oleh: Vedia, M.Pd.
Pengantar
Keinginan menulis buku sebenarnya sudah ada sejak lama seiring keinginan meneliti (paling tidak mengamati) hal mengenai bahasa. Namun, keinginan itu baru berani saya wujudkan karena selama ini merasa menulis buku adalah suatu hal yang sangat istimewa yang berarti juga membutuhkan kemampuan yang istimewa juga.
Untuk mewujudkan keinginan menulis ini maka penulis mengajak diskusi para ahli bahasa lewat buku-buku mereka karena memang sulit untuk bertemu mereka. Hal ini bukan karena mereka tidak mau tetapi penulis sendiri bingung kapan dan di mana penulis bisa menemukan mereka untuk berdiskusi secara langsung sambil duduk-duduk santai di bawah pohon rindang atau di café sambil menikmati secangkir kopi.
Dari buku-buku yang diajak diskusi (kalau tidak ada yang terlewat) mulai dari buku fonetik, morfologi, semantik, sintaktik, sampai buku psikolingistik belum ada yang menjelaskan tentang hal yang penulis amati ini. Apakah karena terlalu sepele atau memang belum menarik perhatian?
Bermula ketika penulis sedang mengantar anak ke sekolah. Saat itu hari hujan, di otak penulis tiba-tiba berkumpul kata-kata basah, becek, banjir. Selanjutnya, datang lagi kata lembab dan sembab. Penulis berpikir ”kok kebetulan sekali ya” kata-kata ini memiliki makna yang saling berkaitan yaitu sama-sama mengandung air dan kebetulan juga mengandung unsur fonem yang sama yaitu b. Sambil terus berpikir bermunculan kata-kata dengan kasus serupa misalnya air, cair, alir, dan encer. Kata ini ini juga saling berkaitan makna sama-sama mengadung unsur air dan sama-sama mengandung fonem yang sama pula yaitu a, i, r (pada kata encer hanya terdapat saru fonem yang sama yaitu r). Apakah ini kebetulan juga?
Penulis coba mencari hal serupa dalam bahasa Inggris, namun penulis hanya bisa menemukan kata small dan litle yang memiliki kasus serupa. Perbandingan ini penulis lakukan karena kalau dalam bahasa lain juga memiliki hal serupa berarti memang itulah sifat bahasa secara universal. Namun, jika dalam bahasa Indonesia hal ini sangat dominan tentunya ini akan menjadi ciri khas sendiri bagi bahasa Indonesia yang unik dan menarik.
Hal yang menarik bagi penulis untuk terus dan terus mencari kata-kata yang serupa kasusnya adalah karena kata-kata tersebut bukan merupakan kata turunan, bukan hasil dari derivasi, dan bukan pula polisemi walaupun maknanya saling berkaitan. Sebagian dari kata-kata tersebut ada bersinonim ada pula yang berkolokasi. Namun, yang menjadi perhatian utama bukan pada keterkaitan maknanya melainkan pada kesamaan unsur fonem pada tiap kata tersebut.
Mudah-mudahan buku ini dapat menjadi bahan pengayaan kosa kata bagi siswa SMA serta tidak menutup kemungkinan bagi siswa pada jenjang di bawah ataupun di atasnya. Bagi guru bahasa Indonesia, buku ini dapat dijadikan panduan bagi pembelajaran diksi. Lewat buku ini penulis berharap masyarakat Indonesia semakin cinta dan bangga terhadap bahasa Indonesia.
Terimakasih pada Allat SWT yang telah memberi pengetahuan ini. Terima kasih pada Entis Sutisna suami tercinta dan Usamah Dien Baqir ananda tersayang yang telah bersemangat menyumbangkan beberapa kata yang dijadikan data dalam buku ini.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Landasan Pemikiran
Bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia yaitu sebagai alat komunikasi. “Penelitian membuktikan bahwa 75% waktu bangun kita dalam berada dalam kegiatan komunikasi”, demikian disampaikan oleh Jalaludin Rakhmat (1992: 2). Begitu pentingnya peranan bahasa dalam berkomunikasi, sehingga dapat dikatakan komunikasi tidak akan berlangsung dengan baik tanpa adanya bahasa.
Bahasa memiliki sistem yang universal dan bersifat dinamis. Dengan keuniversalannya suatu bahasa dengan bahasa lainnya di belahan dunia mana pun memiliki proses yang sama bagaimana bahasa itu bisa dihasilkan dan dipahami oleh manusia. Dengan kedinamisannya bahasa selalu berkembang dari masa ke masa membentuk suatu paradigma bahasa.
Unsur yang ada dalam bahasa yakni huruf, kata, kalimat, paragraf, dan wacana serta keilmuan bahasa yang meliputi fonologi, morfologi, dan sintaksis senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan yang membawa pada suatu paradigma bahasa yang universal.
Sebagai keilmuan, terjadinya paradigma bahasa adalah hal yang yang wajar. Hal ini dikarenakan sesungguhnya paradigma itu sendiri merupakan petunjuk teori yang membentuk kerangka berpikir bagaimana manusia memandang aspek-aspek kehidupan dalam hal ini tentunya aspek kebahasaan.
Baca selebihnya »
Filed under: Penelitian Bahasa | 1 Komentar »