MEDIA YANG BERVARIASI DALAM TEKNIK DUA TAMU, DUA TINGGAL EFEKTIF UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN APRESIASI SASTRA SISWA

ABSTRAK

 

Vedia, S.Pd.  :  Media yang Bervariasi dalam Teknik Dua Tamu, Dua Tinggal Efektif untuk Meningkatkan Kemampuan Apresiasi Sastra Siswa

Penelitian Tindakan Kelas dalam Pembelajaran Cerpen “Purnama yang   Tak Kunjung Hadir” Karya Ve di Kelas X1 SMA Negeri 5 Tangerang

 

            Penyusunan karya tulis ini bertujuan untuk menciptakan suatu pembelajaran sastra yang efektif untuk meningkatkan kemampuan apresiasi sastra siswa. Selain itu penyusunan karya tulis ini juga bertujuan untuk menciptakan  cara belajar yang menyenangkan bagi siswa. Diharapkan dengan kondisi yang menyenangkan siswa dapat lebih mudah mempelajari karya sastra dalam hal ini cerpen yang selanjutnya dengan rasa senang itu tumbuh rasa cinta terhadap karya sastra.

Karya tulis  ini  dibuat karena didorong oleh kenyataan; pertama, seringkali guru bahasa Indonesia mengalami kesulitan dalam pembelajaran sastra dan unsur-unsurnya..Kedua, seringkali guru bahasa Indonesia mengalami kesulitan dalam menumbuhkan kemampuan apresiasi sastra, hal ini dikarenakan media dan metode yang digunakan kurang bervariasi sehingga siswa merasa pelajaran sastra adalah pelajaran yang membosankan. Ketiga, guru kurang bisa mengkonkritkan karya sastra  yang dihadapan siswa seperti sesuatu yang abstrak padahal sebenarnya karya sastra itu sendiri merupakan hasil perenungan terhadap kehidupan sehingga seharusnya guru bisa mengadakan upaya yang dapat mendekatkan siswa kepada karya sastra tersebut.

Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa dengan menggunakan media yang bervariasi dalam teknik Dua Tamu, Dua Tinggal sebagai salah satu metode cooperatif  learning, kemampuan apresiasi sastra (cerpen) siswa meningkat secara efektif.

            Melalui penelitian tindakan kelas ini penulis berharap dapat menghasilkan sebuah karya tulis yang bermanfaat bagi guru atau calon guru guna meningkatkan pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya pembelajaran sastra dalam hal ini cerpen.

 

Baca selebihnya »

Benarkah Anda Sudah Mengenal Bahasa Indonesia?

Anda merasa sudah mengenal bahasa Indonesia. Begitu juga kebanyakan orang Indonesia sudah mengenal bahasa Indonesia. Namun, kebanyakan orang Indonesia berbahasa Indonesia tidak secara baik dan benar. Ini terbukti masih banyak orang Indonesia yang lebih bangga menggunakan bahasa asing saat ia sedang berbahasa Indonesia. Padahal bahasa Indonesia memiliki keistimewaan yang belum tentu dimiliki bahasa lainnya.
Berikut beberapa hal mengenai bahasa Indonesia yang perlu Anda kenali lebih jauh:
Pertama, satu fonem dalam bahasa Indonesia hanya melambangkan satu bunyi, kecuali kh, sy, ng, e, dan e’. Jadi a dalam bahasa Indonesia di mana pun letaknya dalam sebuah kata maka tetap berbunyi a (bandingkan pengucapan a pada kata-kata bahasa Inggris berikut: make, cat, an aplle, ). Kedua, bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan kata karena waktu, jadi kata menulis pada saat ini, kemarin, dan akan datang adalah sama yaitu menulis (dalam bahasa Inggris ada 16 tenses untuk membedakan waktu sehingga untuk kata menulis bisa ada 3 kata kerja yaitu write, wrote, dan writen). Ketiga, bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan kata karena jumlah penggunanya, jadi baik tunggal maupun jamak kata buku tetap buku (dalam bahasa Inggris book untuk tunggal, books untuk jamak). Keempat, bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan bentuk kata karena perbedaan jenis kelamin pengguna bahasa tersebut kata dia dalam bahasa Indonesia digunakan sama baik untuk laki-laki maupun perempuan (dalam bahasa Inggris ada she untuk dia perempuan, he untuk dia laki-laki).
Dengan membaca tulisan saya di atas, mudah-mudahan Anda jadi lebih kenal, lebih sayang, dan lebih cinta akan bahasa Indonesia yang hebat ini. Kita tinggal tunggu saja, jika bangsa ini maju pasti bahasa Indonesia akan dengan segera mendunia. Atau mungkin bangsa ini akan maju jika bahasa Indonesia telah mendunia? Jika selama ini kita sering mendengar “Bahasa menunjukkan bangsa” mengapa tidak kita buat “Bahasa memajukan bangsa”?

PENGGUNAAN PERMAINAN KUBUS FRASE DENGAN TEKNIK STRUCTURED HEAD NUMBERED EFEKTIF MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS SISWA KELAS X UPTD SMA NEGERI 5 TANGERANG

Oleh: Vedia, M.Pd.

BAB  I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Proses belajar mengajar dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan. Hal ini menjadi paradigma dunia pendidikan yang tiada akan pernah berhenti. Pada hakikatnya paradigma itu sendiri merupakan petunjuk suatu teori, perspektif kerangka berpikir yang menentukan bagaimana seseorang memandang aspek-aspek kehidupan. Paradigma dunia pendidikan merupakan petunjuk bagaimana pendidikan sebagai suatu proses berjalan.

Bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia yaitu sebagai alat komunikasi. “Penelitian membuktikan bahwa 75% waktu bangun kita dalam berada dalam kegiatan komunikasi”, demikian disampaikan oleh  Jalaludin Rakhmat (1992: 2). Begitu pentingnya peranan bahasa dalam berkomunikasi, sehingga dapat dikatakan  komunikasi tidak akan berlangsung dengan baik tanpa adanya bahasa.

Sifat bahasa itu sendiri pun sangat universal, untuk itulah pembelajaran bahasa diharapkan dapat berintegrasi dengan mata pelajaran ataupun sisi kehidupan yang lain, tak terkecuali pembelajaran bahasaIndonesia.

Empat keterampilan berbahasa yang dimulai dari proses menyimak kemudian berbicara, membaca, dan akhirnya menulis mempunyai hubungan saling terkait yang sangat erat. Seseorang yang pintar secara akademis namun tidak dapat berbicara, kepintarannya akan sulit diketahui oleh orang lain, ia akan mengalami kesulitan dalam menyampaikan ide-idenya. Orang yang pandai berbicara, namun malas melakukan proses mendengar (lewat diskusi, seminar atau  mendengar siaran berita) dan membaca, ia akan berbicara dengan isi pembicaraan yang tidak berbobot, karena pengetahuannya yang dangkal. Orang seperti ini cocok dengan pribahasa tong kosong nyaring bunyinya. Orang yang pintar berbicara dengan pengetahuan yang luas, karena rajin mendengar dan membaca kepintarannya itupun tidak akan berarti dalam ruang lingkup yang lebih besar bila ia tidak pandai menuangkan ide-idenya dalam bentuk tulisan.

Baca selebihnya »

PIKIRAN MUDA PENGARANG MUDA MENGENAI BUDAYA DALAM NOVEL PERJALANAN PENGANTEN

(Suatu Letupan Kecerdasan Quantum Seorang Ajip Rosidi)

Oleh: Vedia, M.Pd.

 

          Dalam dunia sastra Ajip Rosidi merupakan salah seorang yang kiprahnya tidak dapat diabaikan begitu saja. Bukan hanya karena ia memulai ”debutnya” dalam bersastra dari usianya yang masih sangat muda melainkan juga karena karya-karyanya yang begitu banyak, berkualitas dan dapat memperkaya khasanah sastra Indonesia.

Lahir di Jatiwangi, tanggal 31 Januari 1938. Ia merupakan sosok yang begitu mencintai tanah kelahirannya. Seperti halnya orang yang mencintai tanah kelahirannya ia akan berusaha membanggakan dan memperkenalkan apa dan bagaimana keadaan daerahnya, Ajip Rosidi pun demikian. Namun, berbeda dengan orang yang bukan pengarang yang hanya bisa bercerita secara lisan tentang kecintaannya pada tanah kelahiran, seorang pengarang dapat melukiskan kecintaannya pada tanah kelahirannya dengan menggunakan goresan tinta di atas kertas. Tidak heran pula bila ternyata bagi sebagian besar pengarang, tanah kelahiran merupakan objek yang menarik untuk dijadikan bahan cerita yang meliputi keindahan alam, seluk-beluk, hiruk-pikuk kehidupan daerah. Kecintaan Ajip Rosidi pada tanah kelahirannya  ditumpahkan salah satunya lewat novel ”Perjalanan Penganten”.

Seperti halnya NH. Dini dengan karyanya ”Pada Sebuah Kapal”  ada kemiripan antara apa yang dialami tokoh utama (Sri) dengan kehidupan pribadi pengarangnya. Dalam novel ini Ajip pun demikian ada kemiripan antara kehidupan tokoh utama dengan kehidupan nyata Ajip sebagai seorang pengarang. Dalam novel ”Perjalanan Penganten” Ajip mengisahkan tokoh aku adalah seorang pengarang yang menikah pada usia muda hal ini pun mirip dengan kisah kehidupannya sendiri yang menikah dalam usia muda.

Pada saat perkawinan itu tokoh aku merasa ”geli” sendiri melihat diri dan calon istrinya menggunakan pakaian penganten. Kegelian itu timbul karena tokoh aku merasa aneh dan tidak terbiasa dengan dandanan penganten.

Ketika lewat di depan lemari kaca tiba-tiba aku tertawa melihat rupaku yang sangat menggelikan. Seperti yang lagi main sandiwara. (hlm.15)

 

Baca selebihnya »

KOSA KATA UNIK DAN MENARIK DALAM BAHASA INDONESIA

oleh: Vedia, M.Pd.

 

Pengantar

            Keinginan menulis buku sebenarnya sudah ada sejak lama seiring keinginan meneliti (paling tidak mengamati) hal mengenai bahasa. Namun, keinginan itu baru berani saya wujudkan karena selama ini merasa menulis buku adalah suatu hal yang sangat istimewa yang berarti juga membutuhkan kemampuan yang istimewa juga.

Untuk mewujudkan keinginan menulis ini maka penulis mengajak diskusi para ahli bahasa lewat buku-buku mereka karena memang sulit untuk bertemu mereka. Hal ini bukan karena mereka tidak mau tetapi penulis sendiri bingung kapan dan di mana penulis bisa menemukan mereka untuk berdiskusi secara langsung sambil duduk-duduk santai di bawah pohon rindang atau di café sambil menikmati secangkir kopi.

Dari buku-buku yang diajak diskusi (kalau tidak ada yang terlewat) mulai dari buku fonetik, morfologi, semantik, sintaktik, sampai buku psikolingistik belum ada yang menjelaskan tentang hal yang penulis amati ini. Apakah karena terlalu sepele atau memang belum menarik perhatian?

Bermula ketika penulis sedang mengantar anak ke sekolah. Saat itu hari hujan, di otak penulis tiba-tiba berkumpul kata-kata basah, becek, banjir. Selanjutnya, datang lagi kata lembab dan sembab. Penulis berpikir ”kok kebetulan sekali ya” kata-kata ini memiliki makna yang saling berkaitan yaitu sama-sama mengandung air dan kebetulan juga mengandung unsur fonem yang sama yaitu b. Sambil terus berpikir bermunculan kata-kata dengan kasus serupa misalnya air, cair, alir, dan encer. Kata ini ini juga saling berkaitan makna sama-sama mengadung unsur air dan sama-sama mengandung fonem yang sama pula yaitu a, i, r    (pada kata encer hanya terdapat saru fonem yang sama yaitu r). Apakah ini kebetulan juga?

Penulis coba mencari hal serupa dalam bahasa Inggris, namun penulis hanya bisa menemukan kata small dan litle yang memiliki kasus serupa. Perbandingan ini penulis lakukan karena kalau dalam bahasa lain juga memiliki hal serupa berarti memang itulah sifat bahasa secara universal. Namun, jika dalam bahasa Indonesia hal ini sangat dominan tentunya ini akan menjadi ciri khas sendiri bagi bahasa Indonesia yang unik dan menarik.

Hal yang menarik bagi penulis untuk terus dan terus mencari kata-kata yang serupa kasusnya adalah karena kata-kata tersebut bukan merupakan kata turunan, bukan hasil dari derivasi, dan bukan pula polisemi walaupun maknanya saling berkaitan. Sebagian dari kata-kata tersebut ada bersinonim ada pula yang berkolokasi. Namun, yang menjadi perhatian utama bukan pada keterkaitan maknanya melainkan pada kesamaan unsur fonem pada tiap kata tersebut.

Mudah-mudahan buku ini dapat menjadi bahan pengayaan kosa kata bagi siswa SMA serta tidak menutup kemungkinan bagi siswa pada jenjang di bawah ataupun di atasnya. Bagi guru bahasa Indonesia, buku ini dapat dijadikan panduan bagi pembelajaran diksi. Lewat buku ini penulis berharap masyarakat Indonesia semakin cinta dan bangga terhadap bahasa Indonesia.

Terimakasih pada Allat SWT yang telah memberi pengetahuan ini. Terima kasih pada Entis Sutisna suami tercinta dan Usamah Dien Baqir ananda tersayang yang telah bersemangat menyumbangkan beberapa kata yang dijadikan data dalam buku ini.

BAB I

PENDAHULUAN


A. Landasan Pemikiran

 

Bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia yaitu sebagai alat komunikasi. “Penelitian membuktikan bahwa 75% waktu bangun kita dalam berada dalam kegiatan komunikasi”, demikian disampaikan oleh  Jalaludin Rakhmat (1992: 2). Begitu pentingnya peranan bahasa dalam berkomunikasi, sehingga dapat dikatakan  komunikasi tidak akan berlangsung dengan baik tanpa adanya bahasa.

Bahasa memiliki sistem yang universal dan bersifat dinamis. Dengan keuniversalannya suatu bahasa dengan bahasa lainnya di belahan dunia mana pun memiliki proses yang sama bagaimana bahasa itu bisa dihasilkan dan dipahami oleh manusia. Dengan kedinamisannya bahasa selalu berkembang dari masa ke masa membentuk suatu paradigma bahasa.

Unsur yang ada dalam bahasa yakni huruf, kata, kalimat, paragraf, dan wacana serta keilmuan bahasa yang meliputi fonologi, morfologi, dan sintaksis senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan yang membawa pada suatu paradigma bahasa yang universal.

Sebagai keilmuan, terjadinya paradigma bahasa adalah hal yang yang wajar. Hal ini dikarenakan sesungguhnya paradigma itu sendiri merupakan petunjuk teori yang membentuk kerangka berpikir bagaimana manusia memandang aspek-aspek  kehidupan dalam hal ini tentunya aspek kebahasaan.

Baca selebihnya »

DUA SISI EMANSIPASI WANITA DALAM NOVEL PADA SEBUAH KAPAL

Oleh: Vedia

 

 

 

1. Pendahuluan

Karya sastra secara umum sebenarnya merupakan gambaran kehidupan   nyata. Hal ini karena terciptanya suatu karya tidak lain adalah hasil dari penghayatan penulis terhadap suatu kehidupan. Untuk itu tidak berlebihan bila dikatakan bahwa sastra terutama dalam hal ini novel merupakan kehidupan yang dikisahkan lewat media tulis.

Dr. Effendi seorang pengamat sastra juga dosen di Pascasarjana UNJ mengatakan bahwa sebuah karya sasra diciptakan melalui proses kreatif yaitu imajinasi dan kontemplasi sastrawan terhadap pengalaman yang didapatnya dari kehidupan (alam). Dan segala yang didapat oleh sastrawan melalui proses kreatif itu dituangkan ke dalam bahasa. Hal ini sesuai dengan pendapat yang mengatakan “Dalam peristiwa sastra, pengalaman itu diungkapkan dengan bahasa”(Sumardono dan Saini, 1994). Tidak salah juga apabila Faruk dalam bukunya “Sosiologi Sastra” (1994) mengambil pendapat Goldmann yang melibatkan fakta kemanusiaan dalam proses terciptanya karya sastra.

Pada Sebuah Kapal (PSK) merupakan novel karya seorang perempuan yang isinya menceritakan kehidupan seorang perempuan sehingga sangat wajar apabila kita mencoba melihat novel ini sebagai suatu refleksi dari feminisme sastra di Indonesia. NH. Dini pengarang wanita kelahiran Semarang 29 Pebruari 1936 yang oleh Soenardjati Djajanegara dalam tulisannya yang berjudul “Dari Marginalisasi ke: Masalah Perkembangan Penulis Wanita di Amerika” dikategorikan sebagai salah satu wanita Indonesia yang merupakan pelopor lahirnya feminis sastra  di Indonesia (Wahyudi, 2004).

Feminisme adalah paham feminis. Feminis itu sendiri berasal dari kata femme (woman), berarti perempuan (tunggal) yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak perempuan (jamak), sebagai kelas sosial (Ratna, 2004). Jadi feminisme adalah paham yang memperjuangkan masalah-masalah keperempuanan mulai dari keinginan untuk diakui kedudukannya yang tidak hanya sebagai objek melulu sampai pada persamaan hak dan derajat sebagai manusia.

Baca selebihnya »

DIANTARA DUA HARAPAN

Karya: Vedia

 

 

       Ratna masih bisa tersenyum ketika menerima SK pengangkatannya sebagai CPNS. Meski sama-sama ditempatkan di kabupaten Lebak jelas Ratna lebih beruntung dari Nining yang ditempatkan di sekolah yang terpelosok bahkan nama daerahnya saja tidak ada di peta!

Kenyataannya Ratna menangis ketika pertama kalinya datang ke SLTP Cireunteun Kab. Lebak. Apalagi saat di tengah perjalanan yang kiri kanannya masih hutan, jalannya pun naik-turun, berkelok-kelok, dan berlubang ia membaca tulisan “Kawasan Baduy”  . Tak ayal lagi mobil ELF yang bau solarnya sangat menyengat hidung selama di perjalanan membuat  tubuh Ratna yang kecil mungil dan duduk sendirian itu terbanting ke kiri ke kanan, ke atas lalu terhenyak, sehingga perutnya terasa sakit.

Abdi ti Bandung nganteurkeun si bungsu bade ngawulang di dieu,” (saya dari Bandung mengantar anak bungsu yang mau mengajar di sini)  kata seorang bapak tua kepada kepala sekolah  induk tempat Ratna akan bertugas.

       “Aku juga anak bungsu, perempuan lagi, dari tempat yang jauh juga, tapi aku tidak diantar….uh sebel!” bisik Ratna dalam hati. Memang orang tua Ratna tidak bisa mengantar karena mereka sedang menunaikan ibadah haji. Keberanian Ratna untuk pergi ke tempat terpencil ini pun karena ingat pesan orang tuanya.

Di mana pun kamu ditempatkan kamu harus bersyukur,” kata mama.

Sedikit sekali orang yang memiliki nasib sebaik kamu, baru lulus kuliah  lalu ikut  tes PNS langsung dapat tanpa harus mengeluarkan uang,”tambah mama lagi.

Iya, lagi pula suatu saat kamu  bisa mutasi,” kata papa menenangkan.

Baca selebihnya »

PENGGUNAAN MEDIA TABEL RELASI KONJUNGSI DENGAN METODE 7 P EFEKTIF MENINGKATKAN KEBERHASILAN BELAJAR MENULIS SISWA KELAS XII SMA NEGERI 5 TANGERANG

Suatu Penelitian Tindakan Kelas dalam

Pemelajaran Konjungsi, kalimat Majemuk, dan

Paragraf -Secara Terintegrasi- di Kelas         

XII SMA Negeri 5 Tangerang

oleh

VEDIA, M.Pd.

ABSTRAK

Vedia, S.Pd. : Penggunaan Media Tabel Relasi Konjungsi dengan Metode 7 P Efektif Meningkatkan Keberhasilan Belajar Menulis Siswa Kelas XII SMA Negeri 5 Tangerang  (Suatu Penelitian Tindakan Kelas dalam  Pemelajaran  Konjungsi, Kalimat Majemuk, dan Paragraf -Secara Terintegrasi-  d i Kelas  XII  SMA  Negeri   5 Tangerang)

Penyusunan karya tulis ini bertujuan untuk menciptakan pemelajaran menulis yang efektif dan menyenangkan, khususnya pemelajaran mengenai konjungsi, kalimat majemuk dan pengembangan paragraf. Pada penelitian ini antara pemelajaran konjungsi, kalimat majemuk, dan pola pengembangan paragraf diintegrasikan dalam suatu tabel yang diberi nama “Tabel Relasi Konjungsi”.

Karya tulis ini dibuat karena didorong oleh adanya kenyataan bahwa seorang guru seringkali mengalami kesulitan untuk memberikan pengertian kepada siswanya yang terlanjur pula berada dalam kesulitan pada pemelajaran menulis. Kesulitan siswa terletak pada kesulitan memahami keterhubungan antara konjungsi yang digunakan dalam kalimat dengan pembentukan kalimat majemuk dan pengembangan paragraf.  Padahal kunci pemelajaran kalimat majemuk dan pengembangan paragraf (pola perbandingan, pertentangan, sebab-akibat, akibat sebab) adalah konjungsi yang digunakan.

Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa penggunaan media Tabel Relasi Konjungsi dengan metode seven P (7-P) ini, pemelajaran menulis menjadi sangat menarik, menyenangkan, dan efektif. Dengan cara ini siswa menjadi lebih mudah memahami dan mampu membuat kalimat majemuk dan mengembangkan paragraf.

Melalui penelitian tindakan kelas ini penulis berharap dapat menghasilkan sebuah karya tulis yang bermanfaat bagi guru atau calon guru, guna meningkatkan pemelajaran bahasa Indonesia, khususnya keterampilan menulis.

Baca selebihnya »

PURNAMA YANG TAK KUNJUNG HADIR

Karya: Vedia, M.Pd.

Aku memandang ke langit bulan bersinar terang paling tidak bagi orang lain yang memandangnya, namun tidak bagiku! Bagiku bulan separuh itu seperti sepenggal hatiku yang tak pernah bisa lagi melihat dengan jelas bagaimana warna cerah itu. Bahkan seumur hidupku rasanya aku  hampir tak pernah bisa merasakan keindahan warna kehidupan. Kutukan! Ya kutukan, aku selalu berpikir bahwa selama ini mungkin aku terkena kutukan atau yang semacamnya. Namun, yang tak pernah kumengerti mengapa aku terkutuk? Apa salah dan dosaku? Lantas mengapa Tuhan menciptakan aku? Apakah benar Ia menciptakan mahluknya sengaja untuk dikutuk?

*****

            Memey tak pernah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Semakin dipikirkan, semakin banyak pertanyaan lain bermunculan yang tak pernah ia bisa temukan jawabannya. Gadis kecil bermata sipit itupun tersenyum getir. Ah masih bagus tersenyum getir biasanya malah ia hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Di usianya yang menjelang 13 tahun ini, semua, semua kenangan yang hampir seluruhnya pahit melintas lagi dalam benaknya. Mungkin saat yang indah yang pernah ia rasakan hanyalah ketika ia masih bayi sehingga ia tak pernah mengingatnya lagi, namun ia berusaha membayangkan lewat cerita neneknya yang mengatakan bahwa saat itu orang tuanya sangat bangga mempunyai bayi mungil perempuan yang amat molek rupanya. Pada saat itu ibunya  merasa doanya memohon keturunan pada  Dewa Hwa Kong Hwa Bu telah dikabulkan.

Saat itu kehidupan belum terlalu susah meskipun orang tuanya hanya berpenghasilan dari jualan mie ayam keliling. Kehidupan semakin berat disaat Memey mempunyai adik lagi, dalam usia lima tahun ia mempunyai 3 orang adik laki-laki. Semua adik-adiknya bermata sipit juga karena memang kedua orang tuanya juga sipit dan berkulit kuning kecoklatan dan kemerahan. Ia juga heran di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas berbahasa sunda dan berkulit sawo matang mengapa ia terlahir dengan kondisi seperti itu. Ia juga heran ketika ia sedang bermain dengan boneka bututnya di depan rumahnya ada anak-anak SD berlari-lari tertawa-tawa sambil meneriakkan Cina Benteng! Cina Benteng! Saat itu ia hanya bengong saja tak mengerti mengapa anak-anak itu demikian girangnya menertawai dirinya sambil meneriakkan Cina Benteng.

Tak seperti kebanyakan anak yang serupa dengan dirinya (bermata sipit  hanya mungkin kulit mereka lebih bersih sehingga yang tampak bukan kuning kecoklatan dan kemerahan melainkan putih kekuningan dan kemerahan), ia dimasukkan ke sekolah negeri yang kebanyakkan siswanya berkulit sawo matang. Ketiga adiknya pun mengalami hal yang sama. Ia tak pernah menuntut atau mempertanyakan mengapa ia di sekolahkan di sekolah negeri tidak di sekolah swasta yang kebanyakan siswanya mempunyai rupa mirip dengannya. Walaupun usianya masih belia ia paham bahwa pastilah  masalah uang yang menjadi penyebabnya. Itu dapat ia rasakan karena anak-anak yang sekolah di sekolah swasta itu terlihat lebih bersih, lebih rapi dalam berpakaian dan kebayakan dari mereka berangkat ke sekolah dengan diantar naik mobil. Sementara teman-temannya di sekolah negeri kebanyakan dekil-dekil, kadang-kadang diantara mereka ada yang berseragam tidak lengkap atau ke sekolah hanya menggunakan sandal japit.

Biaya sekolah Memey tersendat-sendat, sering ia dipanggil oleh guru atau bahkan kepala sekolah hanya karena ia belum membayar SPP. Ia sudah menceritakan bagaimana kehidupan orang tuanya, bahkan orang tuanya sendiri pun kerap menyampaikan langsung bagaimana kondisi keuangan keluarga mereka. Namun, pihak sekolah seperti tidak percaya atau mungkin memang tidak mengerti kesusahan mereka. Yang lebih menyedihkannya lagi ketika ada beasiswa yang diberikan tiap bulan Mei tepatnya pada hari pendidikan nasional, ia tidak pernah mendapatkan beasiswa tersebut padahal ia selalu ranking pertama di kelasnya. Pihak sekolah tidak pernah memberikan jawaban yang pasti setiap kali orang tua Memey mempertanyakan mengapa anaknya tidak pernah diberi beasiswa padahal anaknya berprestasi dan tidak mampu pula. Guru maupun kepala sekolah beranggapan bahwa ada orang yang lebih tepat mendapatkan bantuan, sementara Memey tidak tepat atau tidak patut mendapat bantuan dalam bentuk apapun!

Padahal Memey sering berharap satu kali saja dalam tiap tahunnya ia mendapatkan kebahagian tepatnya di bulan Mei pada saat ia berulang tahun. Namun, harapan tinggal harapan ia tak pernah menerima kado istimewa bahkan kado yang paling sederhana sekalipun setiap ia berulang tahun. Orang tuanya bahkan mungkin lupa bahwa tanggal 30 bulan Mei adalah hari ulang tahunnya. Tak ada kado atau cerita yang menghibur saat ia berulang tahun, sebaliknya ia selalu punya kenangan  pilu di bulan Mei yang tak pernah ia lupakan. Dan ia mulai mengingat semua kejadian itu sejak bulan Mei ketika ia berulang tahun yang ke-9.

Baca selebihnya »

SAMAN SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN SEX DAN ATAU MEDIA ONANI

Oleh: Vedia, M.Pd.

 

Karya sastra sarat dengan makna, pesan atau amanat di dalamnya. Bahkan karena hal-hal tersebutlah suatu karya sastra dikatakan sebagai karya yang indah, jadi bukan hanya dari segi penggunaan bahasanya.Suatu karya dapat dikatakan kering apabila ia tidak memiliki makna atau amanat yang hendak disampaikan pengarangnya,sedangkan keindahan penggunaan bahasa adalah bumbu penyedap sehingga suatu karya ‘enak’ dinikmati.

Kita patut bangga karena sekarang ini banyak pengarang muda yang menghasilkan suatu karya sastra,bahkan karya mereka sudah bisa dikatakan karya sastra yang universal .Keuniversalan itu sendiri kadang-kadang terlalu dipaksakan. Banyak pengarang muda yang menganggap bahwa suatu karya sastra dapat dikatakan sebagai karya yang universal bila karyanya itu dapat diterima di dunia (lebih menunjukkan dunia barat). Padahal sesuatu yang universal tidak dapat dipaksakan dengan cara mengikuti kebiasaan atau pola hidup dunia lain selain dunianya sendiri! Karena sesuatu yang dianggap lazim di suatu negara belum tentu lazim pula di negara yang lain.

Saman, sebagai contoh hasil tulisan pengarang muda yang notabene telah mendapatkan suatu penghargaan adalah juga suatu karya yang dianggap telah memenuhi keuniversalan tadi, sehingga masuklah novel tersebut ke perpustakaan-perpustakaan sekolah yang pembacanya adalah siswa-siswi yang usianya sedang menunjukkan rasa ingin tahu dan rasa ingin mencobanya sangat tinggi. Maka dapat dimaklumkan bila pada usia ini anak akan meniru sesuatu yang dilihatnya, dibacanya, bahkan apa didengarnya untuk membuktikan kebenaran dari apa yang dilihat, dibaca maupun apa yang didengarnya tersebut.

Baca selebihnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.