learning tidak sama dengan belajar kelompok seperti yang selama ini sering dilakukan. Oleh karena itu, ada 5 (lima) hal yang harus diperhatikan dalam cooperatif learning (Lie, 2002), yaitu:

  1. Saling ketergantungan positif.
  2. Tanggung jawab perseorangan.
  3. Tatap muka.
  4. Komunikasi antaranggota.
  5. Evaluasi proses kelompok.

Adapun manfaat dari metode cooperatif learning adalah pertama, menciptakan suasana belajar yang kondusif, bersemangat dan menyenangkan. Kedua menciptakan manusia yang bisa berdamai dengan sesamanya karena pada hakikatnya cooperatif learning menggiring siswa untuk dapat maju bersama-sama.  Ketiga, efektifitas waktu pembelajaran.

  1. Structured Head Numbered (Kepala Bernomor Berstruktur)

      Salah satu model pembelajaran cooperatif learning yang penulis coba terapkan adalah teknik kepala bernomor berstruktur (structured head numbered). Teknik kepala bernomor berstruktur merupakan sebuah teknik yang memungkinkan setiap anggota kelompok bertanggung jawab dan bekerja sama dalam menyelesaikan masalah.

Pada pelaksanaannya setiap anggota kelompok mendapat nomor serta tanggung jawabnya masing-masing. Selama anggota kelompok menyelesaikan tugas, mereka harus berdiskusi dengan sesama anggota satu kelompok karena memang pekerjaan mereka saling berkaitan. Pada akhirnya setiap kelompok dapat menyelesaikan tugas secara bersama-sama.

Berikut skema urutan pembelajaran cooperatif learning dengan teknik kepala bernomor berstruktur.

  1. Frase

      Frase adalah adalah kelompok kata yang tidak melebihi batas fungsi. Frase merupakan penggabungan dua buah kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi dalam suatu kalimat. Kata-kata dalam frase masih mempertahankan makna aslinya. Hal ini berbeda dengan kata majemuk yang merupakan gabungan kata yang membentuk makna baru.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan ciri-ciri frase sebagai berikut:

1)      dibentuk oleh dua kata atau lebih,

2)      tidak mengandung unsur subjek dan predikat

3)      unsur-unsurnya masih mempertahankan makna aslinya.

Macam-macam Frase

Berdasarkan unsur-unsur pembentuknya, frase diklasifikasikan atas frase endosentris dan frase eksosentris.

1)      Frase endosentris, adalah frase yang antara unsur-unsur pembentuknya dapat saling menggantikan kedudukan frase itu secara keseluruhan.

Frase endosentris ini dapat dibedakan atas:

  1. Frase koordinatif, yaitu frase yang semua unsur-unsurnya dapat menggantikan kedudukan frase itu secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan unsur-unsur pembentuk frase tersebut memiliki hubungan yang setara.

Contoh:

ayah ibu   (ayah dan atau ibu)

siang malam (siang dan atau malam)

  1. Frase Atributif, yaitu frase yang hanya salah satu unsurnya saja yang bisa menggantikan kedudukan frase itu secara keseluruhan. Frase ini juga ditandai dengan adanya unsur yang berfungsi menerangkan unsur yang lainnya (diterangkan, menerangkan atau sebaliknya)

Contoh:

ketua  kelas

D      M

sangat  cantik

M       D

  1. Frase Apositif, yaitu frase yang anatar unsur-unsurnya bisa saling menggantikan karena unsur tersebut bersinonim.

Contoh:

Aqil, putraku, kini sudah kelas 2 SD. (antara aqil dengan putraku bersinonim) sehingga kalimat tersebut bisa menjadi:

Aqil kini sudah kelas 2 SD.

                                                    atau

                  Putraku kini sudah kelas 2 SD.

2)      Frase eksosentris, yaitu frase yang antar unsur-unsurnya tidak dapat saling menggantikan. Frase ini pada umumnya ditandai dengan penggunaan kata depan.

Contoh:

di sekolah

ke pasar

Berdasarkan jenis kata yang menjadi unsur inti pembentuknya frase dibagi atas:

1)      Frase nominal/frase kata benda, yaitu frase yang unsur intinya adalah kata benda.

Contoh:

ibu Nani

ketua MPR

2)      Frase verbal/ frase kata Kerja, yaitu frase yang unsur intinya adalah kata kerja.

Contoh:

pulang pergi

berjalan cepat

3)      Frase ajektival/frase kata sifat, yaitu frase yang unsur intinya adalah kata sifat.

Contoh:

cantik sekali

sangat indah

4)      Frase adverbial/frase keterangan, yaitu frase yang unsur intinya adalah kata keterangan.

Contoh:

lebih kurang

di luar

5)      Frase numeralia /frase bilangan, yaitu frase yang unsur intinya adalah kata bilangan.

Contoh:

tiga belas

tujuh belas

Sebagian ahli ada yang menambahkan jenis frase berdasarkan jenis unsur inti ini dengan frase pronomina yaitu frase yang unsur intinya adalah kata ganti orang misalnya; kamu sekalian dan frase introgativa, yaitu frase yang unsur intinya berupa kata tanya, misalnya; apa maksudnya? ( Kosasih, 2002)

  1. Kubus Frase (Phrase Cube)

Sebenarnya kubus atau cube adalah alat permainan puzzle mekanik berbentuk kubus yang memiliki enam warna pada setiap sisinya (Adi, 2009). Permainan ini di temukan oleh Erno Rubik, seorang arsitek pada tahun 1974 pemahat asal Hungaria, puzzle ini memulai kemunculannya dengan nama buvos kocka (magic cube=kubus ajaib). Mulai tahun 1980, setelah laris manis di negaranya sendiri, atas permintaan distributor namanya berganti menjadi rubik’s cube dan dijual ke berbagai belahan dunia. Oleh karena itu saat ini banyak yang menamakan permainan ini dengan  sebutan rubik.

Kubus yang pada mulanya berbentuk 3X3, sekarang telah dimodifikasi sehingga ada yang ukurannya 2X2, 4X4, 5X5, bahkan ada yang bukan lagi kubus bentuknya, misalnya; bentuk bola, piramid,segitiga, danlain sebagainya.

Permainan ini pernah menghilang pada tahun 1990, namun sejak adanya internet dan World Championship permainan kubus kedua tahun 2003 di Kanada permainan kubus ini menyebar lebih luas dan banyak digandrungi anak-anak hingga orang dewasa lagi. Buku petunjuk menyelesaikan kubus ini pun bermunculan bahkan penulisnya ada yang berasal dari Indonesia. Tidak hanya itu pada World Championship tersebut keluar sebagai pemenang 1 dan 3 adalah dari negara Indonesia.

Begitu semarak permainan ini sehingga menarik minat penulis untuk mencoba memanfaatkannya sebagai media pembelajaran. Selama. Ini, permainan kubus biasa digunakan dalam pelajaran matematika karena memang permainan ini erat kaitannya dengan algoritma dan logika yang ada dalam pelajaran matematika. Namun, penulis mencoba membuat permainan ini bisa menjadi media pembelajaran bahasa Indonesia khususnya pembelajaran frase.

Kubus yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah kubus berbentuk 2X2. Kubus 2X2 menjadi pilihan karena penulis menganggap kubus 2X2 adalah kubus yang memiliki 4 bagian pada tiap sisinya sehingga penulis merasa kubus inilah yang paling tepat untuk digunakan dalam pembelajaran frase. Dari 4 bagian ini penulis menempelkan kata-kata yang bila berpasangan bisa membentuk frase. Tidak semua kata yang berpasangan bisa membentuk frase, di sinilah dituntut siswa untuk mencari kata mana saja yang bisa dibentuk menjadi frase, sekaligus menentukan jenis frasenya.

Oleh karena permainan ini digunakan sebagai media dalam pembelajaran Frase maka penulis menamakan kubus ini dengan kubus frase (Phrase Cube).

BAB  III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. Setting Penelitian

Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas X 9 SMA Negeri 5 Tangerang yang beralamat di jalan Ciujung Raya No. 3 Perumnas I Tangerang.

 

  1. Sasaran penelitian

Dari tindakan yang dilakukan yaitu penggunaan media permainan kubus frase dalam metode cooperatif learning dengan teknik structured head numbered diharapkan siswa menjalani proses pembelajaran dengan senang sehingga tingkat pemahaman dan kreativitas siswa dalam menulis menjadi tinggi. Dengan demikian, diharapkan pula siswa menjadi terbiasa menuangkan idenya dalam bentuk tulisan.

  1. Prosedur Penelitian

Pada penelitian ini penulis mengacu pada penelitian tindakan kelas yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc. Taggard. Secara umum penelitian tindakan kelas menurut Kemmis dan Mc. Taggard adalah meliputi beberapa tahapan, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. (Suhardjono,2006)

Dalam penelitian ini penulis juga melakukan empat tahapan seperti yang dikemukakan di atas bahkan demi mendapatkan hasil yang diharapkan penulis juga melakukan penelitian ulang yang meliputi rencana ulang, pelaksanaan ulang, pengamatan ulang, dan refleksi ulang.

Secara lebih jelasnya prosedur penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 2 :  Rangkaian Penelitian Tindakan Kelas Diadaptasi dari               pendapat Kemmis dan Mc. Taggard (Suhardjono,2006)

  

Rencana Tindakan
Tahap I

Penyusunan Silabus dan Rencana Pembelajaran

SILABUS

Nama Sekolah    : SMAN 5 Tangerang

Mata Pelajaran   :  Bahasa Indonesia

Kelas                       :  X

Semester               :  2

Standar Kompetensi  :  Menulis

Mengungkapkan informasi dalam berbagai  bentuk                                                    paragraf (naratif, deskriptif, ekspositif)

Kompetensi Dasar:  Menulis gagasan dengan menggunakan pola urutan                                                  waktu dan tempat dalam bentuk paragraf naratif

Materi Pokok :

  • Identifikasi frase
  • Macam-macam frase
  • Paragraf naratif

Kegiatan Pembelajaran :

Bersama teman-temannya dalam kelompok siswa:

-          mengidentifikasi frase

-          mengklasifikasikan frase

-          menggunakan frase dalam kalimat

-          merangkai kalimat yang menggunakan frase menjadi paragraf

Indikator :

Setelah pembelajaran diharapkan siswa dapat:

-          mengidentifikasi frase

-          mengklasifikasikan frase

-          menggunakan frase dalam kalimat untuk menyusun paragraf naratif

Penilaian :

-    Jenis tagihan : Tugas kelompok

-    Bentuk Instrumen : tabel isian dan uraian

Alokasi waktu : 2 x 45 menit

Alat : LCD proyektor, power point, dan permaian kubus frase

Sumber:     -    Buku paket

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran            : Bahasa Indonesia

Pertemuan ke              : 9

Alokasi waktu             : 4 x 45’

Standar Kompetensi

Menulis

Mengungkapkan informasi dalam berbagai bentuk

paragraf (naratif, deskriptif, ekspositif)

Kompetensi Dasar

Menulis gagasan dengan menggunakan pola urutan waktu  dan tempat dalam bentuk paragraf naratif

Indokator

-          mengidentifikasi frase

-          mengklasifikasikan frase

-          menggunakan frase dalam kalimat untuk menyusun paragraf naratif

Tujuan Pembelajaran

-          siawa dapat mengidentifikasi frase

-          siswa dapat mengklasifikasikan frase

-          siswa dapat menggunakan frase dalam kalimat untuk menyusun paragraf naratif

A.    Tatap Muka

  1. Ringkasan materi

Hakikat  frase adalah gabungan kata yang hanya memiliki satu unsur.

Macam-macam frasa: berdasarkan jenis kata inti (Frase Nominal, Verbal,  Adjektival, adverbial, Numerial) dan berdasarkan  unsur pembentukannya

(frase endosentris dan  eksosentris).

  1. Metode

Ceramah, tanya jawab

  1. Sumber Belajar

Buku paket bahasa Indonesia kelas X

Tata Bahasa Indonesia

KBBI

Diksi

  1. Media/Alat/Bahan

Powerpoint materi frase

  1. Rincian Pembelajaran

Pertemuan Pertama (2 X 45’)

Langkah

Rincian Kegiatan

Alokasi Waktu
Pendahuluan Memberikan persepsi awal kepada siswa tentang kompetensi yang akan dipelajari, yaitu tentang frase, pengertian, ciri, dan jenisnyaMemberikan acuan tentang keterkaitan penguasaan kosa kata (frase) dengan keterampilan menulis.

Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pembelajaran

15’
Kegiatan Inti Pemberian materi tentang frase dengan menggunakan powerpointIdentifikasi frase

Klasifikasi jenis frase

Latihan soal

65’
Penutup Guru dan siswa membuat simpulan pembelajaranGuru menjelaskan mekanisme pelaksanaan penilaian 15’
  1. B.     Tugas Berstruktur
  1. Metode                        : cooperatif learning (teknik structured head numbered)
  2. Media/Alat/Bahan       : permainan kubus frase
  3. Rincian Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan kedua (2 X 45’)

Langkah

Rincian Kegiatan

Alokasi Waktu
Pendahuluan Apersepsi pelajaran terdahulu 10
Kegiatan Inti Siswa dibagi kelompoknya-  mendengarkan penjelasan guru

mengenai frase

-  memahami tugas masing-masing

anggota  kelompoknya

- mencari frase dalam kubus frase,

menentukan jenisnya, dan membuat

kalimat di lembar kerja yang

disediakan guru

- tiap kelompok melaporkan hasil

diskusi

 

75’
Penutup Guru dan siswa membuat simpulan pembelajaranGuru memberi tindak lanjut pembelajaran dengan memberikan PR membuat karangan narasi yang di dalamnya terdapat frase. 10’
  1. C.    Tugas Mandiri

Melaporkan hasil diskusi

Penilaian

Bentuk Penilaian   : penugasan

Aspek yang dinilai:unjuk kerja

Jenis Penilaian: proses dan hasil

Indikator Penilaian:

  1. Siswa dapat mengidentifikasi frase
  2. Siswa dapat mengklasifikasikan jenis frase
  3. Siswa dapat membuat paragraf naratif yang di dalamnya terdapat kalimat yang menggunakan frase

Instrumen Penilaian:

Pertemuan 1:

  1. Carilah 5 buah kata yang merupakan frase!
  2. Tentukan jenis frase kamu buat!
  3. Buatlah  5 kalimat dengan menggunakan frase tersebut!

Pertemuan 2

  1. Isilah tabel pada lembar kerja kelompok mengenai frase dengan bantuan permainan kubus frase, kemudian laporkan hasil kerja kelompokmu!

(lembar kerja terlampir)

Pekerjaan Rumah

Buatlah karangan narasi dengan ketentuan sebagai berikut:

-          tema bebas

-          menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar

-          menggunakan frase yang kamu buat sendiri ( beri garis bawah pada frase yang digunakan dalam karanganmu)

-          panjang karangan + 350 kata

Pedoman Penilaian:

Pertemuan 1

  1. skor maks. 5
  2. skor maks. 5
  3. skor maks. 10

Pertemuan 2

Setiap jawaban benar diberi nilai 10, semakin banyak frase yang didapat siswa semakin besar nilai yang diperoleh siswa. Sistem yang digunakan adalah sistem kompetisi sehingga siswa berlomba sebanyak-banyak-banyaknya mencari frase di permainan kubus frase kemudian mengklasifikasikan serta membuat kalimatnya.

Pekerjaan Rumah

PEDOMAN PENILAIAN PENULISAN NARASI

NAMA SISWA                      :

KELAS, NO ABSEN                        :

TANGGAL PENILAIAN     :

KOMPETENSI DASAR       : Menulis gagasan dengan menggunakan pola

urutan waktu  dan tempat dalam bentuk paragraf

naratif

 

 

NO

 

KOMPONEN YANG DINILAI

SKOR

..2

.. 4 .. 6

..8

..10

1. Ketepatan pemilihan judul/kesesuaian judul dengan isi
2. Cara penulis menggunakan peristiwa untuk memulai penceritaan
3. Cara menulis menciptakan alur penceritaan
4. Variasi latar penceritaan
5. Variasi penggunaan kata
6. Variasi penggunaan frase
7. Kualitas diksi/pemilihan kata yang digunakannya
8. Ketepatan penggunaan ejaan dan tanda baca
9. Ketepatan penggunaan struktur kalimat
10. Keterpaduan hubungan antarkalimat dalam paragraf

 

JUMLAH SKOR (Maksimal 100)

 

Kepala                                                                      Tangerang, 9 Maret  2009

SMA Negeri 5 Tangerang                                                 Guru Mata Pelajaran

Lilik Istifa, M.Si.                                                                  Vedia,M.Pd.

NIP. 19650512  198603 2 011                               NIP.19720630 199702 2 002

E. Data
Ada beberapa sumber data dalam penelitian ini, yaitu:- Data berupa angket (daftar pertanyaan), contoh angket terlampir.

- Data berupa hasil belajar siswa, contoh hasil belajar siswa terlampir.

F. Pengamatan

Pengamatan dilakukan pada saat berlangsungnya pelaksanaan penelitian yaitu pada proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini juga berarti bahwa pengamatan terjadi pada saat tindakan sedang berjalan.

 

  1. G. Analisis Data dan Refleksi

 

Analisis Data

Dalam penelitian ini analisis data dilakukan terhadap:

  1. Angket penelitian berupa pertanyaan sesudah pembelajaran berlangsung.   Angket dibuat untuk mengetahui hal-hal apa saja yang dirasakan siswa dalam pembelajaran frase dengan menggunakan media kubus frase dan metode cooperatif learning teknik structured head numbered.
    1. Hasil belajar siswa ( lembar kerja siswa )

Refleksi

Dari Hopkin, 1993 diketahui refleksi dalam penelitian tindakan kelas mencakup analisis, sintesis penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi (Sumardjono, 2006).

BAB IV

PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Deskripsi Setting Penelitian

Penelitian ini dilakukan di ruang kelas X  SMA Negeri 5 Tangerang. Semula penelitian ini dilakukan hanya di kelas X 9 (kelas dimana penulis sendirilah gurunya). Dalam hal ini penulis meminta teman sejawat bertindak sebagai kolaborator.

Pada saat penelitian ini dilakukan penulis menggunakan media permainan kubus frase dan metode cooperatif learning (teknik structured head numbered) dengan tujuan memberikan perasaan senang dalam belajar. Dengan hati yang senang diharapkan juga siswa menjadi mudah untuk memahami frase.

B. Pelaksanaan

Tahap I

Pembagian kelompok

Pembagian kelompok dilakukan oleh guru dengan melihat kemampuan akademis siswa. Dalam satu kelompok terdapat siswa yang berkemampuan akademis lebih dan ada siswa berkemampuan akademis kurang. Satu kelas berisi 40 siswa, dibagi menjadi 10 kelompok.  Tiap anggota kelompok mendapat tugas sesuai nomor yang ia dapat.

Nomor 1: bertugas memutar kubus frase untuk mendapatkan frase

Nomor 2: membantu nomor 1 menemukan frase

Nomor 3: menuliskan frase yang didapat kemudian menentukan jenis frase

tersebut

Nomor 4: membuat kalimat dengan menggunakan frase tersebut

Tahap 2

Proses Kegiatan Pembelajaran

Penelitian ini merupakan tindakan kelas dengan penggunaan media permainan kubus frase dalam metode cooperatif learning. Adapun teknik metode cooperatif learning yang digunakan yaitu kepala bernomor berstruktur dengan langkah kegiatan sebagai berikut:

KETERAMPILAN YANG DIHARAPKAN

ALAT DAN BAHAN

TEKNIK & PROSEDUR

Mengidentifikasi frasa dan membuat kalimat menggunakan frase tersebut LCD proyektor, flashdish, permainan kubus frase - Seluruh kelompok melihat tayangandi LDC proyektor

- pembagian tugas tiap anggota

kelompok

- masing-masing anggota kelompok

menyelesaikan tugasnya bersama-

sama

- mengisi lembar kerja yang

disediakan guru

- melaporkan hasil kerja kelompoknya

 

C. Analisis Data

  1. Analisis Data Angket

Dalam penelitian ini penulis menggunakan angket. Angket ini dibuat untuk mengetahui hal-hal apa saja yang dirasakan siswa dalam pembelajaran frase dengan  menggunakan media permainan kubus frase dan metode pembelajaran cooperatif learning (teknik structured head numbered). Selain itu, penulis juga membuat angket untuk guru yang mengobservasi (observer/kolabolator).

 

Berikut adalah hasil angket siklus I

Tabel 1

Analisis Angket Siswa

(Jumlah siswa 40 orang)

NO.

PERTANYAAN

YA

(%)

TIDAK

(%)

Apakah Anda dan anggota lainnya dalam 1 kelompok saling membantu? 100

-

Apakah Anda memperhatikan giliran berbicara? 78,38 21,62
Apakah Anda dan  anggota lainnya dalam 1 kelompok sudah saling mendengarkan dengan baik? 64,86 35,14
Apakah Anda dan  anggota lainnya dalam1 kelompok sudah dapat bekerja sama dengan baik? 100

-

Apakah Anda dan  anggota lainnya dalam 1 kelompok sudah menjalankan tugasnya masing-masing? 100

-

Apakah Anda dan  anggota lainnya dalam 1 kelompok dapat menyelesaikan tugas Anda masing-masing? 97,30 2,70
Apakah Anda dan  anggota lainnya dalam 1 kelompok tidak saling menyalahkan? 86,49 13,51
Apakah Anda dan  anggota lainnya dalam 1 kelompok memperhatikan satu sama lain? 86,49 13,51
Apakah setiap anggota kelompok berpartisipasi? 97,30 2,70
Apakah Anda dan  anggota lainnya dalam 1 kelompok sudah berusaha membantu yang lain mengemukakan pendapat? 81,08 18,92
Apakah Anda memuji rekan yang telah bekerja dengan baik untuk kelompok? 56,76 43,24
Apakah Anda dan  anggota lainnya dalam 1 kelompok saling bertanya satu sama lain? 83,78 16,22
Apakah ada seseorang dalam kelompok yang berbicara paling banyak? 43,24 56,76
Apakah Anda senang dengan pembelajaran secara berkelompok (cooperatif learning)? 100

-

Apakah media pembelajaran (kubus frase)yang digunakan membantu Anda untuk belajar? 100

-

 

 

Tabel 2

Analisis Angket Observer

(Jumlah observer 4 orang)

NO.

PERTANYAAN

YA

(%)

TIDAK

(%)

Apakah siswa dalam 1 kelompok saling membantu? 100

-

Apakah siswa memperhatikan giliran berbicara? 50

-

Apakah siswa dalam 1 kelompok sudah saling mendengarkan dengan baik? 50

-

Apakah siswa dalam1 kelompok sudah dapat bekerja sama dengan baik? 75

25

Apakah siswa dalam 1 kelompok sudah menjalankan tugasnya masing-masing? 100

-

Apakah siswa dalam 1 kelompok dapat menyelesaikan tugas Anda masing-masing? 100

-

Apakah siswa dalam 1 kelompok tidak saling menyalahkan? 75

25

Apakah siswa dalam 1 kelompok memperhatikan satu sama lain? 75

25

Apakah setiap anggota kelompok berpartisipasi? 100

-

Apakah siswa dalam 1 kelompok sudah berusaha membantu yang lain mengemukakan pendapat? 75

25

Apakah siswa saling memuji rekan yang telah bekerja dengan baik untuk kelompok? 50

50

Apakah siswa 1 kelompok saling bertanya satu sama lain? 100

-

Apakah ada seseorang dalam kelompok yang berbicara paling banyak? 100

-

Apakah siswa terlihat senang dengan pembelajaran secara berkelompok (cooperatif learning)? 100

-

Apakah media pembelajaran (kubus frase) yang digunakan membantu siswa dalam belajar? 100

-

 

 

Berikut adalah hasil angket siklus II

Tabel 1

Analisis Angket Siswa

(Jumlah siswa 40 orang)

NO.

PERTANYAAN

YA

(%)

TIDAK

(%)

Apakah Anda dan anggota lainnya dalam 1 kelompok saling membantu?

100

-

Apakah Anda memperhatikan giliran berbicara?

100

-

Apakah Anda dan  anggota lainnya dalam 1 kelompok sudah saling mendengarkan dengan baik?

100

-

Apakah Anda dan  anggota lainnya dalam1 kelompok sudah dapat bekerja sama dengan baik?

100

-

Apakah Anda dan  anggota lainnya dalam 1 kelompok sudah menjalankan tugasnya masing-masing?

100

-

Apakah Anda dan  anggota lainnya dalam 1 kelompok dapat menyelesaikan tugas Anda masing-masing?

100

-

Apakah Anda dan  anggota lainnya dalam 1 kelompok tidak saling menyalahkan?

5

95

Apakah Anda dan  anggota lainnya dalam 1 kelompok memperhatikan satu sama lain?

100

-

Apakah setiap anggota kelompok berpartisipasi?

100

-

Apakah Anda dan  anggota lainnya dalam 1 kelompok sudah berusaha membantu yang lain mengemukakan pendapat?

100

-

Apakah Anda memuji rekan yang telah bekerja dengan baik untuk kelompok?

100

-

Apakah Anda dan  anggota lainnya dalam 1 kelompok saling bertanya satu sama lain?

100

-

Apakah ada seseorang dalam kelompok yang berbicara paling banyak?

2,5

97,5

Apakah Anda senang dengan pembelajaran secara berkelompok (cooperatif learning)?

100

-

Apakah media pembelajaran (kubus frase)yang digunakan membantu Anda untuk belajar?

100

-

 


Tabel 2

Analisis Angket Observer

(Jumlah observer 2 orang)

NO.

PERTANYAAN

YA

(%)

TIDAK

(%)

Apakah siswa dalam 1 kelompok saling membantu? 100

-

Apakah siswa memperhatikan giliran berbicara? 100

-

Apakah siswa dalam 1 kelompok sudah saling mendengarkan dengan baik? 100

-

Apakah siswa dalam1 kelompok sudah dapat bekerja sama dengan baik? 100

-

Apakah siswa dalam 1 kelompok sudah menjalankan tugasnya masing-masing? 100

-

Apakah siswa dalam 1 kelompok dapat menyelesaikan tugas Anda masing-masing? 100

-

Apakah siswa dalam 1 kelompok tidak saling menyalahkan? 100

-

Apakah siswa dalam 1 kelompok memperhatikan satu sama lain? 100

-

Apakah setiap anggota kelompok berpartisipasi? 100

-

Apakah siswa dalam 1 kelompok sudah berusaha membantu yang lain mengemukakan pendapat? 100

-

Apakah siswa saling memuji rekan yang telah bekerja dengan baik untuk kelompok? 100

-

Apakah siswa 1 kelompok saling bertanya satu sama lain? 100

-

Apakah ada seseorang dalam kelompok yang berbicara paling banyak? 100

-

Apakah siswa terlihat senang dengan pembelajaran secara berkelompok (cooperatif learning)? 100

-

Apakah media pembelajaran (kubus frase) yang digunakan membantu siswa dalam belajar? 100

-

 

  1. Analisis Hasil Belajar Siswa

Berikut adalah contoh hasil belajar siswa kelas X 9 SMA Negeri 5 Tangerang.

Tabel 3

Pemerolehan Nilai Siswa Kelas X 9

 

KELOMPOK

NILAI KELOMPOK

SIKLUS I

NILAI KELOMPOK

SIKLUS II

1

80

85

2

95

95

3

75

100

4

60

90

5

85

100

6

75

90

7

90

100

8

80

100

9

85

100

10

100

100

 

Tabel 4

Pemerolehan Nilai Individu Kelas X 9

 

NO.

INISIAL

NAMA

NILAI

 IND.

SIKLUS I

NILAI

 IND.

SIKLUS II

NILAI KEL.

SIKLUS I

NILAI KEL.

SIKLUS II

1.

AH

72

80

80

100

2.

AL

72

80

90

95

3.

APE

68

75

80

100

4.

AF

79

80

80

100

5.

AA

72

95

80

100

6.

B

84

85

60

100

7.

DDC

72

85

75

90

8.

DF

71

80

85

100

9.

DK

82

100

90

95

10.

DA

65

90

95

100

11.

DJ

69

90

100

100

12.

DSU

80

85

85

100

13.

ERS

79

80

95

100

14.

EDS

71

80

60

100

15.

EAP

88

100

85

100

16.

EJY

87

100

75

100

17.

FDC

68

95

85

100

18.

FFA

70

100

75

100

19.

GSW

75

100

95

100

20.

GS

65

95

60

100

21.

HFYF

90

90

80

100

22.

IRF

94

100

95

100

23.

IGR

76

85

85

100

24.

JHF

75

90

100

100

25.

KIP

79

100

75

100

26.

MRI

89

100

80

100

27.

MMS

76

100

80

100

28

MAFR

74

85

80

100

29.

MI

79

90

90

95

30.

MKB

85

95

85

100

31.

ND

78

85

75

90

32.

RSA

88

100

85

100

33.

RI

75

80

75

90

34.

RB

78

85

85

100

35.

RH

92

100

100

100

36.

SAF

86

90

90

95

37.

SM

80

85

100

100

38.

SA

75

80

60

100

39.

STN

68

80

75

90

40.

SN

65

80

75

100

RATA-RATA

77,28

87

82,5

98,5

 

D. Hasil Penelitian

Berdasarkan analisis angket  siswa dan observer diketahui bahwa:

Pada siklus I dari kedua jenis angket tersebut diketahui bahwa masih ada siswa yang belum bisa bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya. Sementara, pada siklus II kekurangan ini sudah dapat diatasi.

Dari hasil analisis hasil belajar diketahui bahwa:

Pembelajaran menggunakan permainan kubus frase dengan teknik cooperatif learning kepala bernomor berstruktur efektif meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan hasil belajar siswa yang semula  (prasiklus) hanya mencapai rata-rata 70,60 dengan jumlah siswa yang belum mengalami ketuntasan yaitu sebanyak 23 orang atau 57,5% (data terlampir), pada siklus I mengalami peningkatan nilai rata-rata menjadi 77,28 (untuk nilai individu) dan  82,5 untuk nilai kelompok hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan kubus frase mengalami peningkatan sebesar 16,7%.

Memang pada siklus I masih ada nilai kelompok dan nilai individu yang berada di bawah KKM (71) yaitu sebesar 17,5% (7orang siswa) untuk nilai individu, 10% (1 kelompok) untuk nilai kelompok dan. Namun, pada siklus II baik nilai kelompok maupun nilai individu mengalami peningkatan sebesar 12,58% (untul nilai individu) dan 19,4% (untuk nilai kelompok)

.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

 

A. Simpulan


1.  Penggunaan media permainan kubus frase dapat menarik minat siswa untuk belajar menulis.

2. Penggunaan metode cooperatif learning dengan teknik structured head numbered efektif meningkatkan kemampuan hasil  belajar siswa yang berarti meningkatnya kemampuan nenulis siswa.

3.  Siswa merasa senang dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media permainan kubus frase dengan metode cooperatif learning teknik structured head numbered.

4.  Siswa merasa lebih mudah memahami frase dan mampu menulis dengan kalimat yang bervariasi.

5.   Dengan kemudahan yang diberikan oleh media permainan kubus frase dan metode cooperatif learning dengan teknik structured head numbered pada saat pembelajaran, siswa menjadi suka terhadap pelajaran menulis.

B. Saran

1. Guru di kelas hendaknya lebih kreatif dalam menggunakan media pembelajaran agar siswa tertarik dan selalu bersemangat mengikuti pembelajaran menulis.

2. Guru di kelas hendaknya mau mencoba menggunakan metode cooperatif learning teknik structured head numbered karena metode ini selain dapat mengefektifkan waktu juga dapat menumbuhkan sikap kebersamaan pada siswa yaitu maju secara bersama-sama secara bertanggung jawab bukan persaingan yang saling menjatuhkan.

3.  Guru di kelas hendaknya mampu menciptakan suasana yang menyenangkan dalam pembelajaran menulis dengan mencoba variasi baru yang dapat menampung gaya belajar siswa.

4.   Guru hendaknya tak henti-hentinya memotivasi dan memberikan contoh pada siswa agar dapat menyukai dan mencoba untuk menulis.

5.   Guru mau mencoba permainan kubus frase ini dalam pembelajaran untuk menarik minat siswa dalam pelajaran menulis.

DAFTAR PUSTAKA

 

Adi, Wicaksono. 2009. Tip & Trik Jago Main Rubik.Yogyakarta: Gradien             Mediatama.

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi

Aksara.

De Porter, Bobbi & Mike Hernacki.1999.  Quantum Learning. Bandung: Kaifa.

Depdikbud. 1992. Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: Perum Balai Pustaka.

Depdiknas. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikdasmen Ditendik.

Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

______. 2008. Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia-Sinonim, Antonim, hiponim,   Meronim. Jakarta: Pusat Bahasa.

Lyon, John. 1996. Linguistik Semantic.Cambridge: The University Press.

Keraf, Gorys. 1980. Tata Bahasa Indonesia untuk Sekolah Lanjutan Atas. Ende Flores: Nusa Indah.

_____ . 2006. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.

Kosasih,E. 2002. Kompetensi Kebahasaan untuk SMA-Cermat Berbahasa Indonesia. Bandung: Yrama Widya.

Kridalaksana, Harimurti. 2009. Pembentukan Kata Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Lie, Lie, Anita. 2002.  Cooperatif Learning, Jakarta: Grasindo.

Nurani, Yuliani, dkk. 2003.  Strategi Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sinduwiryi, Sudarno. 1994. Bang Amat Karyawan Bank Indonesia-Bercanda dengan Bahasa.Jakarta: Arikha Media Cipta.

Suhardjono. 2006.  Kumpulan Tulisan Mengenai Penelitian Tindakan Kelas.   Jakarta:Bumi Akasara.

Thornborrow, Joanna and Shan Wareng. 1998. Pattern in Language.London:Routledge.

Verhaar, J.W.M. 2001. Asas-asas Lingistik Umum. Yogyakarta:GadjahMadaUniversity Press.

Wardani, IGAK dan Kuswaya Wihardit. 2007. Buku Materi Pokok Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.

Satu Tanggapan

  1. saya suka blog ini,menambah pengetahuan tentang cara mudah memahami sastra indonesia.blog ini harus di baca tidak cuma bagi siswa saja tapi mahasiswa juga perlu mengetahuinya…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: